
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pengelola jaringan ritel Alfamart, menunjukkan optimisme tinggi terhadap peningkatan kinerja keuangan yang signifikan menjelang periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Proyeksi positif ini didukung oleh berbagai faktor pendorong yang siap mengerek pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas perusahaan.
Menurut Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, kepercayaan diri AMRT berlandaskan pada pemulihan daya beli masyarakat yang mulai terlihat pada kuartal IV-2025. Pulihnya daya beli ini semakin kuat dengan adanya penyaluran bantuan sosial pemerintah senilai sekitar Rp 30 triliun, ditambah lagi dengan efek musiman akhir tahun yang memang kerap mendorong peningkatan konsumsi. Kondisi makroekonomi yang semakin kondusif ini menjadi katalis utama bagi kinerja perusahaan ritel.
Abida memprediksi bahwa segmen food & groceries, meliputi kebutuhan pokok, produk konsumsi harian, dan seasonal goods, akan mengalami lonjakan permintaan yang substansial. Tidak hanya itu, segmen non food dengan marjin lebih tinggi seperti produk rumah tangga dan personal care juga diperkirakan akan ikut terangkat. Lonjakan permintaan ini tak lepas dari identitas Nataru sebagai pendorong utama peningkatan konsumsi rumah tangga, perayaan keluarga, serta aktivitas perjalanan. Fenomena ini secara historis terbukti mampu meningkatkan traffic toko dan average basket size AMRT, terutama di wilayah luar Jawa yang mencatat pertumbuhan paling agresif.
Mengenai pergerakan harga saham AMRT, Abida menilai pelemahan yang terjadi dalam sepekan terakhir lebih mencerminkan sentimen pasar jangka pendek akibat kekhawatiran daya beli di kuartal III-2025 dan minimnya katalis, bukan pelemahan fundamental perusahaan. Dari sisi valuasi, saham AMRT saat ini diperdagangkan pada kisaran 25 kali price to earnings ratio (PER) 2025, angka yang relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata historis lima tahun. Padahal, prospek kinerja pada kuartal IV-2025 justru dinilai membaik secara signifikan, didukung oleh katalis Nataru, rencana ekspansi sekitar 1.000 gerai baru, serta peningkatan efisiensi logistik melalui penambahan distribution center.
Dengan demikian, fase koreksi harga saham AMRT saat ini justru membuka peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap. Investor disarankan untuk tetap mencermati pergerakan same store sales growth (SSSG) dan marjin operasional sebagai indikator kunci keberlanjutan pemulihan kinerja perusahaan.
Sejalan dengan pandangan tersebut, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menambahkan bahwa kinerja Same Store Sales Growth (SSSG) AMRT masih menunjukkan stabilitas yang terjaga di kisaran mid single digit, yaitu antara 4%–6%. Lebih lanjut, realisasi pembukaan gerai baru telah mencapai sekitar 800 unit atau setara 80% dari target tahun 2025. Kondisi ekspansi jaringan yang masif ini, menurut Audi, secara signifikan menopang pertumbuhan AMRT di berbagai wilayah.
Audi juga meyakini bahwa ekspansi gerai dan SSSG yang stabil ini akan berdampak positif pada kinerja kuartal IV-2025, meskipun SSSG cenderung tumbuh pada level single digit. Secara historis, periode menjelang Nataru memang kerap diikuti oleh peningkatan pendapatan, seperti yang terlihat pada kuartal IV-2024 yang mencatat pertumbuhan sekitar 11% secara tahunan. Penurunan harga saham AMRT yang mencapai sekitar 32,98% secara year to date (YTD) turut membuat valuasinya dinilai semakin menarik, dengan rasio PE saat ini berada di bawah rata-rata tiga tahun. Oleh karena itu, investor dapat memanfaatkan peluang di tengah momentum ekspansi gerai yang mendorong kenaikan bottom line hingga potensi peningkatan konsumsi menjelang akhir tahun.
Rekomendasi Saham
Berdasarkan analisis tersebut, Oktavianus Audi merekomendasikan trading buy untuk saham AMRT dengan target harga Rp 2.160 per saham. Sementara itu, Abida Massi Armand menilai saham AMRT masih sangat menarik untuk dikoleksi dengan rekomendasi beli, seiring proyeksi pertumbuhan laba yang meningkat pada semester II-2025 serta perbaikan marjin bersih perusahaan. Target harga konsensus saham AMRT berada di kisaran Rp 3.000 per saham, mencerminkan potensi upside yang menarik dari level saat ini, didukung oleh normalisasi konsumsi, ekspansi jaringan toko yang berkelanjutan, dan efisiensi biaya operasional yang terus ditingkatkan.




