Prospek emiten kertas ditopang ekspansi & kenaikan harga pulp, cek rekomendasi analis

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek emiten kertas diperkirakan tetap menunjukkan tren positif hingga tahun 2026, meskipun harga pulp global terus mengalami peningkatan.

Advertisements

Abida Massi Armand, Analis Fundamental dari BRI Danareksa Sekuritas, menjelaskan bahwa dampak kenaikan harga pulp, yang kini mencapai CNY 5.526 per ton, sangat bergantung pada struktur produksi yang dimiliki oleh masing-masing emiten.

Ia menyoroti bahwa PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) menjadi salah satu perusahaan yang justru meraih keuntungan dari kondisi ini, berkat integrasi penuh dari sisi hulu produksi.

“Bagi emiten besar yang terintegrasi, seperti INKP, lonjakan harga pulp justru menjadi katalis positif yang mampu mempertebal margin keuntungan. Mereka memiliki kemampuan untuk mengontrol biaya produksi sekaligus memanfaatkan kenaikan harga jual produk,” jelas Abida kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).

Advertisements

Prospek Saham Emiten Pulp dan Kertas Masih Moderat hingga 2026, Ini Kata Analis

Faktor pendukung lainnya adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp 16.780 per dolar Amerika Serikat. Kondisi ini memberikan keuntungan signifikan bagi emiten dengan porsi ekspor yang substansial.

“Pelemahan rupiah menghasilkan keuntungan kurs bagi emiten yang berorientasi ekspor, sehingga menjaga profitabilitas sektor ini tetap solid, meskipun harga bahan baku mengalami volatilitas,” tambahnya.

Dari sisi permintaan, Abida melihat prospek pasar kertas industri tetap stabil. Ia memaparkan bahwa pertumbuhan yang pesat serta meningkatnya kebutuhan akan kemasan ramah lingkungan akan terus menopang tren permintaan sepanjang tahun.

“Secara global, permintaan karton kemasan dan tisu diproyeksikan tumbuh dengan CAGR mendekati 4%. Sementara itu, di Indonesia, pasar kemasan kertas berpotensi tumbuh sekitar 6%, didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga,” ungkapnya.

Abida juga menambahkan bahwa pasar China, yang menyerap lebih dari sepertiga suplai pulp dunia, masih menjadi destinasi ekspor utama. Hal ini memastikan bahwa kapasitas produksi emiten domestik diperkirakan akan tetap terserap dengan baik.

Cermati Rekomendasi dan Target Harga Saham Emiten Kertas INKP dan TKIM

Lebih lanjut, Abida menyoroti adanya katalis besar yang berpotensi mendorong kinerja INKP pada tahun 2026. Salah satunya adalah beroperasinya penuh pabrik baru INKP di Karawang, yang akan menambah kapasitas produksi hingga 2,4 juta ton per tahun.

“Ekspansi ini bersifat transformasional. Fokus pendapatan akan semakin bergeser ke segmen kertas industri, yang menawarkan margin lebih tinggi dan permintaan yang lebih stabil,” ujarnya.

Selain itu, ia menyebut potensi lonjakan laba per saham (EPS) untuk beberapa emiten bisa mencapai lebih dari 100%. Ekspektasi penurunan suku bunga global juga diharapkan akan memberikan dorongan tambahan bagi sektor ini.

Namun, di tengah prospek yang cerah, Abida mengingatkan investor untuk tetap mencermati risiko implementasi pajak karbon yang direncanakan mulai berlaku tahun ini. “Tarif minimal Rp30.000 per ton emisi CO2e berpotensi meningkatkan tekanan biaya bagi emiten dengan intensitas emisi yang tinggi,” katanya.

Regulasi perdagangan internasional, seperti tarif impor dari Amerika Serikat dan pengetatan standar lingkungan di Eropa, juga dinilai perlu diwaspadai sebagai risiko tambahan.

Meskipun demikian, emiten yang proaktif berinvestasi dalam efisiensi energi dan teknologi hijau disebut memiliki peluang lebih besar untuk mengakses pendanaan serta mempertahankan daya saing di pasar global.

Simak! Ini Penyebab Kinerja Emiten Kertas INKP dan TKIM Anjlok di Semester I-2025

Dari sisi valuasi, Abida menilai saham sektor kertas masih tergolong sangat murah. Ia menegaskan bahwa beberapa saham diperdagangkan di bawah 0,5 kali nilai buku mereka.

“Kami merekomendasikan BUY untuk INKP dengan target harga Rp11.000. Sementara itu, untuk TKIM, kami sarankan akumulasi di target harga Rp9.000,” tegasnya.

Toba Pulp Lestari (INRU) Bantah Tuduhan Penyebab Banjir Sumatera

Dari perspektif teknikal, Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, berpendapat bahwa INKP dan TKIM masih menarik untuk strategi beli saat terjadi pelemahan harga (buy on weakness).

“INKP berada di area support 8.825 dan resistance 9.950, dengan potensi penguatan menuju level 10.100 hingga 10.650,” jelas Herditya. Adapun TKIM, lanjutnya, menunjukkan kecenderungan yang serupa.

“TKIM memiliki support di 7.575 dan resistance 8.150. Target kenaikan untuk TKIM masih terbuka hingga level 8.200 sampai 8.450,” pungkasnya.

Sementara itu, tiga saham lain, yaitu KBRI, SWAT, dan INRU, tercatat belum diperdagangkan hingga Kamis, (8/1/2026).

Advertisements

Also Read

Tags