Menanti kinerja Wijaya Karya (WIKA) kala tren pemulihan margin BUMN karya

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Pembuktian pemulihan kinerja PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) masih dinantikan menyusul tren perbaikan margin emiten BUMN karya sepanjang kuartal III-2026.

Advertisements

Per 25 Oktober 2026, WIKA belum merilis laporan keuangan sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026. Sementara, peers BUMN karya telah melaporkan kinerja mereka di periode yang sama.

Misalnya, rugi PT Waskita Karya Tbk (WSKT) turun 9,54% year on year (YoY) ke Rp 2,87 triliun per 30 September 2026. Pendapatan usaha tercatat Rp 8,12 triliun, naik 55,73% YoY.

Advertisements

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mengantongi laba bersih Rp 15,34 miliar per kuartal III 2026, naik 247,04% YoY. Namun, pendapatan terkoreksi tipis 4,96% YoY ke Rp 5,37 triliun.

PT PP Tbk (PTPP) membukukan laba bersih Rp 259,96 miliar per September 2026, naik 4.576,34% YoY. Padahal, pendapatannya turun 12,69% YoY ke Rp 9,37 triliun.

Wijaya Karya (WIKA) Divestasi 50,91 Juta Saham Anak Usaha, Ini Tujuannya

Sayangnya, perbaikan margin tersebut diikuti dengan kondisi arus kas operasional yang memprihatinkan.

Kas bersih digunakan untuk aktivitas operasi WSKT minus Rp 1,14 triliun per September 2026.

ADHI mencatatkan arus kas neto diperoleh dari (digunakan untuk) aktivitas operasi minus Rp 475,12 miliar per September 2026.

PTPP mencatat minus Rp 2,62 triliun pada pos kas bersih digunakan untuk aktivitas operasi per September 2026.

Sebagai gambaran, WIKA mencatatkan perbaikan rugi 4,96% YoY menjadi Rp 1,48 triliun per Juni 2026.

Pendapatan bersih juga meningkat 7,19% YoY ke Rp 6,27 triliun per kuartal II 2026, dari sebelumnya Rp 5,85 triliun.

Pos kas bersih diperoleh dari (digunakan untuk) aktivitas operasi tercatat membaik dari semula minus Rp 1,05 triliun di semester I 2025 menjadi minus Rp 533,28 miliar di periode sama tahun ini.

Direktur WIKA, Mulyadi mengatakan, langkah tersebut masih terus dikomunikasikan dan didiskusikan dengan perbankan. Di saat bersamaan, WIKA juga terus menggelar RUPO dan RUPSU untuk menyepakati jangka waktu pembayaran imbal hasil.

“Mudah-mudahan ini bisa disepakati di akhir tahun 2026,” ujarnya dalam Public Expose WIKA, Kamis (1/10/2026). 

WIKA Optimistis Kinerja Membaik Jika KCIC Diambil Alih Pemerintah

Di samping itu, WIKA bakal divestasi aset sebesar Rp 5 triliun secara keseluruhan dilakukan bertahap selama 2026-2028. Pelepasan aset ini merupakan bagian dari restrukturisasi keuangan WIKA yang diusulkan ke perbankan dan pemegang obligasi. 

WIKA juga akan menyelesaikan kewajiban perbankan melalui penyelesaian divestasi di anak perusahaan. 

Nantinya, anak perusahaan WIKA akan melakukan divestasi dan kemudian divestasi itu dikembalikan ke WIKA sebagai holding dalam bentuk pengembalian shareholder loan. Shareholder loan ini lalu akan dikembalikan ke surat utang dan perbankan.  

“Pada saat kami mengusulkan untuk rekturisasi, salah satu penyelesaiannya adalah divestasi sebagai bagian yang satu kesatuan,” katanya.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto mengatakan, proses pemulihan WIKA masih lebih menantang, terutama karena restrukturisasi sejumlah surat utang belum memperoleh persetujuan. 

Ini berkaitan dengan gagal kuorumnya sejumlah RUPO dan RUPSU WIKA disertai dengan belum ada eksekusi divestasi aset yang bisa menambah arus kas sepanjang tahun 2026.

Wijaya Karya (WIKA) Fokus Restrukturisasi, Simak Prospek Kinerjanya

“Dengan demikian, perbaikan kinerjanya belum tentu mengikuti pola yang sama dengan PTPP atau ADHI,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (25/10/2026).

Pengamat Pasar Modal, Edwin Sebayang melihat, kinerja WIKA di kuartal III 2026 berpotensi membaik. Namun, jalur pemulihannya lebih bergantung pada penyelesaian restrukturisasi dibandingkan sekadar peningkatan pendapatan proyek.

“Perbedaan utamanya terletak pada risiko pembiayaan,” ujarnya kepada Kontan, Sabtu (24/10/2026).

PTPP dan ADHI memang masih menghadapi tantangan operasional, tetapi kenaikan laba memberikan ruang untuk menguji apakah efisiensi dan margin dapat dipertahankan.

Sedangkan, WSKT memperlihatkan peningkatan pendapatan, tetapi beban keuangannya masih sangat besar. 

Menurut Edwin, ada empat faktor yang akan menentukan apakah WIKA dapat membaik hingga kuartal IV-2026, yakni hasil negosiasi ulang dengan kreditur, kemampuan membayar kewajiban jangka pendek, kualitas proyek baru, serta efektivitas penataan aset dan bisnis. 

Wijaya Karya (WIKA) Targetkan Divestasi Aset Senilai Rp 5 Triliun Hingga 2028

WIKA sebelumnya juga menyampaikan rencana untuk memfokuskan bisnis pada proyek dengan imbal hasil minimal 8% untuk kerja sama operasi dan di atas 10% untuk proyek biasa. 

“Target seperti ini akan relevan jika dapat diterapkan dalam pemilihan proyek dan tercermin pada margin aktual,” ungkapnya.

Namun, target margin tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Proyek dengan margin menarik pun dapat membebani likuiditas jika memerlukan modal kerja besar dan pembayaran dari pelanggan terlambat.

“WIKA memerlukan bukti yang lebih spesifik, yaitu kesepakatan restrukturisasi yang efektif, penurunan tekanan beban keuangan, dan perbaikan arus kas,” kata Edwin.

Wijaya Karya (WIKA) Minta Restu Restrukturisasi Surat Utang Rp 10,2 Triliun pada 2026

Advertisements

Also Read

Tags