Pasar saham yang sedang melemah sering kali bikin investor merasa khawatir, apalagi ketika nilai portofolio perlahan menyusut dan prospek ekonomi terlihat kurang menjanjikan. Dalam situasi seperti ini, menjual saham dan memindahkan uang ke instrumen yang lebih aman mungkin terasa seperti keputusan paling masuk akal.
Namun, keputusan yang diambil karena panik justru berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar dalam jangka panjang. Pasalnya, penurunan pasar gak selalu berlangsung lama, sementara peluang keuntungan bisa datang ketika investor paling tak menduganya.
Oleh karena itu, sebelum buru-buru menjual saham, kamu perlu memahami risiko yang mungkin muncul dan mempertimbangkan kembali tujuan investasimu. Berikut lima hal yang perlu dipahami sebelum mengambil keputusan saat pasar saham sedang turun.
1. Kehilangan peluang keuntungan saat pasar pulih
Salah satu risiko menjual saham ketika pasar sedang turun adalah kehilangan kesempatan untuk menikmati keuntungan saat harga kembali naik. Pasar saham bergerak dalam siklus, sehingga periode penurunan bisa diikuti oleh fase pemulihan. Masalahnya, kamu gak selalu bisa mengetahui kapan harga saham mencapai titik terendah atau kapan kenaikan akan dimulai. Kalau terlalu lama menunggu situasi benar-benar aman, kamu justru berpotensi melewatkan sebagian kenaikan harga.
Peristiwa anjloknya pasar saham saat awal pandemik COVID-19 pada 2020 bisa menjadi gambaran. Indeks S&P 500 di Amerika Serikat mulai mengalami penurunan tajam pada akhir Februari dan mencapai titik terendah pada 23 Maret 2020. Setelah itu, indeks tersebut mencatat kenaikan sekitar 18 persen hanya dalam tiga hari perdagangan berikutnya dan kembali melampaui level sebelum penurunan pada pertengahan Agustus. Investor yang telanjur menjual saham saat pasar terpuruk berisiko kehilangan sebagian momentum pemulihan tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan menjual saham perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir. Jika kamu berinvestasi untuk tujuan jangka panjang, penurunan sementara belum tentu menjadi alasan untuk langsung keluar dari pasar. Meski begitu, kamu tetap perlu mengevaluasi kondisi perusahaan dan alasan awal membeli saham tersebut, ya. Dengan begitu, keputusan investasi gak hanya didorong oleh rasa takut melihat portofolio memerah.
2. Berisiko kehilangan daya beli karena inflasi
Memindahkan seluruh dana investasi ke uang tunai memang bisa membuatmu merasa lebih tenang karena nilainya gak berfluktuasi seperti saham. Namun, menyimpan uang terlalu lama tanpa memperhitungkan inflasi juga memiliki risiko tersendiri, lho. Ketika harga kebutuhan sehari-hari terus meningkat, jumlah barang dan jasa yang bisa kamu beli dengan uang yang sama akan berkurang. Artinya, saldo tabunganmu mungkin tetap utuh secara nominal, tapi kemampuan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan semakin menurun.
Fidelity menjelaskan bahwa uang tunai dan instrumen jangka pendek secara historis cenderung memberikan imbal hasil lebih rendah dibandingkan saham dan obligasi dalam jangka panjang. Dalam simulasi historis yang dibahas Fidelity, investasi saham sebesar 5.000 dolar AS per tahun atau sekitar Rp90 juta per tahun, dengan asumsi kurs Rp18 ribu per dolar AS, tetap menghasilkan nilai akhir yang lebih besar daripada menyimpan uang dalam bentuk tunai, bahkan ketika pembelian saham dilakukan pada waktu yang kurang menguntungkan. Namun, hasil historis tersebut gak menjamin keuntungan serupa pada masa depan, ya.
Meski begitu, bukan berarti kamu harus menginvestasikan seluruh uang yang dimiliki ke pasar saham. Dana darurat dan uang untuk kebutuhan dalam waktu dekat tetap perlu disimpan pada instrumen yang relatif aman dan mudah dicairkan. Hal terpenting adalah membedakan uang yang memang perlu diamankan dari dana yang masih bisa diinvestasikan untuk tujuan jangka panjang. Dengan pembagian seperti ini, kamu gak perlu menjual saham secara terburu-buru hanya karena membutuhkan uang untuk keperluan mendadak.
3. Sulit menentukan waktu terbaik untuk kembali membeli saham
Ketika pasar saham mulai turun, kamu mungkin berpikir untuk menjual saham sekarang dan membelinya kembali setelah harga mencapai titik terendah. Strategi ini terdengar menguntungkan karena kamu berharap bisa menghindari penurunan lebih lanjut sekaligus mendapatkan saham dengan harga lebih murah. Sayangnya, menentukan waktu terbaik untuk menjual dan membeli kembali saham bukan perkara mudah. Kamu harus tepat dalam memperkirakan dua momen sekaligus, yaitu kapan harus keluar dari pasar dan kapan harus kembali masuk.
Data JPMorgan mengenai kinerja S&P 500 selama periode Juli 2004 hingga Juli 2024 memperlihatkan pentingnya tetap berinvestasi dalam jangka panjang. Investasi awal sebesar 10 ribu dolar AS menghasilkan imbal hasil tahunan sebesar 10,5 persen jika investor tetap berinvestasi sepanjang periode tersebut.
Sebaliknya, imbal hasil tahunannya turun menjadi 6,2 persen jika melewatkan 10 hari perdagangan terbaik, 3,6 persen jika melewatkan 20 hari terbaik, dan hanya 1,4 persen jika melewatkan 30 hari terbaik. Angka ini menunjukkan bahwa beberapa hari perdagangan dengan kenaikan besar bisa memberikan pengaruh signifikan terhadap hasil investasi jangka panjang.
Untuk mengurangi risiko salah menentukan waktu masuk pasar, kamu bisa mempertimbangkan strategi dollar-cost averaging (DCA). Strategi ini dilakukan dengan menginvestasikan sejumlah uang secara rutin tanpa harus menebak harga terendah setiap kali membeli saham atau reksa dana.
Dengan cara tersebut, keputusan investasi menjadi lebih teratur dan gak terlalu bergantung pada perubahan harga dalam jangka pendek. Meski demikian, DCA tetap memiliki risiko pasar dan gak menjamin keuntungan, terutama jika aset yang dipilih terus mengalami penurunan.
4. Kehilangan manfaat diversifikasi investasi
Saat pasar saham melemah, kamu mungkin tergoda untuk menjual seluruh saham dan memindahkan uang ke satu instrumen yang dianggap paling aman. Padahal, keputusan tersebut bisa membuat portofolio kehilangan keseimbangan yang sebelumnya sudah direncanakan.
Diversifikasi merupakan strategi membagi investasi ke berbagai aset agar risiko gak bertumpu pada satu jenis instrumen saja. Dengan komposisi yang sesuai, penurunan pada satu aset berpotensi diimbangi oleh kinerja aset lain, meskipun hasilnya gak selalu demikian.
Jordan Rizzuto, mitra pengelola sekaligus kepala investasi GammaRoad Capital Partners, menjelaskan pentingnya menggunakan pendekatan yang terukur untuk menentukan porsi investasi pada saham dan instrumen lain. Ia menekankan bahwa keputusan mengubah alokasi aset sebaiknya didasarkan pada indikator yang jelas, bukan semata-mata perasaan ketika pasar sedang bergejolak.
Dalam kondisi tertentu, obligasi pemerintah jangka pendek atau surat utang negara bisa menjadi alternatif untuk mengelola risiko portofolio. Namun, setiap instrumen tetap memiliki karakteristik dan risiko tersendiri sehingga kamu perlu menyesuaikannya dengan tujuan investasi.
Karena itu, sebelum menjual saham, coba periksa kembali komposisi portofoliomu. Jika ternyata porsi saham terlalu besar dibandingkan kemampuanmu menanggung risiko, melakukan penyesuaian bisa menjadi pilihan yang masuk akal.
Kamu juga bisa mempertimbangkan reksa dana indeks atau ETF yang memberikan eksposur ke banyak saham sekaligus, sesuai dengan tujuan dan toleransi risikomu. Dengan diversifikasi yang tepat, kamu memiliki strategi yang lebih terarah untuk menghadapi gejolak pasar tanpa harus mengambil keputusan secara ekstrem.
5. Berpotensi menjual saham hanya karena panik
Risiko lain yang perlu kamu waspadai adalah mengambil keputusan berdasarkan emosi, terutama ketika melihat nilai investasi terus menurun. Ketika portofolio memerah, rasa takut kehilangan uang bisa membuatmu ingin segera menjual semua saham agar kerugian gak bertambah. Padahal, penurunan harga saham gak selalu berarti kondisi fundamental perusahaan telah memburuk secara permanen. Jika kamu menjual tanpa mengevaluasi situasi, keputusan tersebut justru bisa bertentangan dengan rencana investasi yang sudah dibuat sebelumnya.
Dalam panduan menghadapi penurunan pasar yang diterbitkan J.P. Morgan Wealth Management melalui Chase pada Oktober 2026, investor disarankan untuk memeriksa kondisi portofolio, kebutuhan uang tunai, dan jangka waktu investasi sebelum mengambil tindakan. Sarah Daya dari tim perencanaan keuangan J.P. Morgan Wealth Management juga menekankan pentingnya memiliki rencana keuangan jangka panjang agar investor gak mudah mengubah keputusan setiap kali pasar mengalami gejolak. Pendekatan ini membantumu membedakan antara penurunan harga yang bersifat sementara dan perubahan kondisi investasi yang memang perlu ditindaklanjuti.
Supaya gak gampang panik, kamu bisa menetapkan aturan investasi sejak awal, termasuk batas alokasi saham, target keuangan, dan kondisi yang mengharuskanmu mengevaluasi aset. Ketika pasar turun, luangkan waktu untuk memeriksa alasan penurunan, laporan keuangan perusahaan, serta kesesuaiannya dengan tujuan investasimu.
Kalau alasan awal membeli saham masih relevan, kamu gak harus langsung menjualnya hanya karena harganya sedang melemah. Sebaliknya, jika fundamental perusahaan memburuk atau kebutuhan keuanganmu berubah, menjual sebagian atau seluruh kepemilikan bisa menjadi keputusan yang patut dipertimbangkan.
Pasar saham yang turun memang bisa membuatmu khawatir, tapi menjual saham secara terburu-buru bukan selalu solusi terbaik. Ada risiko kehilangan peluang pemulihan, penurunan daya beli akibat inflasi, kesulitan menentukan waktu membeli kembali, berkurangnya diversifikasi, hingga keputusan yang didorong oleh kepanikan.
Karena itu, penting untuk mengevaluasi kondisi investasi berdasarkan tujuan keuangan, toleransi risiko, dan jangka waktu yang kamu miliki. Ingat, mempertahankan investasi bukan berarti harus terus memegang semua saham dalam kondisi apa pun, melainkan mengambil keputusan secara rasional berdasarkan informasi dan rencana yang jelas.
Apa Itu Saham Defensif? Ini 4 Ciri-ciri dan Contohnya 4 Strategi Average Down Saham yang Aman agar Gak Makin Buntung 5 Faktor yang Membuat Investor Asing Keluar dari Pasar Saham Indonesia




