IHSG lesu, trader diminta menjaga modal ketimbang mengejar rebound

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot ke bawah level 5.000. Pada akhir perdagangan Selasa (3/11/2026), indeks anjlok 3,78% ke posisi 4.904,29.

Advertisements

Pelemahan tersebut juga diikuti dengan outflow atau arus dana keluar asing sebesar Rp 575 miliar di keseluruhan pasar. 

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi mengatakan dalam kondisi pasar yang lesu saat ini, trader sebaiknya mengurangi frekuensi dan ukuran posisi. 

Advertisements

Apabila tetap ingin melakukan transaksi, trader disarankan untuk berfokus pada saham-saham likuid, memperketat batas kerugian atau cut loss, serta menghindari penggunaan fasilitas margin.

“Sekarang jaga modal lebih penting daripada mengejar rebound,” kata Wafi kepada Kontan, Selasa (4/11/2026).

Wafi menegaskan bahwa fundamental perusahaan tetap perlu menjadi acuan utama bagi investor dengan orientasi investasi jangka menengah, bukan sekadar memperhatikan pergerakan harga saham harian.

Sinyal Net Foreign Buy

Di tengah kondisi pasar yang lesu saat ini, sejumlah saham seperti ASII, BRIS, GOTO, PGAS, TOWR, ACES, KLBF, INTP dan SMGR justru mencatat net buy asing dalam periode 2-3 November 2026.

Total net buy untuk saham-saham tersebut mencapai Rp 165 miliar.

Wafi mengingatkan agar pelaku pasar tidak terburu-buru mengartikan aktivitas pembelian asing tersebut sebagai sinyal pembalikan arah pasar.

Pasalnya, periode pengamatan selama dua hari perdagangan masih terlalu singkat untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan investasi.

Ia menilai, mayoritas saham yang masuk dalam daftar tersebut merupakan saham berkapitalisasi besar non-high shareholding concentration (HSC).

Porsi saham-saham tersebut juga meningkat setelah adanya perubahan metodologi indeks. Maka dari itu, pembelian asing berpotensi merupakan bagian dari penyesuaian portofolio terhadap metodologi indeks yang baru.

Wafi menyarankan agar trader menjadikan aktivitas net foreign buy tersebut sebagai sinyal awal yang masih membutuhkan konfirmasi.

Pembelian asing perlu terlihat konsisten selama empat hingga enam pekan, terutama di pasar reguler dan disertai pergerakan harga saham yang sejalan.

Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengungkapkan faktor net foreign buy bisa membantu sentimen, tetapi kekuatan sinyalnya bergantung pada konsistensi pembelian beberapa pekan, transaksi di pasar reguler atau negosiasi, serta besarnya dibandingkan nilai transaksi saham tersebut. 

“Investor jangan menjadikan label dibeli asing sebagai pengganti analisis laba, arus kas, utang, valuasi, dan likuiditas, terutama pada saham HSC,” ucap Liza.

Untuk trading spekulatif, batasi total alokasi maksimal 20%–25% dari dana trading, hindari leverage, dan disiplin membatasi kerugian. Selain itu, strategi wait and see tetap layak sampai arah harga dan akumulasi lebih meyakinkan.

Advertisements

Also Read

Tags