IHSG hari ini berpeluang rebound, analis jagokan BBNI, TLKM, AADI

Hikma Lia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak konsolidatif dengan peluang rebound pada perdagangan Selasa (27/10). Analis melihat ada sejumlah saham yang layak dipantau bagi investor.

Advertisements

Pada perdagangan sebelumnya, Senin (26/10), IHSG ditutup melemah 1,22% ke level 5.373,09. Pelemahan dipicu aksi ambil untung atau profit taking setelah indeks mengalami rebound kuat pada pekan sebelumnya dan sempat kembali menguji level psikologis 5.400.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai pelemahan rupiah turut menekan pergerakan pasar saham domestik. Rupiah kembali bergerak di kisaran Rp 18.100 per dolar AS sehingga meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan.

Advertisements

“Tekanan juga datang dari pelemahan rupiah yang kembali bergerak di kisaran Rp 18.100 per dolar AS, meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan domestik dan berpotensi membatasi minat investor terhadap aset berisiko,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.

Untuk perdagangan hari ini, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dilirik investor. Mulai dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).

Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas melihat IHSG masih berpeluang mengalami penguatan terbatas selama mampu bertahan di area support. Indeks belum berhasil menembus resistance terdekat di level 5.455, sedangkan area support berada di kisaran 5.326–5.246.

“Jika support mampu dipertahankan, IHSG berpeluang rebound untuk kembali menguji resistance 5.455–5.545,” tulisnya.

Kendati demikian, tren IHSG masih bearish karena indeks berada di bawah indikator moving average 20 hari (MA20) di level 5.774 dan MA200 di level 6.933. Indikator MACD juga masih negatif, dengan garis MACD berada di bawah garis sinyal.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Nafan Aji Gusta memproyeksikan IHSG memiliki peluang melanjutkan pembalikan arah atau rebound, meskipun masih dibayangi koreksi.

“Secara teknikal, adapun pergerakan IHSG sedang membentuk pembalikan arah (rebound) yang berkelanjutan dari ‘wave 5/(C)/Y’ meskipun mengalami koreksi wajar,” kata Nafan dalam analisisnya.

Nafan menetapkan level support IHSG di 5.246 dan 5.111, sedangkan resistance berada di 5.455 dan 5.597. Dari indikator teknikal, Stochastics K_D menunjukkan arah positif. Namun, indikator RSI masih berada di area negatif dan volume transaksi mengalami penurunan.

Tekanan jual investor asing juga masih membayangi pergerakan indeks. Nafan mencatat net foreign sellharian mencapai Rp 2,03 triliun, sedangkan akumulasi jual bersih investor asing sepanjang tahun berjalan mencapai Rp 122,20 triliun.

Kinerja IHSG sejak awal tahun tercatat minus 37,86%. Menghadapi kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor tetap selektif dalam menentukan saham yang akan dikoleksi.

“Akumulasi pada saham-saham pilihan yang memiliki fundamental solid, neraca keuangan yang sehat, prospek pertumbuhan yang jelas, serta likuiditas perdagangan yang kuat. Selain itu, terapkan manajemen risiko secara disiplin,” ujar Nafan. 

3 Katalis yang Dicermati Pasar 

BRI Danareksa Sekuritas menyebut terdapat tiga katalis utama yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG pekan ini. Pertama, rilis laporan keuangan emiten kuartal III 2026 yang dapat memicu pergerakan sektoral dan membuat investor lebih selektif berdasarkan kinerja fundamental perusahaan. 

Kedua, kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.

Ketiga, keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) pada 29 Oktober 2026. Berdasarkan kalender ekonomi yang dipantau BRI Danareksa Sekuritas, konsensus memperkirakan suku bunga acuan akan dipertahankan di kisaran 3,75%–4%.

Namun, Nafan mengingatkan bahwa keputusan menahan suku bunga belum tentu menandakan pelonggaran kebijakan moneter AS. Inflasi Amerika Serikat pada September 2026 tercatat 3,7% secara tahunan, jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Kenaikan harga energi, terutama akibat konflik AS-Iran, turut meningkatkan risiko tekanan inflasi.

“Dengan demikian, fokus investor bukan hanya pada keputusan suku bunga Oktober, melainkan juga pada indikasi kebijakan moneter selanjutnya, terutama kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026,” kata Nafan.

Selain kebijakan moneter, laporan keuangan emiten berkapitalisasi besar juga menjadi perhatian investor. Di pasar global, Microsoft dan Alphabet dijadwalkan merilis laporan keuangan pada Rabu (28/10), disusul Amazon pada Kamis (29/10).

Di dalam negeri, investor menantikan laporan keuangan sektor perbankan. Bank Mandiri (BMRI) diperkirakan mengumumkan kinerja kuartal III pada Selasa (27/10). Bank Syariah Indonesia (BRIS) dijadwalkan pada Kamis (29/10), sedangkan BBRI, BBTN, dan BDMN diperkirakan menyusul pada Jumat (30/10).

Penafian:

Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Advertisements

Also Read

Tags