KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren risiko investasi di Indonesia masih diwarnai ketidakpastian global menjelang akhir 2026. Pergerakan credit default swap (CDS) Indonesia yang kembali naik dalam sepekan terakhir menunjukkan bahwa persepsi investor terhadap risiko Indonesia masih berfluktuasi, meski levelnya telah turun dibandingkan awal Oktober.
Berdasarkan data Bloomberg, CDS Indonesia tenor 5 tahun berada di level 92,14 basis poin (bps) pada Rabu (14/10/2026), naik 0,17 bps dibandingkan posisi sepekan sebelumnya sebesar 91,97 bps. Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan posisi 94,77 bps pada 5 Oktober 2026.
Sementara itu, CDS tenor 10 tahun tercatat sebesar 141,79 bps, naik 0,29 bps dari 141,499 bps sepekan sebelumnya. Kendati demikian, level tersebut masih lebih rendah dibandingkan posisi 144,33 bps pada 5 Oktober 2026.
Goto Gojek (GOTO) Batalkan Penghapusan 32 Miliar Saham Tresuri, Begini Dampaknya
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, CDS Indonesia dipengaruhi oleh harga minyak yang bertahan tinggi, inflasi September sebesar 3,28%, serta imbal hasil obligasi negara maju yang masih tinggi. Ketika tekanan tersebut mulai mereda, permintaan investor terhadap proteksi risiko gagal bayar Indonesia ikut berkurang.
Dari dalam negeri, aktivitas manufaktur yang kembali berada di zona ekspansi dan komitmen pemerintah menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) turut membantu menahan kenaikan premi risiko. Stabilitas imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) pada beberapa tenor pendek dan menengah juga mendukung pergerakan CDS.
Meski begitu, Yusuf menyebut kondisi pasar masih rentan terhadap perubahan sentimen global. Arah kebijakan Federal Reserve, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), serta potensi gangguan pasokan minyak akibat ketegangan geopolitik dapat kembali mendorong kenaikan premi risiko dalam waktu singkat.
Di sisi lain, pergerakan CDS tidak selalu sejalan dengan nilai tukar rupiah. CDS lebih mencerminkan persepsi pasar terhadap kemampuan pemerintah memenuhi kewajiban utangnya, sedangkan rupiah turut dipengaruhi arus modal jangka pendek, selisih suku bunga, kekuatan dolar AS, dan kebutuhan devisa untuk membiayai impor.
“Artinya, investor dapat melihat risiko gagal bayar Indonesia tetap rendah tanpa harus meningkatkan kepemilikan aset rupiah,” jelas Yusuf.
Penguatan Saham MAPI Ditopang Fundamental, Cermati Rekomendasi Analis
Ia menambahkan, harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa sekaligus menambah beban subsidi pemerintah. Kondisi tersebut dapat membatasi ruang penguatan rupiah, meskipun persepsi investor terhadap risiko kredit pemerintah membaik.
Menjelang akhir 2026, Yusuf memperkirakan CDS Indonesia tenor 5 tahun bergerak pada kisaran 85 bps–95 bps. Sementara itu, CDS tenor 10 tahun diproyeksikan berada di rentang 130 bps–145 bps.
“Jika tekanan global mereda dan arus modal portofolio kembali masuk secara konsisten, CDS masih memiliki ruang untuk turun,” kata Yusuf.
Sebaliknya, pelemahan rupiah yang lebih dalam, penurunan cadangan devisa, atau memburuknya kondisi transaksi berjalan dan fiskal dapat kembali memperlebar premi risiko. Dengan demikian, arah CDS hingga akhir tahun masih akan bergantung pada keseimbangan antara ketahanan ekonomi domestik dan tekanan dari pasar global.




