Penopang kuat PGEO tangkap prospek cerah EBT di tengah tekanan pasar saham

Hikma Lia

BANYU POS – , JAKARTA — Tekanan terhadap pasar saham Indonesia akibat pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai usulan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia, membuat investor kian selektif dalam memilih emiten.

Advertisements

Di tengah ancaman arus keluar modal asing, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) diyakini tetap memiliki penopang kuat berupa pendapatan berbasis dolar AS yang terkontrak jangka panjang, serta didukung oleh pertumbuhan produksi dan margin usaha yang tinggi.

Ditambah lagi, sektor energi baru terbarukan (EBT), khususnya panas bumi, dinilai memiliki prospek jangka panjang yang ditopang potensi sumber daya domestik dan target penambahan kapasitas pembangkit.

Advertisements

Menurut Tim Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), PGEO menjadi salah satu emiten yang memiliki eksposur terhadap peluang pengembangan panas bumi tersebut.

Tak bisa dimungkiri, rencana MSCI mereklasifikasi status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market) menjadi pukulan baru bagi kepercayaan investor di pasar modal RI, meskipun proposal tersebut masih dalam tahap konsultasi hingga 30 April 2027, dengan keputusan akhir dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

Tim Riset KISI mencatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi 11,57% setelah pengumuman tersebut. Tekanan investor asing juga berpotensi berlangsung bertahap hingga April 2027, sehingga pasar cenderung mengutamakan emiten dengan arus kas yang jelas dan tingkat utang rendah. “Pasar cenderung selektif ke saham arus kas yang jelas dan utang rendah,” kata tim riset KISI, dikutip Kamis (22/10/2026).

KISI mengingatkan investor untuk membedakan tekanan sentimen jangka pendek dari kondisi fundamental perusahaan. Pergerakan harga saham dapat dipengaruhi arus dana di pasar, sedangkan fundamental emiten tecermin dari kontrak, produksi, laba, dan posisi utang.

Adapun, Tim Riset KISI mencatat bahwa Indonesia memiliki potensi kapasitas panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW), tetapi baru sekitar 11% yang dikembangkan. Selain itu, panas bumi juga memiliki keunggulan dalam menyediakan listrik secara berkelanjutan selama 24 jam atau sebagai sumber listrik beban dasar (baseload).

: Prospek Saham PGEO dan Fundamental Kuat Pertamina Geothermal

Selain itu, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) menargetkan tambahan kapasitas panas bumi sekitar 5,2 GW hingga 2034. Target tersebut membuka ruang pengembangan proyek bagi industri panas bumi nasional.

Namun, realisasi potensi itu masih menghadapi tantangan tarif listrik energi terbarukan. Kepastian regulasi menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kelayakan ekonomi proyek dan keputusan investasi di sektor tersebut. “Kendala utama pengembangan panas bumi bukan pada geologi, melainkan pada tarif,” ujar tim riset KISI.

Terkait dengan pergerakan saham PGEO, Tim Riset KISI mencatat sejumlah faktor yang perlu dicermati investor. Katalis utama adalah revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2022 mengenai tarif listrik energi terbarukan yang hingga kini belum terbit.

PERTAMINA GEOTHERMAL ENERGY TBK – TradingView

Faktor lainnya meliputi eksekusi proyek, termasuk pengembangan Hululais dan proyek co-generation berkapasitas 45 megawatt (MW). Investor juga perlu mencermati porsi saham publik (free float) sebesar 3,9% yang wajib dinaikkan secara bertahap, serta pergerakan suku bunga dan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, pendapatan PGEO yang berbasis dolar AS dan terkontrak menjadi penopang di tengah volatilitas pasar. “Untuk PGEO, sekitar 96% pendapatan terkontrak dengan PLN selama 30 tahun dengan skema take-or-pay 69%–90%. Artinya, arus kas tidak ikut turun saat indeks jatuh,” kata tim riset KISI.

Kinerja Cemerlang PGEO

Dari sisi kinerja, laporan keuangan kuartal II/2026 mencatat PGEO berhasil membukukan pendapatan US$235,027 juta pada semester I/2026, naik 14,7% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sejalan dengan itu, laba bersih tercatat US$79,605 juta, tumbuh 15,48% YoY.

Sepanjang Januari—September 2026, produksi listrik panas bumi PGEO mencapai sekitar 4.114 gigawatt hour (GWh), naik 9,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Equivalent Availability Factor (EAF) kumulatif mencapai 98,51% per September 2026, melebihi rencana sebesar 92,20%. Dari sisi neraca, ekuitas perusahaan tercatat US$2,006 miliar serta kas dan setara kas US$656,6 juta per Juni 2026.

Untuk menilai prospek jangka panjang perusahaan panas bumi, Tim Riset KISI menyarankan agar investor memperhatikan beberapa indikator. Indikator tersebut meliputi kapasitas terpasang, capacity factor, struktur kontrak dan tarif, margin EBITDA, serta leverage.

Untuk PGEO, emiten energi baru dan terbarukan tersebut pada semester I/2026 mengelola kapasitas 727 MW secara mandiri, dengan margin EBITDA 78,3% dan rasio net debt terhadap EBITDA 0,1 kali.

Saat ini PGEO tengah mengerjakan sejumlah proyek, antara lain Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8. PGEO menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034, dengan perkiraan investasi mencapai hingga US$6,43 miliar atau setara Rp115,92 triliun.

Direktur Operasi PGEO Andi Joko Nugroho sebelumnya mengatakan bahwa perseroan tengah memacu proyek perluasan dan pengeboran di berbagai wilayah kerja panas bumi (WKP) guna menopang target jangka panjang tersebut. Hingga saat ini, kapasitas terpasang yang dikelola langsung perusahaan berada di level 727 Megawatt (MW).

“Saat ini pembangkitan kami baru 727 megawatt. Sangat intensif kami lakukan pengeboran. Di Kamojang ini baru selesai pengeboran recovery, ada rig di Lahendong, kemudian di Lumut Balai untuk next pembangkit, serta di Ulubelu. Jadi kami punya target 1 gigawatt di 2028, kemudian 1,8 gigawatt di 2034,” ujar Andi di Kamojang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).

: Pertamina (PGEO) Bidik PLTP Lumut Balai Unit 3 Beroperasi 2029

Untuk menambah kapasitas sekitar 1.073 MW hingga dekade mendatang, Andi mengestimasikan biaya pengembangan berada di kisaran US$5 juta hingga US$6 juta per MW. Bergantung pada kondisi medan geografis dan kompleksitas infrastruktur lokasi proyek.

Dengan perkiraan tersebut, PGEO membutuhkan total belanja modal berkisar US$5,36 miliar hingga US$6,43  miliar atau setara Rp96,60 triliun hingga Rp115,92 triliun (dengan asumsi kurs Rp18.006 per dolar AS) demi mengejar target penambahan kapasitas tersebut. (Dionisio Damara)

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements

Also Read