Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan saat ini harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) sudah mencapai US$ 91-92 per barel terhitung sejak awal tahun hingga saat ini. Hal ini terjadi imbas tembusnya harga minyak dunia yang melampaui US$ 100 per barel.
“Rata-rata harga dari Januari hingga Oktober sekarang ICP di angka US$ 91-92 per barel,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (19/10).
Dia menyebut kenaikan harga minyak terjadi di tengah kondisi geopolitik global yang semakin tidak menentu. Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan, rata-rata ICP ini juga sudah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Tak hanya minyak, harga batu bara juga turut terkerek. Dia melaporkan bahwa harga komoditas batu bara saat ini mulai meningkat hingga US$ 154 per ton untuk jenis kalori tinggi 6.322 kcal/kg GAR.
Baca juga:
- Belanja Negara Tembus Rp 1.300 Triliun di Kuartal IV 2026, Cari Celah Efisiensi
- 34 Institusi Berminat Biayai 8 Proyek PSEL, Lebih dari 3 Kali Kebutuhan Utang
- Realisasi Investasi Indonesia Capai Rp 528.7 Triliun pada Kuartal III 2026
“Harapan kami memang harganya bagus, produksinya kita naikkan. Sekarang kita tetap akan melakukan relaksasi terbatas untuk menjaga supply and demand. Tapi kami juga ingin untuk bisa menaikkan devisa,” ujarnya.
ICP September 2026
Pemerintah menetapkan rata-rata ICP September 2026 sebesar US$ 112,81 per barel. Angka ini naik US$ 23,38 atau 26% dibandingkan Agustus 2026 yang berada di level US$ 89,43 per barel.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman di Kantor Ditjen Migas, Gedung Ibnu Sutowo, Jakarta, Senin (12/10).
“Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global. Dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan. Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional,” kata Laode dalam siaran pers, dikutip Selasa (13/10).
Menurut Laode, eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi di Timur Tengah, khususnya ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia. Dia menyebut ekspor minyak mentah melalui rute vital tersebut sempat mengalami penurunan hingga 28% dibandingkan Juli.
“Kondisi ini diperkuat oleh serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut, termasuk penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi berkapasitas 7 juta barel per hari akibat serangan drone sebagai langkah pencegahan,” ujarnya.
Selain itu, ada faktor lain yakni penundaan kuota produksi oleh organisasi negara pengekspor minyak terbesar di dunia beserta sekutunya atau OPEC+ dan serangan lanjutan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah yang turut memperketat pasokan minyak mentah global.




