Kinerja SSSG Aspirasi Hidup (ACES) tumbuh 2,4% per kuartal III-2026, ini penopangnya

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) membukukan pertumbuhan penjualan toko yang sama atau same store sales growth (SSSG) sebesar 2,4% secara tahunan (YoY) pada kuartal III-2026.

Advertisements

Capaian ini berbalik dari kontraksi 3,6% YoY pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut laporan dari Stockbit Sekuritas, kinerja SSSG tersebut sejalan dengan target manajemen untuk 2026, yang dipatok pada kisaran 2% hingga 4% YoY.

Advertisements

Adapun performa SSSG pada September 2026 diperkirakan sekitar 2,4% YoY. Angka ini jauh membaik dibandingkan September 2025, ketika SSSG tercatat terkontraksi 8,2% YoY.

Aspirasi Hidup Indonesia (ACES) Terus Ekspansi, Simak Rekomendasi Analis

Secara geografis, pertumbuhan SSSG selama sembilan bulan pertama tahun 2025 terutama didorong oleh wilayah Jakarta yang naik 4,8% YoY.

Wilayah Jawa di luar Jakarta menyusul dengan pertumbuhan 3,3% YoY, sementara wilayah luar Jawa mencatat kenaikan paling moderat sebesar 0,6% YoY.

Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama mengatakan pemulihan penjualan ACES tampaknya banyak terbantu oleh kinerja AZKO yang mulai lebih stabil setelah pergantian jenama tahun lalu. 

Penyesuaian pilihan produk, promosi, dan upaya meningkatkan penjualan di toko yang sudah ada juga ikut mendukung. Pertumbuhan penjualan di Jakarta dan wilayah Jawa terlihat lebih kuat dibandingkan luar Jawa. 

“Meski begitu, hasil ini juga perlu dilihat bersama kondisi penjualan tahun lalu yang cukup lemah, sehingga pembandingnya menjadi lebih rendah. Jadi, perbaikannya memang positif, tetapi belum tentu sepenuhnya berasal dari meningkatnya jumlah pembeli,” kata Kevin kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menjelaskan pertumbuhan SSSG ACES sebesar 2,4% YoY selama sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan adanya perbaikan daya beli konsumen dan pemulihan permintaan terhadap produk perlengkapan rumah tangga, perbaikan rumah, serta kebutuhan gaya hidup. 

TINS Dapat Kredit Rp 4 Triliun, Cermati Dampaknya terhadap Kinerja dan Saham

Kinerja ini juga mencerminkan efektivitas strategi promosi, pengelolaan persediaan, optimalisasi gerai eksisting, dan penyesuaian produk terhadap kebutuhan konsumen. 

Selain itu, pertumbuhan tersebut perlu dilihat dalam konteks basis pembanding tahun sebelumnya yang mengalami kontraksi 3,6% YoY, sehingga terdapat efek basis rendah yang turut membantu pertumbuhan SSSG pada 2026. 

“Meskipun demikian, keberlanjutan tren positif ini tetap bergantung pada stabilitas daya beli masyarakat, tingkat inflasi, serta kemampuan perusahaan menjaga daya saing di tengah persaingan ritel yang semakin ketat,” ujar Nafan.

Harga Saham

Kevin juga menilai perbaikan penjualan ACES tampaknya belum sepenuhnya mendapat respons positif dari harga sahamnya, yang masih lebih rendah dibandingkan akhir tahun lalu.

Namun, kondisi ini tidak otomatis berarti sahamnya murah atau pemulihan belum diperhitungkan pasar. 

Investor kemungkinan masih ingin melihat apakah penjualan yang membaik bisa ikut meningkatkan keuntungan dari kegiatan utama secara konsisten. Apalagi, kenaikan laba sebelumnya juga terbantu oleh pendapatan di luar kegiatan utama.

“Jadi, peluang kenaikan saham tetap ada, tetapi akan lebih kuat jika perusahaan bisa menjaga penjualan, biaya, dan keuntungan ke depan,” ucap Kevin.

Sementara itu, Nafan bilang pertumbuhan SSSG sebesar 2,4% YoY yang sesuai dengan target manajemen di kisaran 2%–4% menunjukkan bahwa kinerja perusahaan sejauh ini masih berada dalam jalur yang diharapkan. 

Oleh karena itu, apabila ekspektasi pasar sebelumnya sudah mencerminkan pemulihan penjualan tersebut, ruang kenaikan harga saham dalam jangka pendek dapat menjadi lebih terbatas. Namun, bukan berarti seluruh katalis sudah sepenuhnya terdiskon. 

Revisi RKAB 2026 Berdampak ke Emiten Nikel dan Batubara, Simak Rekomendasi Sahamnya

Pasar masih akan mencermati kemampuan ACES meningkatkan pertumbuhan penjualan, menjaga margin keuntungan, serta mengonversi pertumbuhan pendapatan menjadi laba bersih dan arus kas yang lebih kuat. 

“Dengan demikian, penilaian apakah saham ACES sudah price in perlu mempertimbangkan valuasi terkini, kinerja laba, dan prospek pertumbuhan ke depan, bukan hanya indikator SSSG,” tambah Nafan.

Kevin berpendapat capaian SSSG ACES hingga September sudah sejalan dengan target manajemen tahun ini, sehingga bisa menjadi tanda bahwa penjualan toko yang sudah ada mulai pulih.

Meski begitu, investor tetap perlu melihat apakah pertumbuhannya bisa bertahan sampai akhir tahun, terutama pada periode belanja menjelang liburan. 

Sentimen lain yang perlu diperhatikan ialah apakah kenaikan penjualan ikut menghasilkan keuntungan yang lebih baik, bukan justru diikuti kenaikan biaya yang besar. Ekspansi toko baru juga penting, tetapi dampaknya perlu dilihat terpisah dari penjualan toko lama.

Dari sisi teknikal, Kevin menerangkan saham ACES masih berpeluang menguat dalam jangka pendek, dengan target lanjutan di kisaran Rp 380 jika mampu melewati area resistance terdekat.

Sementara itu, Nafan merekomendasikan speculative buy dengan target harga Rp 416 per saham.

Advertisements

Also Read

Tags