Harga nikel tembus US$ 18.000 per ton, mayoritas harga saham emiten nikel melesat

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Mayoritas saham emiten produsen nikel di Bursa Efek Indonesia mencatatkan lonjakan harga yang impresif. Kenaikan signifikan ini terjadi di tengah tren penguatan harga komoditas nikel di pasar global, yang kembali menarik perhatian para pelaku pasar.

Advertisements

Melansir data dari Trading Economics, harga nikel di pasar global mencapai level US$ 18.506 per ton pada Rabu (7/1) siang. Angka ini merupakan lonjakan drastis sebesar 24,33% dalam sebulan terakhir. Jika ditelusuri lebih lanjut, tren penguatan harga nikel ini mulai terlihat konsisten sejak pertengahan Desember 2025, memberikan sinyal positif bagi prospek komoditas ini.

Sebelum momentum penguatan ini, harga nikel lebih sering bergerak volatil di sekitar area US$ 15.000 per ton. Bahkan, pada awal Desember lalu, komoditas strategis ini sempat terkoreksi cukup dalam, menyentuh kisaran level US$ 14.000 per ton, sebelum akhirnya menemukan pijakan untuk bangkit kembali.

Mitra Komunikasi Nusantara (MKNT) Raih Rp 822,92 Miliar, Siap Caplok Dua Perusahaan

Advertisements

Sejalan dengan tren positif komoditasnya, sejumlah saham emiten nikel utama juga terpantau mengalami penguatan harga yang substansial pada perdagangan intraday Rabu (7/1). Salah satunya adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO), yang sahamnya melesat tajam 13,33%, mengukuhkan posisinya di level Rp 6.375 per saham.

Penguatan serupa juga dialami oleh saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), yang dikenal sebagai Harita Nickel, dengan kenaikan 8,46% mencapai Rp 1.410 per saham. Tak ketinggalan, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turut membukukan kenaikan harga saham sebesar 4,55% ke level Rp 690 per saham. Sementara itu, PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) juga mencatat performa positif dengan kenaikan 3,12%, membawa harga sahamnya ke level Rp 990 per saham.

Namun, tidak semua emiten nikel ikut menikmati reli penguatan ini. Berbeda arah, harga saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) justru melemah tipis 0,27%, ditutup di level Rp 1.835 per saham. Perlu dicatat, saham NICL saat ini juga tengah dalam pengawasan ketat Bursa Efek Indonesia (BEI) dan berstatus Unusual Market Activity (UMA), menandakan adanya aktivitas perdagangan yang tidak biasa.

Unilever (UNVR) Melepas Bisnis Teh Sariwangi Rp 1,5 Triliun

Advertisements

Also Read

Tags