Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan di level 5.400 pada perdagangan Senin (26/10). Pada Jumat (23/10), IHSG ditutup menguat 0,95% atau naik 51,35 poin ke level 5.439,26.
Namun, tekanan jual investor asing dan ketidakpastian terkait indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih membayangi pergerakan indeks.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset pagi ini menilai ketidakpastian MSCI dan tekanan pasar global masih menjadi faktor yang membayangi pemulihan indeks.
“Secara teknikal, IHSG berhasil bertahan di atas level psikologis 5.400, tetapi masih berada di bawah MA20 sekitar 5.813, sehingga tren jangka pendek belum sepenuhnya pulih,” dikutip, Senin (26/10).
Analis BRI Danareksa merekomendasikan tiga saham yakni PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham HRUM dengan target harga Rp 775-810, ANTM dengan target harga Rp 3.000-3.150, dan CUAN dengan target harga Rp 590-620.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan area resistance terdekat berada di level 5.494–5.539. Jika mampu menembus area tersebut, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan.
Sementara itu, area support berada di kisaran 5.400–5.366. Apabila tekanan jual meningkat dan indeks menembus area tersebut, IHSG berpotensi menguji support berikutnya di rentang 5.244–5.116.
Indikator MACD masih berada di zona negatif, meskipun histogram mulai membaik. Dengan kondisi tersebut, penguatan IHSG dinilai masih berupa technical rebound atau pemulihan teknikal dan belum mengonfirmasi pembalikan tren.
Semantara itu Senior Technical Analyst Nafan Aji Gusta juga melihat peluang IHSG menembus level resistance terdekat. Menurut dia, indikator teknikal Stochastic K_D dan Relative Strength Index (RSI) menunjukkan sinyal positif, disertai peningkatan volume perdagangan.
Penguatan indeks terutama ditopang aksi bargain hunting investor domestik dan ekspektasi program buyback saham oleh sejumlah emiten berkapitalisasi besar.
“Kendati demikian, laju kenaikan diperkirakan akan tertahan oleh masih derasnya tekanan foreign net sell serta ketidakpastian seputar rebalancing indeks MSCI,” katanya.
Pelaku pasar juga akan mencermati efektivitas reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI, termasuk rencana mengecualikan saham HSC dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.
Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah yang berada di level Rp 18.080 per dolar AS, volatilitas harga minyak mentah dunia, dan dinamika pasar global turut menjadi faktor yang memengaruhi persepsi risiko investor.
Investor juga akan mengantisipasi keputusan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) pada pekan ini. BRI Danareksa Sekuritas mencatat konsensus yang dipantaunya memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga di level 4,00%. Konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan pada 29 Oktober.
Di sisi domestik, laporan keuangan emiten kuartal III 2026 menjadi salah satu katalis yang perlu diperhatikan untuk menilai ketahanan kinerja perusahaan di tengah volatilitas pasar. Sementara itu, kenaikan harga minyak Brent ke sekitar US$114 per barel akibat eskalasi geopolitik meningkatkan risiko inflasi global.




