BANYU POS – , JAKARTA — Prospek reklasifikasi pasar modal Indonesia dari status emerging market menjadi standalone market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah memicu diskusi luas di kalangan investor. Perubahan status ini, yang merupakan salah satu tonggak penting dalam arsitektur pasar keuangan global, berpotensi membuka peluang signifikan bagi investor yang cermat untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas tinggi pada saat harganya mengalami tekanan. Namun, para ahli pasar menyarankan agar investor tidak terburu-buru dalam melakukan pembelian saham sebelum dampak penuh dari perubahan klasifikasi tersebut benar-benar terealisasi di pasar.
Pergeseran status pasar modal dalam indeks global seperti MSCI memiliki implikasi mendalam, terutama bagi aliran modal asing. MSCI adalah penyedia indeks pasar saham global terkemuka yang digunakan oleh manajer investasi di seluruh dunia sebagai tolok ukur kinerja dan panduan alokasi aset. Ketika suatu negara direklasifikasi dari kategori emerging market ke standalone market, hal ini dapat menyebabkan perubahan dalam portofolio investasi dana-dana yang secara pasif melacak indeks emerging market tersebut. Dana-dana ini, yang dikenal sebagai index fund, memiliki mandat untuk menyesuaikan kepemilikan saham mereka sesuai dengan komposisi indeks yang mereka ikuti. Oleh karena itu, jika Indonesia dikeluarkan dari indeks emerging market, sejumlah besar dana asing berpotensi menarik investasinya dari saham-saham Indonesia.
Menyikapi potensi gejolak pasar yang mungkin timbul dari reklasifikasi ini, Komisaris Independen Pinnacle Investment Indonesia, John Rachmat, mengidentifikasi dua strategi utama yang dapat dimanfaatkan oleh investor untuk meraih keuntungan. Strategi pertama berfokus pada pendekatan jangka panjang dengan membeli saham perusahaan berfundamental kuat saat harganya terkoreksi tajam. Rachmat memperkirakan bahwa sekitar 60% hingga 70% dari investor asing yang memiliki saham di Indonesia adalah index fund. Arus keluar dana dari index fund ini, lanjutnya, berpotensi meningkat secara substansial apabila MSCI benar-benar mengeluarkan Indonesia dari indeks emerging market saat ini. Dengan demikian, investor disarankan untuk menunggu hingga dampak reklasifikasi ini sepenuhnya terealisasi dan tercermin dalam harga saham sebelum mulai mengakumulasi posisi.
“Namun pesan saya, jangan lakukan metode ini sampai MSCI mengumumkan bahwa kita di-downgrade,” tegas John Rachmat dalam sebuah diskusi bertajuk Bagaimana Cuan dari IHSG yang diselenggarakan pada Sabtu (17/10/2026). Penekanan pada waktu yang tepat ini sangat krusial, sebab membeli terlalu dini sebelum tekanan jual asing mencapai puncaknya dapat mengakibatkan kerugian lebih lanjut. Alih-alih merekomendasikan saham-saham tertentu secara spesifik, John Rachmat menyarankan agar investor berfokus pada evaluasi kualitas fundamental perusahaan dan kemampuan mereka untuk menghasilkan dividen secara berkelanjutan. Menurutnya, emiten dengan kualitas manajemen yang baik memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan dividen per saham dari waktu ke waktu. Sebaliknya, saham dengan imbal hasil dividen (dividend yield) yang tinggi belum tentu menarik apabila pembagian dividennya justru menunjukkan tren penurunan yang konsisten, mengindikasikan potensi masalah pada kinerja atau prospek perusahaan.
Membidik Dividend Yield di Atas 10%
John Rachmat menambahkan, salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan investor adalah dividend yield, terutama ketika harga saham berada pada level yang dianggap murah. Untuk menentukan apakah suatu dividend yield menarik, investor umumnya menggunakan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun sebagai acuan investasi bebas risiko. Dalam konteks saat ini, dengan asumsi imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 5,3%, tingkat imbal hasil saham yang dianggap menarik adalah dengan selisih (spread) sebesar 5% di atas acuan tersebut, atau mencapai sekitar 10,3%. Angka spread ini mencerminkan kompensasi risiko tambahan yang diambil investor saat berinvestasi di saham dibandingkan dengan obligasi pemerintah.
Strategi pembelian saham berdasarkan dividend yield ini, lanjut John, sangat relevan untuk diterapkan ketika pasar mengalami tekanan ekstrem, seperti yang mungkin terjadi akibat perubahan status Indonesia menjadi standalone market. Investor perlu menunjukkan kesabaran ekstra dan menunggu hingga harga saham benar-benar mencerminkan risiko yang muncul dan mencapai titik terendah yang menarik, alih-alih terus melakukan pembelian ketika harga masih berpotensi untuk turun lebih jauh. Pendekatan ini menghindari upaya “menangkap pisau jatuh” dan memastikan bahwa akumulasi dilakukan pada valuasi yang lebih konservatif dan menguntungkan dalam jangka panjang.
Strategi Kedua: Short Selling
Selain strategi akumulasi saham berkualitas saat harga tertekan, John Rachmat juga memperkenalkan short selling sebagai strategi kedua yang dapat dimanfaatkan oleh investor. Berbeda secara fundamental dengan strategi pertama yang mengandalkan pemulihan harga saham dan pendapatan dividen, short selling memungkinkan investor untuk mengambil posisi yang akan memperoleh keuntungan dari penurunan harga saham. Dalam praktiknya, short selling melibatkan peminjaman saham dari broker, menjualnya di pasar dengan harapan harga akan turun, dan kemudian membeli kembali saham tersebut di harga yang lebih rendah untuk mengembalikannya kepada pemberi pinjaman, sehingga selisih harga jual dan beli menjadi keuntungan.
Menurut John, strategi short selling ini dapat mulai dipertimbangkan tanpa harus menunggu dampak reklasifikasi MSCI secara resmi terealisasi. Ini karena strategi ini dapat memanfaatkan fluktuasi pasar yang lebih pendek dan sentimen investor yang ada. Dia menyarankan agar dari lima saham yang dapat ditransaksikan melalui fasilitas short selling, investor sebaiknya memusatkan perhatian pada saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Astra International Tbk. (ASII). Kedua saham ini menarik dicermati karena pergerakannya sangat berkaitan erat dengan aktivitas transaksi investor asing. John Rachmat mencatat bahwa investor asing masih terlihat membeli saham BBCA dan ASII sebelum pengumuman rencana reklasifikasi MSCI.
John menilai bahwa manajer investasi asing yang ingin mengurangi eksposur mereka di Indonesia akan mempertimbangkan momentum transaksi yang tepat untuk keluar dari pasar secara efisien. “Keluar secara efisien” dalam konteks ini bisa berarti menjual saham mereka pada saat terjadi kenaikan harga sementara, atau pada titik-titik di mana likuiditas pasar memungkinkan mereka untuk melepas posisi besar tanpa menyebabkan penurunan harga yang drastis. Kondisi ini dinilai dapat membuka peluang bagi pelaku short selling untuk mengambil posisi jual ketika harga saham mengalami kenaikan temporer yang disebabkan oleh aktivitas rebalancing atau penjualan strategis dari dana asing.
Namun, John juga mengingatkan bahwa strategi short selling bukan tanpa risiko yang signifikan. Pergerakan harga saham dapat berlawanan dengan perkiraan, terutama ketika terjadi kenaikan harga secara tajam dan tidak terduga, yang dapat mengakibatkan kerugian besar bagi pelaku short selling. Karena itu, dia menilai bahwa saham-saham berisiko tinggi dengan pergerakan yang sangat rentan dipengaruhi oleh spekulasi cenderung lebih sulit untuk diprediksi dan dikelola dalam strategi ini. Meskipun melihat peluang keuntungan dari strategi ini, John Rachmat mengakui bahwa short selling tidak cocok untuk semua investor, khususnya mereka yang memiliki profil risiko rendah. Strategi ini membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang mekanisme transaksi, kemampuan untuk memantau pergerakan harga secara cermat, serta disiplin yang ketat dalam mengelola risiko dan potensi kerugian. Ini adalah pendekatan yang membutuhkan keterampilan dan pengalaman khusus dalam pasar modal.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




