BANYU POS – – Koreksi harga saham di pasar modal Indonesia menjadi peluang bagi Danantara Indonesia untuk membidik investasi jangka panjang.
Valuasi sejumlah perusahaan, termasuk badan usaha milik negara (BUMN), yang dinilai relatif rendah menjadi pertimbangan di tengah tekanan pasar.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menyatakan mulai membeli saham-saham di pasar modal Indonesia sejak dua hari terakhir, terutama saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Danantara Berencana Kembangkan 12 Smart City, Manfaatkan Aset BUMN
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Patria Sjahrir mengatakan, keputusan pembelian tersebut didasarkan pada pertimbangan fundamental perusahaan serta potensi imbal hasil yang dinilai menarik dibandingkan dengan risiko investasinya.
”Kita sudah mulai membeli saham-saham yang ada, menurut kami efektif, dan kita akan terus selama harganya menarik, memiliki prospek yang baik,” ujar Pandu dilansir dari Antara.
Menurut Pandu, saham-saham perusahaan BUMN memiliki fundamental yang kuat dan prospek pertumbuhan yang baik, serta valuasinya saat ini menarik sehingga memberikan peluang investasi bagi Danantara.
Pegadaian Tembus Top 10 BUMN Layanan Terbaik dalam Danantara Indonesia CX100 Award 2026
Dia memastikan strategi investasi Danantara tetap berorientasi pada keuntungan dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Pandu juga menyoroti isu terkait penyedia indeks global MSCI yang menjadi perhatian pelaku pasar saat ini.
Menurut dia, terdapat perbedaan antara persoalan yang berkembang di Kuala Lumpur, Malaysia; dan kondisi perusahaan-perusahaan yang tercatat di pasar modal Indonesia.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai, koreksi harga saham saat ini membuka kesempatan untuk berinvestasi pada perusahaan-perusahaan dengan fundamental yang kuat.
Menurut dia, penurunan valuasi justru menjadi peluang untuk memperoleh aset investasi dengan prospek jangka panjang.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian Danantara adalah perbankan. Rosan menyoroti fundamental sektor tersebut yang dinilai kuat dan solid.
Transformasi BUMN di Era Danantara, Billy Mambrasar Ingatkan Perlindungan Dana Pensiunan
”Kondisi itu membuat valuasi sejumlah perusahaan perbankan saat ini menarik bagi investor. Danantara selalu melihat investasi itu sebagai long term investment bukan sebagai investor in and out,” lanjut Rosan.
Menurut dia, pergerakan harga saham yang naik dan turun merupakan bagian dari dinamika pasar.
Koreksi yang terjadi saat ini dinilai lebih berkaitan dengan faktor teknikal, rumor pasar, dan faktor nonfundamental sehingga tidak serta-merta mencerminkan perubahan fundamental perusahaan.
Tak Cuma Asuransi Konvensional, Danantara Bidik Merger BUMN Asuransi Syariah
Dengan tetap menjadikan fundamental sebagai pegangan, Danantara optimistis terhadap prospek perusahaan Indonesia. Rosan melihat kondisi pasar saat ini sebagai kesempatan untuk menangkap peluang investasi jangka panjang.
”Kita pegangannya fundamental. Jadi harus tetap melihat ini sebuah opportunity dan kami yakini kami dari Danantara siap masuk. Ini momen yang sangat baik untuk kita berinvestasi ke saham-saham yang ada di Indonesia,” kata Rosan.
Pandangan mengenai valuasi saham yang relatif murah juga disampaikan Pengamat Pasar Modal Nefo Handojo.
BUMN Dipangkas, Target Danantara Sisakan 200 Perusahaan Hingga Akhir 2026
Dia menilai, saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk saham BUMN, memiliki fundamental yang tetap menjadi daya tarik di tengah dinamika pasar.
”Secara umum valuasi saham memang murah dan begitu juga dengan saham-saham BUMN, jadi penurunan lebih karena faktor di luar fundamental saham di BEI yamg menurut pandangan saya lebih wajar dengan index di atas 7.000,” ujar Nefo di Jakarta.
Nefo menilai ketidakpastian terkait keputusan MSCI masih menjadi salah satu sumber tekanan pasar.
Dia berharap regulator dapat melakukan perbaikan untuk menjawab perhatian MSCI. Meski demikian, fundamental perusahaan yang tetap mendukung dinilai menjadi penopang pasar sekaligus menjaga daya tarik saham Indonesia bagi investor.
Denny Indrayana Singgung Eks Ketua KPU Hasyim Asy’ari Jabat Komisaris BUMN: Pemecatan yang Dihargai
”Jadi selama fundamental perusahaan masih mendukung penurunan index akan terbatas, soal MSCI hanya akan berpengaruh untuk fund tertentu dan banyak fund di luar yg akan tetap membeli saham dengan valuasi menarik tanpa harus ikut aturan MSCI,” kata Nefo.




