BEI bidik pasar saham Indonesia masuk 10 besar bursa saham dunia pada 2030

Hikma Lia

 

BANYU POS – – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan pasar saham Indonesia dapat masuk dalam jajaran 10 besar pasar terbaik di dunia berdasarkan kapitalisasi dan nilai transaksi pada tahun 2030.

Advertisements

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan untuk mencapai hal tersebut BEI akan terus memperkuat kualitas pasar, meningkatkan transparansi, serta menjaga kepercayaan investor melalui berbagai inisiatif pengembangan pasar modal.

“Bursa Efek Indonesia telah menetapkan cara strategis jangka panjang untuk mewujudkan pasar modal Indonesia yang maju, inklusif, dan berdaya saing global Dengan aspirasi menjadi salah satu dari 10 bursa terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar dan nilai transaksi,” ujar Jeffrey dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI secara virtual, Jakarta, Rabu (28/10).

Advertisements

Jeffrey menyebut, untuk mencapai hal tersebut BEI membidik target untuk mencapai kapitalisasi pasar sebesar Rp 30 triliun pada tahun 2030. Selain itu, BEI juga menargetkan rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp 31 triliun dan 1,100 perusahaan tercatat.

BEI Ubah Anggaran Dasar, Selangkah Lagi Menuju Demutualisasi

“Serta 35 juta investor pasar modal,” ucapnya.

Jeffrey menjelaskan, BEI telah menyusun strategic house yang terdiri atas empat pilar bisnis dengan dukungan lima enabler sebagai landasan untuk memperkuat pertumbuhan dan daya saing pasar modal Indonesia.

Strategi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tiga kelompok inisiatif utama, yakni penguatan likuiditas dan akses pasar, perluasan penghimpunan dana (fundraising) dan pembentukan modal, serta pengembangan produk dan infrastruktur baru.

Ketiga inisiatif tersebut diarahkan untuk meningkatkan kedalaman dan likuiditas pasar, memperluas sumber pendanaan bagi perusahaan, serta menghadirkan produk dan layanan yang semakin relevan dengan kebutuhan pelaku pasar.

“Kami menyadari bahwa pencapaian target jangka panjang tersebut memerlukan tahapan implementasi yang terarah dan berkesinambungan,” ujarnya.

Ia mengatakan pencapaian target jangka panjang tersebut membutuhkan tahapan implementasi yang terarah dan berkesinambungan.

Karena itu, pada fase awal Master Plan BEI 2026–2030 yang disebut fundamental reinvention, perseroan akan memprioritaskan penyelarasan produk dengan kebutuhan pasar, demokratisasi akses investor, serta penguatan infrastruktur, proses operasional, dan tata kelola.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi fondasi untuk memperkuat kapasitas BEI dalam mendukung pertumbuhan pasar modal secara berkelanjutan.

“Fase awal master plan yaitu fundamental reinvention Bursa Efek Indonesia akan memprioritaskan penyelerasan produk dengan kebutuhan pasar demokratisasi akses investor, serta penguatan infrastruktur, proses operasional, dan tata kelola sebagai fondasi pertumbuhan,” ungkapnya.

Perkuat Regulasi

Jeffrey mengatakan, untuk mencapai hal tersebut BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO), dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan seluruh pemangku kepentingan pasar modal, telah meluncurkan sejumlah kebijakan.

Ia menjelaskan, kebijakan tersebut terbagi menjadi tiga kelompok utama yakni transparansi dan perlindungan investor, likuiditas dan mekanisme perdagangan, serta perluasan produk investasi.

“Pertama transparansi dan perlindungan investor kami telah menyempurnakan metodologi high shareholding concentration menerbitkan ketentuan baru Badan Pemantauan Khusus, memperketat peraturan 1A tentang pencatatan saham untuk memperbaiki kualitas pencatatan,” ujarnya.

Selain itu, BEI juga telah meluncurkan IDX Green Equity Designation yang telah diberikan kepada tiga perusahaan teratas.

Pada kelompok kedua, BEI melakukan sejumlah penyesuaian untuk meningkatkan likuiditas dan memperbaiki mekanisme perdagangan saham. Upaya tersebut mencakup penyempurnaan program liquidity provider, penurunan batas harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp 1, serta penerapan intraday short selling secara bertahap.

Untuk menjaga volatilitas perdagangan, BEI juga menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) menjadi 7 persen hingga akhir 2026.

Sementara itu, pada kelompok ketiga, BEI memperluas pilihan instrumen investasi melalui penerbitan produk exchange-traded fund (ETF) emas. Produk tersebut diharapkan mempermudah masyarakat berinvestasi emas melalui instrumen yang diperdagangkan di bursa dan berada dalam kerangka regulasi pasar modal.

Jeffrey menyampaikan, berbagai inisiatif tersebut merupakan bagian dari fase fundamental reinvention dalam Master Plan BEI 2026–2030. Tahapan ini akan menjadi fondasi bagi program kerja bursa dalam memperkuat kualitas dan memperdalam pasar modal Indonesia.

Melalui peta jalan tersebut, BEI menetapkan strategi jangka panjang untuk mewujudkan pasar modal yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing global.

“Seluruh upaya ini diarahkan untuk membangun pasar modal Indonesia yang semakin berkualitas, berdaya saing, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional Melalui master plan 2026-2030,” pungkasnya.

Advertisements

Also Read

Tags