KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia mencatatkan penguatan secara mingguan meski terkoreksi pada akhir perdagangan Jumat (6/11/2026). Namun, pergerakan emas pada pekan depan masih dibayangi penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik global berpotensi menopang permintaan emas sebagai aset safe haven.
Melansir Bloomberg, harga emas dunia pada penutupan perdagangan Jumat (6/11/2026) berada di US$ 4.070,80 per ons troi, melemah 0,42% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kendati demikian, dalam sepekan harga emas masih menguat 5,02%.
Sementara itu, harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) pada Minggu (8/11/2026) tercatat sebesar Rp 2.545.000 per gram. Berdasarkan informasi dari situs resmi Logam Mulia, harga tersebut tidak berubah dibandingkan perdagangan Sabtu (7/11/2026).
Harga Minyak WTI Terkoreksi 12,76% Sepekan, Simak Proyeksi Pekan Depan
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen yang membayangi pergerakan harga emas adalah prospek kebijakan moneter AS. Data tenaga kerja AS yang masih menunjukkan kinerja positif, sementara inflasi belum mendekati target 2%, membuka peluang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.
Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS. Kondisi ini menjadi tantangan bagi harga emas karena membuat logam mulia yang dihargakan dalam dolar AS relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
“Data tenaga kerja masih bagus walaupun dalam kondisi inflasi tinggi. Di sisi lain, inflasi di Amerika masih belum mendekati 2%. Artinya, inflasi di Amerika masih cukup tinggi walaupun harga minyak mengalami penurunan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (8/11/2026).
Meski demikian, tekanan dari kebijakan moneter AS bukan satu-satunya sentimen yang memengaruhi harga emas. Ketidakpastian geopolitik, terutama ketegangan antara AS dan Iran, masih berpotensi meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Ibrahim bilang, proses negosiasi antara AS dan Iran yang dimediasi Qatar belum tentu menghasilkan kesepakatan damai. Persoalan program nuklir Iran masih menjadi salah satu hambatan utama. Selain itu, konflik Rusia dan Ukraina juga berpotensi kembali memanas apabila upaya perdamaian kedua negara tidak berjalan sesuai harapan.
Menurut Ibrahim, berlanjutnya ketegangan geopolitik tersebut dapat mendorong investor kembali memburu aset safe haven. Dengan demikian, meskipun penguatan dolar AS berpotensi menekan emas dalam jangka pendek, risiko geopolitik masih menjadi faktor penopang harga logam mulia.
Untuk perdagangan pekan depan, harga emas dunia berpeluang menjangkau area US$ 4.269 per ons troi apabila bergerak menguat. Sebaliknya, jika tekanan berlanjut, harga emas berpotensi turun hingga US$ 3.955 per ons troi.
Adapun harga emas Antam, Ibrahim memperkirakan penguatan berpeluang membawa harga ke level Rp 2,6 juta per gram. Namun, jika tekanan jual berlanjut, harganya berpotensi terkoreksi hingga Rp 2,41 juta per gram pada pekan depan.
Mata Uang Asia Volatil, Rupiah Diproyeksi Bergerak hingga Rp 18.350




