Prospek Cerah Saham EBT: Cek Rekomendasi BREN, PGEO, KEEN, dan TOBA

Hikma Lia

BANYU POS – JAKARTA. Akselerasi dan pengembangan sektor energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia terus membuka ruang pertumbuhan bisnis yang sangat signifikan bagi para emiten di sektor energi. Kendati demikian, para pemodal dan investor dituntut untuk tetap cermat dalam memperhatikan realisasi pelaksanaan proyek, kepastian struktur tarif listrik, serta rasionalitas valuasi saham sebelum mengambil langkah untuk memanfaatkan momentum positif tersebut.

Advertisements

Di pasar modal Indonesia, terdapat beberapa emiten yang diproyeksikan bakal memperoleh manfaat langsung maupun tidak langsung dari ekspansi energi bersih ini. Emiten-emiten tersebut antara lain adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), serta PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).

Prospek cerah sektor ini mendapatkan dorongan modal yang kuat melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Dalam dokumen perencanaan strategis tersebut, pemerintah menargetkan penambahan total kapasitas pembangkit EBT hingga mencapai 42,6 gigawatt (GW) serta fasilitas penyimpanan energi (energy storage) sebesar 10,3 GW.

Advertisements

Jika dirinci berdasarkan sumber energi bersihnya, target penambahan kapasitas pembangkit EBT tersebut didominasi oleh instalasi energi surya yang mencapai 17,1 GW. Pembangkit berbasis tenaga air menyumbang porsi sebesar 11,7 GW, disusul oleh pembangkit tenaga angin sebesar 7,2 GW, serta pembangkit panas bumi sebesar 5,1 GW.

Managing Director PT Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyampaikan pandangannya bahwa PGEO memiliki posisi yang sangat strategis untuk menjadi salah satu emiten yang paling diuntungkan dari gelombang pengembangan energi terbarukan ini. Hal ini didukung oleh portofolio bisnis panas bumi yang sudah matang serta kesiapan perseroan dalam mengeksekusi proyek-proyek baru di masa mendatang.

Saat ini, PGEO telah mencatatkan total kapasitas terpasang sebesar 1.943 megawatt (MW). Selain itu, perusahaan ini memegang portofolio proyek pengembangan berskala besar yang berpeluang menangkap manfaat optimal dari adanya usulan jaminan tarif listrik serta rencana revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 2017.

Di sisi lain, emiten KEEN juga memiliki peluang besar untuk mendongkrak pendapatan operasionalnya seiring dengan skenario peningkatan kapasitas pembangkit listrik berbasis air yang dikelola oleh perseroan.

Mengenai peta persaingan emiten lainnya, Harry Su memberikan penjelasannya secara mendalam. “Ada pun BREN diuntungkan secara operasional, sementara dampak terhadap TOBA lebih tidak langsung karena transformasi bisnisnya juga mencakup pengelolaan sampah,” jelas Harry.

Lebih lanjut, Harry menerangkan bahwa dokumen RUPTL 2025-2034 yang menitikberatkan pada porsi energi terbarukan, ditambah dengan terbukanya akses pendanaan lunak dari berbagai lembaga keuangan internasional, memberikan kesempatan emas bagi emiten energi untuk memperbesar kapasitas pembangkit mereka secara agresif.

Namun demikian, Harry memberikan catatan kritis bahwa terbukanya peluang ekspansi tersebut tidak secara otomatis langsung mendongkrak perolehan laba bersih perusahaan secara instan. Kecepatan realisasi proyek di lapangan, kepastian arus pendapatan, hingga efisiensi dalam mengonversi belanja investasi menjadi arus kas operasional tetap menjadi indikator penentu utama bagi kinerja keuangan emiten EBT.

Prospek saham EBT ditopang kepastian regulasi

Research Analyst MNC Sekuritas, Christian Sitorus, memproyeksikan bahwa agenda revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2022 dan PP Nomor 7 Tahun 2017 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang berjalan sejajar dengan percepatan tender wilayah kerja panas bumi (WKP), akan memberi angin segar bagi industri. Langkah-langkah strategis ini diperkirakan dapat meningkatkan kepastian tarif dan keekonomian proyek dalam rentang waktu 12 bulan ke depan.

Christian mengungkapkan bahwa penyesuaian regulasi tersebut sangat berpotensi menguntungkan para pengembang listrik yang telah memiliki aset pembangkit beban dasar (baseload) yang beroperasi secara komersial, memiliki perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) berdenominasi mata uang dolar AS, serta menguasai rencana penambahan kapasitas secara jelas.

Menurut analisis Christian, kombinasi dari karakteristik fundamental tersebut merupakan aspek yang amat vital karena mampu memberikan jaminan kepastian pendapatan sekaligus menjaga prospek pertumbuhan bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

Di samping perubahan dari sisi regulasi pemerintah, para pelaku pasar dan investor juga diminta untuk mengamati secara cermat eksekusi program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp).

Christian menggarisbawahi bahwa program ambisius PLTS 100 GWp tersebut ditargetkan dapat rampung sepenuhnya pada tahun 2029. Skala program ini terbilang sangat masif, yaitu mencapai hampir enam kali lipat dari target penambahan kapasitas energi surya sebesar 17,1 GW yang tercantum dalam RUPTL 2025-2034.

Apabila pelaksanaan di lapangan dapat terealisasi sesuai rancangan awal, program instalasi PLTS tersebut berpotensi membuka keran peluang bisnis baru yang sangat luas bagi emiten yang memiliki kapasitas eksekusi, kesiapan lahan/proyek, serta struktur pendanaan yang solid untuk berpartisipasi.

Walaupun demikian, investor diingatkan untuk tidak mengabaikan faktor risiko pelaksanaan proyek di lapangan, besarnya kebutuhan belanja modal (capital expenditure), serta tenggat waktu yang dibutuhkan sejak fase investasi awal hingga proyek benar-benar memberikan kontribusi riil terhadap pendapatan dan laba bersih perusahaan.

Risiko investasi saham BREN, PGEO, KEEN, dan TOBA

Di balik optimisme dan prospek pertumbuhan sektor EBT yang menjanjikan, risiko bisnis yang bersifat spesifik pada masing-masing emiten tetap wajib dimasukkan ke dalam kalkulasi investasi para pemodal.

Terkait emiten BREN, Harry Su menilai bahwa kondisi fundamental bisnis pembangkit energi terbarukan milik perseroan sebenarnya masih menunjukkan tren kinerja yang positif. Hal ini tercermin dari pertumbuhan pendapatan operasional maupun laba bersih perusahaan yang terus berjalan.

Meski kinerja operasionalnya solid, isu dan dinamika hukum yang berkaitan dengan proses penjatahan saham pada saat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO), serta tingkat konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, berpotensi memengaruhi tingkat kepercayaan investor. Kondisi ini turut memicu potensi kenaikan risiko tata kelola perusahaan (corporate governance), masalah likuiditas perdagangan, hingga tingkat volatilitas harga saham di pasar.

Harry menambahkan, sanksi administrasi berupa penjatuhan denda oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap pihak-pihak tertentu yang terlibat dalam pelanggaran tersebut memang tidak secara langsung menjadi beban keuangan bagi perseroan.

Namun, para investor disarankan untuk tetap memantau secara berkala bagaimana tindak lanjut dari pihak regulator, tingkat transparansi struktur kepemilikan saham, serta kewajaran valuasi harga saham BREN sebelum memutuskan untuk mengambil tindakan investasi.

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, turut menyarankan agar investor mencermati secara saksama perkembangan kasus tersebut serta mengukur valuasi saham BREN secara rasional. Investor juga dianjurkan membandingkan prospek saham BREN dengan emiten sejenis seperti PGEO dan KEEN untuk mengukur perbandingan potensi imbal hasil (return) terhadap risiko yang harus ditanggung.

Untuk emiten TOBA, pemulihan tingkat profitabilitas menjadi fokus utama yang perlu diperhatikan secara cermat oleh para pemodal seiring transformasi bisnis yang tengah dijalankan perusahaan.

Dari sudut pandang teknis, risiko operasional harian yang dihadapi oleh masing-masing emiten juga sangat bervariasi. Bagi emiten pengembang panas bumi seperti PGEO dan BREN, risiko utama terletak pada aktivitas pengeboran (drilling risk) serta kepastian ketersediaan pasokan uap panas bumi secara berkelanjutan. Sementara itu, emiten seperti KEEN sangat sensitif terhadap fluktuasi atau perubahan debit air sungai, yang dapat memengaruhi tingkat produksi volume listrik pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) milik mereka.

Oleh sebab itu, penting bagi setiap investor untuk menganalisis karakteristik operasional, profil keuangan, serta tingkat risiko spesifik dari tiap-tiap emiten sebelum menjatuhkan pilihan pada saham di sektor energi bersih ini.

Rekomendasi saham EBT: target harga TOBA, PGEO, dan KEEN

Mempertimbangkan berbagai faktor pendukung dan risiko yang ada, sejumlah analis pasar modal telah merilis rekomendasi saham beserta target harga untuk beberapa emiten EBT pilihan.

Sukarno Alatas memberikan rekomendasi trading buy atau accumulation buy untuk saham TOBA dan PGEO. Berdasarkan kalkulasi teknikal dan fundamental Kiwoom Sekuritas, target harga untuk saham TOBA ditetapkan berada pada kisaran Rp 580 hingga Rp 615 per saham. Sedangkan untuk saham PGEO, target harga yang dipatok berada pada rentang Rp 1.100 hingga Rp 1.140 per saham.

Di sisi lain, Christian Sitorus dari MNC Sekuritas menyematkan rekomendasi buy untuk saham PGEO dengan target harga yang lebih optimistis, yaitu mencapai Rp 1.705 per saham. Christian juga merekomendasikan buy untuk saham KEEN dengan memasang target harga di level Rp 1.300 per saham.

Advertisements

Also Read

Tags