Yield SBN Melonjak Imbas Inflasi AS, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga

Hikma Lia

Tekanan inflasi global yang terus memanas tidak hanya memicu lonjakan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) ke tingkat yang mengkhawatirkan, tetapi juga membawa dampak beruntun bagi perekonomian domestik. Kondisi ini memperbesar potensi perpanjangan rezim suku bunga tinggi di pasar keuangan Indonesia. Lonjakan inflasi di tingkat global, khususnya yang bersumber dari negara-negara maju, memberikan tekanan langsung pada instrumen surat utang negara, sehingga pasar obligasi domestik harus menyesuaikan diri dengan tren imbal hasil yang lebih tinggi demi mempertahankan daya tarik investasi di mata pemodal.

Advertisements

Menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global tersebut, Bank Indonesia (BI) diproyeksikan akan mengambil langkah antisipatif dengan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level yang tinggi untuk durasi yang lebih lama dari perkiraan awal. Bank sentral diperkirakan akan menahan kebijakan moneter ketat ini hingga menyeberang ke tahun depan. Langkah ini dinilai sangat krusial sebagai instrumen perlindungan utama guna meredam dan meminimalkan risiko pelarian modal asing (capital outflow) yang dapat mengganggu stabilitas nilai tukar serta makroekonomi nasional.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, memberikan analisis mendalam mengenai dinamika pergerakan pasar surat utang domestik saat ini. Menurut Budi, pergerakan imbal hasil SBN diperkirakan bakal tetap tertahan di level yang cukup tinggi seiring dengan melesatnya inflasi di Amerika Serikat. Tingginya angka inflasi tersebut secara langsung mempersempit ruang bagi bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), untuk memangkas suku bunga acuannya. Ketika ruang pelonggaran moneter The Fed semakin terbatas, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) cenderung bertahan melambung, yang kemudian mentransmisikan tekanan berantai ke pasar obligasi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Advertisements

Berdasarkan kalkulasi dan perhitungannya, Budi Frensidy memaparkan proyeksi spesifik mengenai pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia untuk beberapa seri acuan. Untuk instrumen Surat Berharga Negara bertenor 5 tahun, Budi memproyeksikan bahwa tingkat imbal hasil akan bergerak di kisaran 7,0% hingga 7,35% hingga akhir tahun 2026. Pergerakan imbal hasil di rentang ini mencerminkan tingginya premi risiko yang dituntut oleh investor sebagai antisipasi atas ketidakpastian ekonomi global serta dinamika likuiditas internasional yang tetap ketat.

Sementara itu, untuk instrumen SBN seri acuan bertenor 10 tahun yang menjadi barometer utama pasar obligasi tanah air, posisinya diperkirakan menanjak menuju kisaran 7,15% hingga 7,55%. Proyeksi kenaikan ini merefleksikan adanya peningkatan sebesar 20 hingga 40 basis poin (bps) apabila dibandingkan dengan posisi saat ini yang berada di level 7,17%. Peningkatan imbal hasil pada instrumen tenor panjang ini mengindikasikan bahwa para pelaku pasar mengekspektasikan tingkat suku bunga yang bertahan tinggi dalam jangka panjang.

Eskalasi risiko terhadap peningkatan imbal hasil instrumen surat utang pemerintah bahkan berpotensi memburuk apabila gejolak pasar eksternal mengalami pemburukan. Budi Frensidy mengungkapkan bahwa jika tekanan global semakin memburuk dan selisih imbal hasil (spread) antara SBN Indonesia dengan US Treasury kembali melebar, imbal hasil SBN bahkan berisiko terdorong mendongkrak mendekati level 7,8%. Angka ini menunjukkan rentannya instrumen domestik terhadap pergeseran persepsi risiko global.

Proyeksi tingginya imbal hasil obligasi negara tersebut pada dasarnya berjalan sejalan dengan kian melebarnya daya tarik yang ditawarkan oleh obligasi pemerintah Amerika Serikat. Ketika imbal hasil obligasi AS meningkat, daya pikat relatif obligasi dari negara-negara berkembang akan tergerus jika imbal hasilnya tidak menyesuaikan naik. Situasi ini memicu peningkatan risiko arus modal keluar (capital outflow), di mana investor pemilik modal asing terdorong untuk memindahkan dana investasi mereka keluar dari Indonesia menuju pasar keuangan negara maju yang menawarkan tingkat imbal hasil menarik dengan risiko yang dipersepsikan lebih rendah.

Dalam skenario kondisi pasar yang berada di bawah tekanan berat, pasar surat utang domestik berisiko mencatatkan aliran dana asing yang keluar dari negeri ini dalam jumlah yang signifikan. Berdasarkan simulasi risiko, potensi aliran dana asing yang lari ke luar negeri diperkirakan dapat mencapai angka sebesar Rp 10 triliun sampai Rp 30 triliun menjelang momen tutup tahun. Aliran modal keluar dalam skala tersebut menjadi perhatian serius karena berpotensi menekan likuiditas pasar obligasi dalam negeri.

Kendati demikian, Budi Frensidy memberikan penekanan khusus bahwa angka potensi arus modal keluar tersebut merupakan bentuk simulasi risiko terhadap skenario terburuk pasar, bukan merupakan sebuah proyeksi yang dipastikan terjadi. Di tengah potensi ancaman pelepasan aset oleh pemodal asing, tingkat permintaan dari investor domestik dinilai masih memiliki kapasitas yang cukup kuat untuk menjadi penyangga (buffer) utama. Kehadiran investor domestik ini dapat menyerap penawaran obligasi di pasar, sehingga mampu meredam guncangan arus modal keluar secara berlebihan.

Merespons tingginya kerentanan di pasar keuangan internasional serta ancaman arus modal keluar tersebut, otoritas moneter Indonesia diproyeksikan tidak akan mengambil keputusan pelonggaran moneter secara terburu-buru. Bank Indonesia diperkirakan bakal memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah sebagai pijakan utama kebijakan moneter nasional. Untuk itu, Bank Indonesia diproyeksikan akan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75% hingga akhir tahun 2026, atau bahkan memiliki opsi untuk memperpanjang penahanan suku bunga acuan tersebut sampai dengan awal tahun 2027.

Langkah penahanan BI-Rate di tingkat 5,75% ini dipandang penting demi menjaga daya saing imbal hasil investasi domestik secara riil. Dengan mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada level yang memadai, perbedaan suku bunga (interest rate differential) dengan pasar luar negeri dapat dijaga dalam batas aman, sehingga insentif bagi modal asing untuk tetap bertahan di Indonesia tetap tersedia dan risiko tekanan depresiasi pada nilai tukar rupiah dapat diminimalkan.

Di tengah kondisi pasar obligasi yang dipengaruhi oleh proyeksi imbal hasil SBN 10 tahun di kisaran 7,2%, para manajer investasi dan pemodal turut mencermati penyesuaian strategi investasi pada instrumen reksadana obligasi. Pergerakan imbal hasil yang tinggi umumnya membawa dampak penyesuaian harga pada portofolio obligasi berjangka menengah hingga panjang, namun di sisi lain memberikan ruang kupon yang lebih tinggi bagi pembentukan hasil investasi berjangka panjang.

Di sisi lain, dengan pertimbangan adanya risiko imbal hasil SBN yang berpotensi melesat naik hingga menyentuh level 7,4%, bahaya keluarnya dana asing dalam jumlah yang lebih besar—bahkan dalam skenario risiko tertentu diperkirakan dapat mencapai hingga Rp 60 triliun—menjadi aspek krusial yang terus dipantau oleh otoritas moneter dan pelaku pasar. Semua simulasi risiko ini menegaskan pentingnya kewaspadaan tinggi dalam mengelola instrumen keuangan di tengah rezim suku bunga tinggi yang melanda pasar domestik dan global.

Advertisements

Also Read

Tags