IHSG Ditutup Menguat ke Level 5.096, Disokong Sektor Barang Baku

Hikma Lia

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal pekan ini ditutup dengan hasil positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Berdasarkan data resmi perdagangan pada hari Senin, 2 November 2026 hingga penutupan sesi II pukul 16.00 WIB, indeks acuan utama pasar modal Indonesia tersebut berhasil mengamankan posisi di zona hijau. IHSG mencatatkan kenaikan sebesar 39,78 poin atau menguat 0,79 persen, yang membawa posisi akhir indeks berada pada level 5.096,83.

Advertisements

Penguatan IHSG sepanjang sesi perdagangan hari ini mencerminkan dinamika pergerakan pasar yang didukung oleh dorongan aksi beli pada mayoritas sektor saham. Kinerja indeks yang berhasil bertahan di zona apresiasi hingga penutupan perdagangan menunjukkan resiliensi pasar di tengah variasi pergerakan harga saham individual. Pergerakan ini sekaligus memperlihatkan dominasi kekuatan pembeli di beberapa sektor penopang utama pasar modal domestik.

Laju IHSG yang menguat pada penutupan perdagangan Senin ini disokong secara signifikan oleh performa positif sebagian besar indeks sektoral. Dari total sektor yang ditransaksikan di bursa, beberapa di antaranya mencatatkan kenaikan yang terbilang cukup tinggi, sekaligus menjadi motor penggerak utama hijau IHSG pada perdagangan awal bulan ini.

Advertisements

Posisi puncak dari jajaran sektor yang mencatatkan performa terbaik ditempati oleh IDX Sektor Barang Baku. Sektor ini melaju kencang dan memimpin penguatan bursa dengan lonjakan mencapai 2,12 persen. Kenaikan yang signifikan pada IDX Sektor Barang Baku memberikan kontribusi poin yang cukup besar bagi penopangan indeks secara keseluruhan sepanjang sesi perdagangan.

Tidak hanya sektor barang baku, dorongan positif yang cukup kuat juga datang dari IDX Sektor Energi. Sektor energi berhasil mencatatkan peningkatan kinerja yang solid dengan menguat sebesar 1,53 persen. Penguatan pada sektor energi ini menjadi salah satu pilar penting yang menjaga ritme kenaikan IHSG hingga akhir jam perdagangan di bursa.

Sektor lain yang turut memberikan dorongan signifikan terhadap pergerakan indeks adalah IDX Sektor Infrastruktur. Sektor ini mencatatkan penguatan sebesar 1,40 persen hingga penutupan pasar. Laju kenaikan IDX Sektor Infrastruktur mencerminkan adanya minat transaksi yang positif pada saham-saham yang terdaftar dalam sektor tersebut.

Di posisi berikutnya, IDX Sektor Perindustrian juga berkontribusi secara langsung terhadap penguatan indeks gabungan dengan mencatatkan kenaikan sebesar 0,76 persen. Sektor ini berhasil mengamankan apresiasi harga di tengah dinamika pergerakan saham-saham industri pendukungnya.

Dukungan positif terhadap pergerakan IHSG juga datang dari sektor jasa keuangan. IDX Sektor Keuangan tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,36 persen pada penutupan sesi perdagangan hari ini. Mengingat bobot sektor keuangan yang sangat dominan terhadap pembentukan nilai IHSG, kenaikan 0,36 persen pada sektor ini memberikan stabilitas tambahan yang berarti bagi pergerakan indeks secara keseluruhan.

Selain sektor-sektor tersebut, kelompok sektor barang konsumer juga mencatatkan hasil yang positif meski dengan besaran apresiasi yang berbeda. IDX Sektor Barang Konsumer Non-Primer berhasil membukukan kenaikan harga sebesar 0,30 persen. Sementara itu, IDX Sektor Barang Konsumer Primer turut menyumbang penguatan bagi indeks meski dalam skala yang relatif terbatas, yaitu menguat tipis sebesar 0,04 persen pada akhir sesi.

Meskipun mayoritas sektor mengalami kenaikan dan berhasil mendorong IHSG ke zona hijau, pergerakan pasar tidak sepenuhnya berlangsung seragam. Beberapa sektor mencatatkan penurunan harga dan menahan laju penguatan indeks yang lebih tinggi pada penutupan perdagangan sesi hari ini.

IDX Sektor Kesehatan mencatatkan penurunan paling dalam di antara seluruh sektor yang terkoreksi. Sektor kesehatan mengalami pelemahan sebesar 0,64 persen hingga akhir sesi perdagangan, menjadikannya penekan utama dari jajaran sektoral yang berada di zona merah pada perdagangan hari ini.

Tekanan koreksi juga dialami oleh IDX Sektor Properti dan Real Estate. Sektor ini mencatatkan penurunan sebesar 0,22 persen pada penutupan pasar. Penurunan ini menunjukkan adanya pergerakan melemah pada saham-saham properti dan real estate di sepanjang sesi perdagangan berlangsung.

Sektor berbasis teknologi juga tidak luput dari penyesuaian harga. IDX Sektor Teknologi mencatatkan penurunan sebesar 0,16 persen pada sesi perdagangan kali ini. Koreksi tipis pada sektor teknologi ini menambah daftar sektor yang belum mampu bergerak menguat seirama dengan laju IHSG.

Sementara itu, IDX Sektor Transportasi dan Real Estate turut mencatatkan pelemahan ringan pada penutupan perdagangan sesi II hari ini. Sektor ini terkoreksi sebesar 0,12 persen, melengkapi jajaran sektor yang ditutup di zona merah pada perdagangan awal pekan ini.

Di jajaran saham-saham unggulan yang terhimpun dalam indeks LQ45, pergerakan harga saham memperlihatkan dinamika yang bervariasi dengan sejumlah saham mencatatkan penguatan persentase yang signifikan, sementara sebagian lainnya mengalami penurunan yang cukup dalam.

Untuk kelompok saham berkinerja terbaik atau top gainers dalam indeks LQ45 pada sesi penutupan perdagangan hari ini, posisi teratas ditempati oleh PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Saham DEWA memimpin lonjakan harga di kelompok saham likuid tersebut dengan mencatatkan kenaikan drastis sebesar 11,21 persen.

Posisi kedua saham dengan penguatan tertinggi di jajaran LQ45 diraih oleh PT Indika Energy Tbk (INDY). Saham INDY mencatatkan performa positif yang kuat dengan mengalami kenaikan harga sebesar 8,15 persen hingga penutupan sesi perdagangan.

Menempati urutan ketiga dari jajaran top gainers LQ45 adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saham BUMI berhasil membukukan penguatan harga sebesar 7,56 persen, melengkapi jajaran tiga besar saham pendorong utama dalam indeks LQ45 hari ini.

Di sisi lain, daftar saham penekan atau top losers di indeks LQ45 dipimpin oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Saham AADI mencatatkan pelemahan paling signifikan di kelompok saham berkapitalisasi dan berlikuiditas tinggi ini dengan koreksi sebesar 6,75 persen.

Penurunan harga saham juga dialami oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA), yang menempati posisi kedua dalam daftar top losers LQ45. Saham PTBA mencatatkan penurunan sebesar 4,01 persen pada penutupan perdagangan sesi ini.

Selanjutnya, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berada di urutan ketiga top losers LQ45 setelah terkoreksi sebesar 2,63 persen hingga akhir perdagangan hari ini.

Dari sisi statistik dan aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia, sesi perdagangan hari ini ditandai dengan akumulasi volume transaksi yang terbilang sangat aktif di seluruh papan perdagangan. Total volume transaksi yang terjadi sepanjang hari mencapai 35,31 miliar saham yang berpindah tangan di antara para pelaku pasar.

Sementara itu, total nilai transaksi yang tercipta di pasar modal domestik mencapai angka Rp 12,38 triliun. Besarnya akumulasi nilai dan volume transaksi ini mencerminkan dinamika pergerakan likuiditas yang intensif di pasar saham sepanjang sesi perdagangan Senin ini.

Dilihat dari sebaran arah pergerakan harga saham secara umum, pasar menunjukkan kondisi pergerakan yang cenderung berimbang namun didominasi oleh saham-saham yang menguat. Terlihat bahwa sebanyak 315 saham berhasil mencatatkan peningkatan harga pada akhir perdagangan sesi hari ini.

Di sisi lain, terdapat 285 saham yang bergerak melemah dan mengalami koreksi harga pada penutupan sesi ini. Sementara itu, sebanyak 118 saham bergerak stagnan atau berada di posisi flat tanpa mengalami perubahan harga jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan pada hari sebelumnya.

Di tengah dinamika pergerakan indeks sektoral dan pergerakan saham-saham LQ45, publikasi laporan kinerja keuangan emiten turut mewarnai perkembangan pasar modal domestik. Salah satu sorotan utama datang dari emiten penyedia layanan laboratorium medis, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA).

Dalam laporan kinerjanya, PRDA mencatatkan pertumbuhan operasional melalui peningkatan volume pemeriksaan kesehatan yang ditangani. Lonjakan volume pemeriksaan tersebut memberikan dampak langsung terhadap kinerja finansial perusahaan, di mana pendapatan dan laba bersih PRDA berhasil mencatatkan pertumbuhan hingga mencapai digit ganda (double digit).

Advertisements

Also Read

Tags