IMF Prediksi Ekonomi Jepang Anjlok ke Peringkat 6 Dunia pada 2027

Hikma Lia

Jakarta, IDN Times – Dana Moneter Internasional (IMF) telah merilis proyeksi signifikan mengenai pergeseran lanskap ekonomi global, dengan memprediksi bahwa Jepang akan mengalami penurunan peringkat ke posisi keenam dalam daftar ekonomi terbesar dunia pada tahun 2027. Prediksi ini didasarkan pada perhitungan produk domestik bruto (PDB) nominal, sebuah indikator kunci yang mencerminkan nilai total barang dan jasa yang diproduksi suatu negara tanpa disesuaikan dengan inflasi. Laporan tersebut termuat dalam edisi Oktober 2026 dari Prospek Ekonomi Dunia, yang dipublikasikan pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Advertisements

Menurut laporan tersebut, yang juga dilansir oleh The Japan Times, Jepang diperkirakan akan menempati peringkat keempat global pada tahun 2026. Pada tahun tersebut, PDB nominal Jepang diproyeksikan mencapai 4,34 triliun dolar AS, yang setara dengan sekitar Rp77,92 kuadriliun. Namun, proyeksi untuk tahun 2027 menunjukkan adanya pergeseran dramatis. Posisi Jepang diproyeksikan akan merosot dua peringkat, lantaran dua kekuatan ekonomi lain, yaitu India dan Inggris, diantisipasi akan melampaui nilai PDB nominal Jepang.

Pergeseran ini mengindikasikan dinamika ekonomi global yang terus berubah, di mana negara-negara berkembang menunjukkan pertumbuhan yang pesat, sementara negara-negara maju menghadapi tantangan struktural. Berdasarkan laporan IMF, Inggris diperkirakan mengakhiri tahun 2026 dengan PDB nominal sebesar 4,27 triliun dolar AS, atau sekitar Rp76,66 kuadriliun, menempatkannya pada peringkat kelima. Sementara itu, India, yang menunjukkan momentum pertumbuhan yang kuat, diproyeksikan mencapai PDB nominal sebesar 4,06 triliun dolar AS, setara dengan sekitar Rp72,89 kuadriliun pada tahun yang sama. Angka-angka ini memberikan gambaran awal tentang kekuatan ekonomi yang akan saling bersaing dalam beberapa tahun mendatang.

Advertisements

Proyeksi IMF untuk tahun 2027 lebih lanjut menguraikan pergeseran peringkat tersebut. India diperkirakan akan menempati posisi keempat dengan PDB nominal yang mencapai 4,52 triliun dolar AS, sekitar Rp81,15 kuadriliun. Inggris akan menyusul di posisi kelima dengan PDB nominal 4,49 triliun dolar AS, atau sekitar Rp80,61 kuadriliun. Di sisi lain, Jepang diproyeksikan akan berada di posisi keenam, dengan PDB nominal sebesar 4,47 triliun dolar AS, yang setara dengan sekitar Rp80,25 kuadriliun. Perkiraan ini menyoroti bahwa perbedaan nilai PDB nominal antara ketiga negara tersebut akan sangat tipis, menunjukkan persaingan ekonomi yang ketat di antara mereka.

Menariknya, perkiraan mengenai Inggris yang akan menyalip Jepang ini terjadi lebih cepat dari proyeksi sebelumnya, yang mana pada awalnya diperkirakan baru akan terjadi pada tahun 2029. Hal ini menunjukkan percepatan pertumbuhan ekonomi Inggris atau perlambatan yang lebih signifikan di Jepang. Di sisi lain, prediksi sebelumnya bahwa India akan melampaui Jepang pada tahun 2025 ternyata tidak terwujud, menggarisbawahi kompleksitas dan ketidakpastian dalam memproyeksikan tren ekonomi jangka menengah. Sebelum pergeseran ini, Jepang juga telah kehilangan posisi sebagai ekonomi terbesar ketiga dunia pada tahun 2023 setelah disalip oleh Jerman. Jepang telah mempertahankan posisi tersebut selama sekitar satu dekade, menunjukkan bahwa penurunan peringkat ini bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari tren yang lebih luas dalam pergeseran kekuatan ekonomi global.

Salah satu faktor utama yang menekan posisi ekonomi Jepang adalah pelemahan nilai tukar yen terhadap dolar AS yang berkelanjutan. Pelemahan mata uang ini secara langsung mengurangi daya beli Jepang di pasar internasional, membuat impor barang dan jasa menjadi lebih mahal. Dampaknya tidak hanya terasa pada sektor korporasi yang sangat bergantung pada bahan baku impor, tetapi juga pada rumah tangga. Kenaikan biaya hidup, yang diperparah oleh nilai tukar yen yang lemah, memberikan tekanan signifikan pada daya beli masyarakat, mengurangi konsumsi domestik dan membebani anggaran keluarga. Fenomena ini menciptakan lingkaran setan di mana pelemahan yen memicu inflasi impor, yang pada gilirannya menekan perekonomian secara keseluruhan.

Selain tantangan moneter, prospek ekonomi Jepang juga dibayangi oleh masalah struktural jangka panjang. Populasi yang menua menjadi salah satu tantangan demografi paling mendesak yang dihadapi Jepang. Penurunan angka kelahiran dan peningkatan harapan hidup mengakibatkan berkurangnya tenaga kerja produktif, meningkatkan beban pada sistem jaminan sosial dan kesehatan, serta berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Bersamaan dengan itu, Jepang juga menghadapi masalah pertumbuhan ekonomi yang rendah secara konsisten selama bertahun-tahun. Kombinasi dari populasi yang menua, kurangnya inovasi yang signifikan dalam beberapa sektor, dan permintaan domestik yang stagnan, menghambat potensi pertumbuhan ekonomi negara tersebut dan menjadikannya rentan terhadap guncangan eksternal.

Di tengah tekanan ekonomi yang kompleks ini, Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan komitmen pemerintah untuk memantau pergerakan nilai tukar yen dan harga secara saksama. Pernyataan ini disampaikan pada Jumat, 9 Oktober, saat ia menjawab pertanyaan dari anggota parlemen oposisi, sebagaimana dikutip oleh Reuters. Takaichi menekankan bahwa pemerintah akan merespons situasi tersebut dengan tepat, menunjukkan kesadaran akan urgensi dan kompleksitas tantangan ekonomi yang ada. Pemantauan ketat dan respons yang cermat dianggap krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi daya beli masyarakat di tengah fluktuasi pasar global.

IMF juga memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Jepang akan melambat dari 1,2 persen pada tahun 2025 menjadi 0,7 persen pada tahun 2026. Proyeksi ini menunjukkan adanya perlambatan yang cukup signifikan dalam laju ekspansi ekonomi Jepang. Pertumbuhan tersebut diproyeksikan akan bertahan pada level yang sama, yaitu 0,7 persen, pada tahun 2027. Perlambatan ini diyakini seiring dengan meredanya dampak lonjakan harga energi global dan normalisasi kebijakan moneter oleh bank sentral. Kondisi ini mencerminkan transisi dari periode pemulihan pasca-pandemi dan guncangan harga energi menuju fase pertumbuhan yang lebih moderat, yang memerlukan penyesuaian strategi ekonomi.

Meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, IMF memperkirakan bahwa Bank Sentral Jepang (BOJ) akan terus menaikkan suku bunga secara bertahap menuju tingkat netral. Langkah ini merupakan bagian dari upaya BOJ untuk menormalkan kebijakan moneter yang telah ultra-longgar selama bertahun-tahun. Pada September 2026, BOJ telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 1,25 persen, sebuah level tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Kenaikan ini juga disertai dengan sinyal kesiapan BOJ untuk kembali memperketat kebijakan moneter lebih lanjut jika diperlukan, guna mencegah inflasi melampaui target 2 persen yang telah ditetapkan. Keputusan ini menunjukkan prioritas BOJ dalam menjaga stabilitas harga, bahkan jika itu berarti mengelola risiko terhadap pertumbuhan ekonomi yang sudah melambat.

Ketergantungan Jepang yang tinggi pada impor bahan bakar dan bahan baku menjadikannya sangat rentan terhadap dampak inflasi. Kenaikan harga energi di pasar global, dikombinasikan dengan pelemahan yen, secara langsung meningkatkan biaya produksi dan harga barang konsumsi di dalam negeri. Kondisi ini menciptakan tekanan inflasi yang signifikan, yang sulit diatasi mengingat struktur ekonomi Jepang. Namun, laporan IMF juga mencatat bahwa dukungan fiskal yang diberikan oleh pemerintah Jepang telah berperan penting dalam membantu meredam dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian pada tahun 2026. Intervensi fiskal ini memberikan bantalan bagi rumah tangga dan bisnis, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan tekanan yang ada.

Pergeseran peringkat PDB nominal ini memiliki implikasi yang luas bagi persepsi global terhadap ekonomi Jepang. Meskipun PDB nominal tidak selalu mencerminkan kekuatan ekonomi riil atau standar hidup, ia sering digunakan sebagai tolok ukur untuk mengukur ukuran dan pengaruh suatu negara di panggung ekonomi internasional. Penurunan peringkat dapat memengaruhi kepercayaan investor, daya tarik investasi asing langsung, dan posisi Jepang dalam negosiasi perdagangan global. Bagi India dan Inggris, kenaikan peringkat ini dapat memperkuat posisi mereka sebagai pemain utama dalam ekonomi global, menarik lebih banyak modal dan meningkatkan pengaruh geopolitik mereka.

Kenaikan pesat India, khususnya, menyoroti tren pertumbuhan yang kuat di negara-negara berkembang dengan populasi besar dan pasar domestik yang berkembang. Sementara itu, Inggris menunjukkan ketahanan dan kemampuan untuk beradaptasi, bahkan setelah periode ketidakpastian ekonomi. Perbandingan antara proyeksi awal dan realisasi mengenai kapan negara-negara ini akan menyalip Jepang juga menegaskan bahwa proyeksi ekonomi selalu dinamis dan dapat berubah seiring dengan perkembangan internal dan eksternal yang memengaruhi setiap negara. Faktor-faktor seperti kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, dan kondisi geopolitik global dapat secara signifikan memengaruhi lintasan ekonomi suatu negara.

Secara keseluruhan, tantangan yang dihadapi Jepang bersifat multifaset, mencakup masalah demografi, tekanan mata uang, dan ketergantungan pada impor. Respons pemerintah dan Bank Sentral Jepang (BOJ) melalui kebijakan fiskal dan moneter yang hati-hati akan menjadi krusial dalam menavigasi periode sulit ini. Meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, upaya untuk menstabilkan inflasi dan menjaga daya saing ekonomi tetap menjadi prioritas utama. Dinamika ini bukan hanya sebuah cerita tentang penurunan peringkat, tetapi juga tentang adaptasi ekonomi di tengah perubahan global yang cepat.

Advertisements

Also Read

Tags