Saham Alphabet Anjlok Akibat Belanja AI, Pendiri Google Rugi USD 60 Miliar

Hikma Lia

 

BANYU POS – – Pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin kehilangan gabungan kekayaan sebesar USD 60 miliar (sekitar Rp1.087,8 triliun, dengan kurs Rp18.130 per dolar AS) setelah saham perusahaan induknya, Alphabet, anjlok lebih dari 12 persen pada perdagangan Kamis (29/10). Kemerosotan tersebut menyusul laporan keuangan kuartal III 2026 yang tidak memenuhi ekspektasi Wall Street, terutama akibat perlambatan bisnis pencarian Google dan lonjakan belanja untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Advertisements

Dilansir dari Forbes, Sabtu (31/10/2026), Page kehilangan sekitar USD 31 miliar atau Rp562,03 triliun, sedangkan kekayaan Brin menyusut USD 29 miliar atau Rp525,77 triliun. Meski demikian, keduanya masih bertahan di posisi keempat dan kelima dalam daftar miliarder real-time Forbes. Penurunan kekayaan tersebut mengikuti harga saham Alphabet yang merosot dari USD 321,89 menjadi USD 283,29 per lembar.

Keduanya masing-masing memiliki sekitar 3 persen saham Alphabet dan menjadi pemegang saham individu terbesar. Secara bersama-sama, Page dan Brin juga mempertahankan mayoritas hak suara perusahaan. Dengan kepemilikan tersebut, nilai kekayaan mereka sangat terpengaruh oleh pergerakan saham Alphabet, meskipun posisi keduanya dalam jajaran orang terkaya dunia belum berubah.

Advertisements

Larry Ellison Ramal AI Ciptakan Pendapatan Universal dan Sembuhkan Mayoritas Kanker dalam 10 Tahun

Tekanan investor terutama muncul setelah Alphabet melaporkan pendapatan kuartalan sebesar USD 127,6 miliar, meningkat 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi masih sedikit di bawah perkiraan analis. Pendapatan Google Search hanya tumbuh 12 persen menjadi USD 63,4 miliar, melambat dari pertumbuhan 17 persen pada kuartal sebelumnya dan tidak mencapai proyeksi analis sebesar 15 persen. Sebaliknya, Google Cloud mencatat pertumbuhan lebih dari dua kali lipat dengan pendapatan USD 30,7 miliar.

Namun, pertumbuhan bisnis komputasi awan tersebut belum mampu mengimbangi kekhawatiran terhadap besarnya pengeluaran perusahaan. Alphabet menghabiskan USD 51,4 miliar untuk belanja modal selama kuartal tersebut, terutama untuk membangun infrastruktur AI. Pengeluaran itu mencakup pengembangan pusat data dan kapasitas komputasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan layanan AI yang terus meningkat.

CEO Alphabet Sundar Pichai menegaskan perusahaan masih harus memperluas kapasitas tersebut. Dalam konferensi dengan investor, dia mengatakan, “Kami bekerja keras untuk menghadirkan lebih banyak kapasitas guna memenuhi permintaan jangka panjang ini.”

Akan tetapi, ekspansi tersebut membawa konsekuensi finansial. Business Insider melaporkan arus kas bebas Alphabet tercatat negatif sekitar USD 9,1 miliar pada kuartal III, menunjukkan besarnya tekanan pengeluaran terhadap dana yang tersedia setelah belanja operasional dan modal.

Persoalan lainnya muncul dari kemampuan AI menghasilkan pendapatan. Philipp Schindler, Chief Business Officer Google, mengakui bahwa pencarian melalui fitur AI Mode memiliki tingkat monetisasi lebih rendah dibandingkan pencarian konvensional. Hal ini menjadi tantangan bagi Alphabet karena sebagian besar bisnis iklannya selama ini bergantung pada aktivitas pencarian pengguna. Perusahaan kini harus mengembangkan layanan AI tanpa mengorbankan sumber pendapatan yang menopang bisnis utamanya.

Dampaknya juga meluas ke pasar keuangan. Associated Press melaporkan pelemahan saham Alphabet turut menyeret Nasdaq turun 1,4 persen dan S&P 500 melemah 0,3 persen. Reuters mencatat sekitar USD 500 miliar kapitalisasi pasar Alphabet terhapus dalam satu hari.

Analis JPMorgan Doug Anmuth dan timnya menilai, “Ruang kesalahan bagi perusahaan komputasi awan berskala besar yang menghabiskan ratusan miliar dolar untuk membangun infrastruktur AI sangat kecil,” terutama ketika bisnis inti mereka tidak memenuhi harapan.

Tekanan serupa dialami perusahaan teknologi besar lainnya. Investasi komputasi AI Meta mendorong arus kas bebas perusahaan ke wilayah negatif untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Sementara itu, Amazon dan Oracle menghadapi kebutuhan pendanaan besar untuk pusat data, cip, dan infrastruktur energi. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa perlombaan AI menuntut modal yang semakin besar, bahkan sebelum seluruh investasi menghasilkan keuntungan.

Secara keseluruhan, perusahaan teknologi besar Amerika Serikat diperkirakan menggelontorkan lebih dari USD 700 miliar untuk memperluas proyek AI sepanjang 2026. Amazon dan Alphabet masing-masing diproyeksikan mengeluarkan sekitar USD 200 miliar, Microsoft USD190 miliar, dan Meta USD130 miliar. 

Larry Page Borong Rumah Rp3,15 Triliun di Miami, Tinggalkan California demi Potensi Hemat Pajak

Sementara itu, saham Alphabet telah turun 10 persen sepanjang tahun berjalan, sedangkan kekayaan Page dan Brin masing-masing menyusut sekitar 8 persen sejak Maret. Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa persaingan AI telah berkembang menjadi pertaruhan finansial lintas perusahaan teknologi raksasa. Investor tidak lagi hanya menilai siapa yang paling cepat mengembangkan AI, tetapi juga siapa yang mampu mengubah investasi masif tersebut menjadi keuntungan nyata.

Advertisements

Also Read

Tags