Dana asing telah kabur Rp 124,9 triliun, bagaimana prospek IHSG hingga akhir 2026?

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Ketidakpastian sentimen global dan domestik membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan bergerak volatil hingga akhir 2026.

Advertisements

Hari ini, IHSG turun 1,99% ke level 5.266,13 pad akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (27/10/2026). Dalam sepekan, IHSG turun 0,24%. Sejak awal tahun, penurunannya sebesar 39,10% year to date (YTD).

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, pergerakan IHSG hingga akhir tahun 2026 masih akan dibayangi volatilitas tinggi.

Advertisements

Permintaan AI Melonjak, Tembaga Pimpin Prospek Logam Industri di 2026

Terutama, karena tekanan jual investor asing, pelemahan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global. Pada perdagangan hari ini, pelemahan IHSG diikuti dengan nilai transaksi sebesar Rp 17,9 triliun. 

Investor asing juga mencatatkan net sell sekitar Rp 708 miliar pada perdagangan hari ini, sehingga akumulasi jual bersih asing di pasar reguler sepanjang tahun mencapai Rp 124,9 triliun. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor masih menjadi tantangan utama bagi pasar saham domestik. Tekanan tersebut tidak semata-mata mencerminkan kondisi fundamental emiten, tetapi juga dipengaruhi oleh meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar modal Indonesia.

“Khususnya, terkait transparansi kepemilikan saham, likuiditas, dan kepastian reformasi pasar modal,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).

Dari sisi eksternal, pelemahan IHSG juga dipengaruhi oleh pergerakan bursa global yang cenderung variatif, ketidakpastian arah suku bunga The Federal Reserve, serta kenaikan harga minyak mentah Brent yang telah mencapai sekitar US$ 116 per barel. 

Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan biaya energi, sekaligus memperbesar risiko terhadap defisit transaksi berjalan dan anggaran negara apabila berlangsung lama. 

Di sisi lain, perkembangan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), termasuk rencana IPO perusahaan teknologi besar dan publikasi kinerja emiten global, dapat menjadi katalis positif bagi selera risiko investor. 

Namun, sentimen global tersebut belum cukup kuat untuk menahan tekanan di pasar domestik. 

Gaet Rp 7,77 Triliun dari Anak Blackrock, TOBA Bidik Ekspansi Bisnis Limbah di Asia

“Oleh karena itu, dalam jangka pendek IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan selama arus keluar dana asing belum mereda dan rupiah belum menunjukkan penguatan yang konsisten,” ungkapnya.

Hingga akhir 2026 dan memasuki awal 2027, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh keberhasilan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan BEI memulihkan kepercayaan investor. 

Isu evaluasi status Indonesia oleh MSCI, termasuk konsultasi mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi menjadi Standalone Market dengan keputusan final yang dijadwalkan pada Juni 2027, menjadi salah satu faktor penting yang perlu dicermati. 

Risiko tersebut tidak boleh dianggap sepele karena dapat memengaruhi persepsi investor global, alokasi dana berbasis indeks, dan likuiditas saham domestik. 

Namun, penurunan klasifikasi bukan berarti seluruh saham Indonesia otomatis kehilangan daya tarik. Dampak akhirnya akan bergantung pada keputusan final, mandat investasi masing-masing pengelola dana, serta kualitas perbaikan transparansi dan tata kelola pasar. 

Jika reformasi berjalan nyata, keterbukaan kepemilikan saham meningkat, penegakan aturan lebih konsisten, dan stabilitas rupiah membaik, peluang pemulihan IHSG tetap terbuka. 

“Sebaliknya, jika reformasi hanya bersifat administratif dan arus keluar asing berlanjut, tekanan terhadap indeks dapat bertahan hingga awal tahun depan,” katanya.

IHSG Melemah 1,99%, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham untuk Rabu (28/10)

Dalam kondisi seperti sekarang, Hendra menyarankan investor sebaiknya tidak terburu-buru membeli saham hanya karena harganya sudah turun tajam. 

Strategi yang lebih rasional adalah memilih emiten dengan fundamental kuat, arus kas yang sehat, tingkat utang yang terkendali, likuiditas perdagangan memadai, serta prospek bisnis yang masih terjaga. 

Investor juga perlu memperhatikan valuasi, karena perusahaan berkualitas sekalipun belum tentu menarik apabila dibeli pada harga terlalu tinggi. 

Sebaliknya, saham dengan fundamental lemah, utang besar, arus kas negatif berkepanjangan, likuiditas tipis, atau pergerakan harga yang terlalu spekulatif sebaiknya dihindari terlebih dahulu. 

Saham yang berpotensi menghadapi tekanan akibat pelemahan harga komoditas, kenaikan biaya pendanaan, atau ketidakpastian kinerja juga perlu dianalisis lebih selektif. 

Dalam situasi pasar yang volatil, menjaga likuiditas dan membatasi ukuran posisi sama pentingnya dengan mencari potensi keuntungan. 

“Investor dapat menerapkan pembelian bertahap dan menyiapkan batas risiko agar tidak terjebak mengambil keputusan emosional saat pasar terkoreksi,” paparnya.

Hendra pun merekomendasikan trading buy untuk UNTR, AUTO, dan JPFA dengan target harga masing-masing Rp 27.500 per saham dan Rp 3.600 per saham, dan Rp 2.000 per saham.

IHSG Masih Volatil, Ini Proyeksi Pergerakannya hingga Akhir 2026

Advertisements

Also Read

Tags