Kekhawatiran belanja AI tekan saham Oracle, kekayaan Larry Ellison susut Rp 199 triliun

Hikma Lia

 

BANYU POS – – Ambisi besar Oracle mengembangkan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mulai menghadapi tekanan pasar. Pendiri sekaligus Chairman Oracle, Larry Ellison, kehilangan kekayaan sekitar USD 11 miliar atau setara Rp199,43 triliun dengan kurs Rp18.130 per dolar AS setelah saham perusahaan teknologi tersebut merosot ke level terendah dalam empat bulan. 

Advertisements

Penurunan itu terjadi ketika Oracle mengumumkan rencana menghimpun dana USD 20 miliar (Rp362,6 triliun) melalui penerbitan saham dan obligasi untuk mendukung kebutuhan bisnisnya, termasuk ekspansi AI. Dilansir dari Forbes, Selasa (3/11/2026), kekayaan Ellison turun menjadi sekitar USD 160 miliar (Rp2.900,8 triliun) pada Senin (2/11), berdasarkan estimasi Forbes Real-Time Billionaires. 

Namun, meski mengalami penyusutan besar, posisinya tidak berubah dan tetap berada di peringkat kedelapan orang terkaya dunia. Dia masih unggul tipis dari pemilik klub basket Los Angeles Clippers, Steve Ballmer, yang memiliki kekayaan sekitar USD 159,9 miliar.

Advertisements

Di pasar saham, tekanan terhadap Oracle terlihat dari penurunan harga saham sebesar 8,5 persen pada perdagangan Senin sore. Angka tersebut membawa saham perusahaan ke titik terendah sejak April. Secara keseluruhan, saham Oracle telah kehilangan sekitar 37 persen nilainya sepanjang 2026, setelah sempat mencapai puncak USD 248 per lembar pada Juni. 

Kekayaan Larry Ellison Susut USD 194 Miliar, Ekspansi AI Oracle Dibayangi Utang

Pemicu langsung tekanan tersebut adalah pengumuman penerbitan sekuritas baru melalui dua dokumen yang diajukan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (Securities and Exchange Commission/SEC). Oracle berencana menawarkan saham biasa senilai USD10 miliar (Rp181,3 triliun) dan obligasi senilai USD10 miliar. 

Dalam dokumen tersebut, perusahaan menjelaskan bahwa dana hasil penerbitan akan digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk belanja modal, pembayaran utang, investasi atau akuisisi, pembagian dividen tunai, serta pembelian kembali saham perusahaan.

Besarnya kebutuhan pendanaan itu tidak terlepas dari pembangunan pusat data dan kapasitas komputasi awan yang diperlukan untuk melayani pelanggan AI. Oracle tengah memperluas bisnis infrastruktur awannya untuk bersaing dengan pemain besar seperti Microsoft dan Amazon. Namun, ekspansi tersebut membutuhkan investasi jangka panjang, mulai dari pembangunan fasilitas pusat data hingga pengadaan perangkat keras berkapasitas tinggi.

Sebelumnya, dalam laporan keuangan kuartal I tahun fiskal 2027 yang dipublikasikan September, Oracle mencatat pertumbuhan pendapatan infrastruktur awan sebesar 121 persen. Perusahaan juga mengumumkan tambahan kontrak layanan cloud AI senilai lebih dari USD 30 miliar. Meski demikian, Oracle tetap mempertahankan proyeksi belanja tahunannya pada kisaran USD 90 miliar hingga USD 95 miliar. Pengeluaran modal perusahaan sepanjang tahun fiskal 2026 sendiri telah mencapai USD 55,7 miliar.

 

Persoalannya, pertumbuhan pendapatan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan keraguan investor mengenai kemampuan Oracle mengubah investasi besar menjadi keuntungan yang berkelanjutan. Reuters melaporkan, Oracle memiliki utang dan pinjaman lainnya sebesar USD 125,34 miliar per 31 Agustus, sementara pendapatan sepanjang tahun fiskal 2026 tercatat USD 67,36 miliar. Besarnya kewajiban tersebut membuat pasar semakin memperhatikan ketergantungan perusahaan terhadap pendanaan eksternal untuk membiayai ekspansi.

Kekhawatiran itu juga berkaitan dengan posisi Oracle dalam persaingan komputasi awan. Perusahaan belum memiliki skala pendapatan sebesar Microsoft dan Amazon, sementara sebagian besar eksposurnya terhadap bisnis AI berkaitan dengan OpenAI, pengembang ChatGPT yang belum mencatatkan keuntungan. Kondisi ini membuat investor mempertanyakan apakah kontrak AI bernilai besar nantinya mampu menghasilkan arus kas yang cukup untuk menutup biaya pembangunan infrastruktur.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Oracle Hilary Maxson berupaya meyakinkan investor mengenai arah pendanaan perusahaan. Dalam pertemuan investor pada 28 Oktober, dia mengatakan, “Kami mengumumkan bahwa tambahan pendanaan USD 20 miliar ini, yang dibagi rata antara utang dan saham, merupakan jumlah terakhir yang dibutuhkan untuk membiayai sisa siklus ini.”

Larry Ellison Ramal AI Ciptakan Pendapatan Universal dan Sembuhkan Mayoritas Kanker dalam 10 Tahun

Pada kesempatan yang sama, analis Emarketer Jacob Bourne menilai, “Oracle berupaya menunjukkan kepada investor bahwa ada perhitungan di balik besarnya pengeluaran untuk infrastruktur AI.” Menurutnya, proyeksi perusahaan memang ambisius dan belum terjamin, tetapi menunjukkan bahwa Oracle memahami kekhawatiran investor.

Di sisi lain, Oracle tetap mempertahankan target pendapatan melampaui USD 225 miliar pada tahun fiskal 2030, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan pendapatan fiskal 2026. Perusahaan juga memperkirakan belanja modal mencapai puncaknya pada tahun fiskal 2027 dan 2028 sebelum mulai menurun. 

Advertisements

Also Read

Tags