KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja produk reksadana yang dikelola oleh Batavia Prosperindo Asset Management menunjukkan perbedaan yang signifikan sepanjang bulan Oktober 2026. Dalam periode tersebut, reksadana pasar uang berhasil mempertahankan momentum positifnya dengan membukukan imbal hasil yang menguntungkan. Namun, kondisi kontras justru terlihat pada sejumlah produk reksadana pendapatan tetap dan saham yang mengalami koreksi substansial. Tekanan pasar domestik menjadi faktor penentu utama, yang dipicu oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, secara kolektif membayangi prospek kinerja investasi di berbagai kelas aset.
Direktur Batavia Prosperindo Asset Management, Eri Kusnadi, menjelaskan bahwa reksadana pasar uang, baik yang berbasis rupiah maupun dolar Amerika Serikat (AS), masih memiliki kapasitas untuk mencatatkan kinerja yang positif. Ketahanan ini didukung oleh strategi penempatan dana pada instrumen deposito serta obligasi berjangka pendek. Instrumen-instrumen ini dikenal memiliki tingkat volatilitas yang relatif lebih terkendali dibandingkan dengan aset berisiko tinggi lainnya, sehingga memberikan stabilitas di tengah gejolak pasar yang terjadi. Diversifikasi ke aset-aset likuid ini menjadi kunci dalam menjaga imbal hasil positif.
Lebih lanjut, Eri Kusnadi menegaskan kepada Kontan pada Senin (2/11/2026) bahwa stabilitas kinerja reksadana pasar uang disebabkan oleh penempatan investasi pada deposito dan obligasi dengan tenor di bawah satu tahun. Pilihan investasi ini secara strategis mengurangi eksposur terhadap fluktuasi harga yang ekstrem, yang seringkali melanda instrumen investasi berjangka lebih panjang. Oleh karena itu, di tengah ketidakpastian pasar, reksadana pasar uang tetap menjadi pilihan yang menarik bagi investor yang mencari pengembalian stabil dengan risiko yang minim.
Sebagai ilustrasi konkret, berdasarkan data kinerja produk Batavia AM dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) per 30 Oktober 2026, beberapa reksadana pasar uang menunjukkan performa yang solid. Batavia Dana Kas Syariah Kelas A berhasil membukukan imbal hasil satu bulan sebesar 0,43%. Diikuti oleh Batavia Dana Kas Maxima dengan imbal hasil 0,41%, Batavia Dana Likuid sebesar 0,31%, serta Batavia USD Money Market yang mencatatkan 0,17%. Angka-angka ini merefleksikan kemampuan reksadana pasar uang untuk memberikan pengembalian positif meskipun dalam kondisi pasar yang menantang, menjadikannya pilihan investasi yang relatif aman.
Ketahanan serupa juga teramati pada produk pendapatan tetap yang berbasis dolar AS. Batavia USD Bond Fund berhasil mencatatkan imbal hasil positif sebesar 0,45% dalam satu bulan. Eri Kusnadi menjelaskan bahwa kinerja impresif ini turut memperoleh dukungan signifikan dari penguatan obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Penguatan US Treasury, yang seringkali dianggap sebagai aset aman global, memberikan sentimen positif dan stabilitas bagi instrumen pendapatan tetap berbasis dolar AS, membedakannya dari performa produk pendapatan tetap berbasis rupiah.
Situasi yang sangat berbeda terjadi pada produk pendapatan tetap berbasis rupiah. Seluruh produk dalam daftar yang tersedia mencatatkan imbal hasil negatif selama satu bulan terakhir. Batavia Obligasi Negara Indonesia mengalami koreksi sebesar 1,98%, Batavia Obligasi Berkembang turun 1,89%, Batavia Pendapatan Tetap Optimal Syariah melemah 1,75%, dan Batavia Dana Obligasi Ultima terkoreksi 0,93%. Penurunan ini menandakan adanya tekanan yang kuat pada pasar obligasi domestik, yang berimbas langsung pada nilai aset reksadana pendapatan tetap berbasis rupiah.
Tekanan pada instrumen pendapatan tetap domestik ini tidak dapat dilepaskan dari kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) yang signifikan. Pada tanggal 31 Oktober 2026, imbal hasil SUN tenor 10 tahun mencapai 7,65%. Sementara itu, imbal hasil tenor 5 tahun berada di level 7,52% dan tenor 30 tahun mencapai 7,76%. Kenaikan imbal hasil obligasi secara fundamental memiliki hubungan terbalik dengan harga obligasi di pasar sekunder. Ketika imbal hasil naik, harga obligasi cenderung turun karena investor menuntut pengembalian yang lebih tinggi untuk risiko yang sama. Dampaknya, nilai aset obligasi dalam portofolio reksadana pendapatan tetap dapat ikut tergerus, menyebabkan koreksi pada nilai unit penyertaan. Fenomena ini seringkali terjadi ketika ekspektasi inflasi meningkat atau bank sentral mengadopsi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Adapun tekanan paling besar terlihat pada sejumlah produk saham dan indeks berbasis rupiah. Batavia Index PEFINDO i-Grade mencatatkan koreksi paling tajam sebesar 16,75% dalam satu bulan. Batavia Dana Saham Syariah turun 14,02%, Batavia LQ 45 Plus terkoreksi 14,19%, sedangkan Batavia Dana Saham melemah 12,47%. Penurunan yang drastis ini mengindikasikan bahwa sentimen negatif di pasar saham domestik sangat kuat dan meluas, memengaruhi berbagai jenis reksadana saham yang berinvestasi di pasar modal Indonesia.
Eri Kusnadi menjelaskan bahwa sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi faktor utama yang menekan saham-saham domestik. MSCI adalah penyedia indeks pasar global terkemuka yang keputusan dan tinjauannya seringkali menjadi acuan bagi investor institusional global. Perubahan status atau bobot suatu negara dalam indeks MSCI dapat memicu arus keluar atau masuk modal asing yang besar, sehingga berdampak signifikan pada harga saham di pasar domestik. Sementara itu, produk saham berbasis dolar AS yang berinvestasi di pasar luar negeri menghadapi tekanan yang berbeda, yaitu dari volatilitas di sektor teknologi global. Sektor teknologi, meskipun menawarkan potensi pertumbuhan tinggi, juga rentan terhadap fluktuasi pasar yang cepat akibat perubahan sentimen investor atau kondisi makroekonomi global.
Tekanan pada saham teknologi global tercermin pada kinerja Batavia Technology Sharia Equity USD yang terkoreksi 9,63% dalam satu bulan. Selain itu, Batavia US Franchise Sharia Equity USD juga melemah 7,85%, sedangkan Batavia Global ESG Sharia Equity USD turun 2,68%. Koreksi pada reksadana saham global ini menunjukkan bahwa meskipun berinvestasi di pasar luar negeri, mereka tidak kebal terhadap gejolak di sektor-sektor tertentu yang mendominasi portofolio mereka, seperti teknologi. Volatilitas di pasar global, terutama di sektor-sektor yang memiliki valuasi tinggi, dapat dengan cepat memengaruhi kinerja investasi.
Ke depan, Eri Kusnadi menekankan pentingnya bagi investor untuk mencermati perkembangan risiko kebijakan. Ini mencakup arah kebijakan dari MSCI yang dapat mempengaruhi alokasi investasi global ke pasar Indonesia, serta respons dari regulator domestik seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Kebijakan yang dikeluarkan oleh otoritas ini memiliki dampak langsung terhadap iklim investasi, stabilitas pasar, dan kepercayaan investor. Oleh karena itu, pemantauan cermat terhadap dinamika kebijakan ini menjadi krusial dalam pengambilan keputusan investasi.
“Karena ini berkaitan dengan risiko kebijakan, kita memang harus mengamati arah dari para pembuat kebijakan, baik MSCI maupun respons OJK dan BEI yang sejauh ini cukup responsif,” tutur Eri. Responsivitas regulator domestik dalam menanggapi sentimen pasar dan menjaga stabilitas sistem keuangan dapat menjadi faktor penyeimbang di tengah tekanan eksternal. Kebijakan yang tepat dan komunikasi yang jelas dari OJK dan BEI dapat membantu meredakan kekhawatiran investor dan menjaga kepercayaan pasar, yang pada gilirannya dapat memitigasi dampak negatif dari sentimen global.
Eri Kusnadi menambahkan bahwa kecenderungan investor untuk menghindari aset berisiko ketika volatilitas pasar meningkat merupakan respons yang wajar dan sering terjadi. Dalam situasi ketidakpastian, investor cenderung beralih ke aset yang lebih aman atau menahan diri dari investasi baru. Meskipun demikian, koreksi pasar yang terjadi juga dapat menghadirkan peluang investasi yang menarik. Aset-aset yang harganya sudah tertekan dan memiliki valuasi relatif murah dapat menjadi potensi keuntungan jangka panjang bagi investor yang memiliki perspektif jangka panjang dan toleransi risiko yang memadai.
Namun, peluang tersebut tidak serta-merta berarti pasar akan segera pulih dalam waktu dekat. Investor perlu melakukan analisis mendalam dan memperhitungkan berbagai risiko yang ada, serta perkembangan sentimen pasar sebelum memutuskan untuk masuk ke aset yang sedang terkoreksi. Keputusan investasi harus didasarkan pada penilaian yang cermat terhadap fundamental perusahaan atau aset, prospek ekonomi, dan kondisi pasar secara keseluruhan, bukan hanya karena harga yang sedang rendah. Pendekatan hati-hati dan berbasis data adalah kunci dalam menavigasi pasar yang bergejolak.




