KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) secara konsisten memacu beragam ekspansi diversifikasi bisnis untuk jangka panjang, sebuah langkah strategis guna mendorong pemulihan kinerja perseroan.
Saat ini, ADMR tengah memaksimalkan operasional bertahap beberapa tungku (pot) smelter aluminium yang dikembangkan oleh anak perusahaannya, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI). Manajemen mengungkapkan, proyek smelter aluminium ini dirancang dalam tiga tahap ambisius dengan total kapasitas mencapai 1,5 juta ton aluminium ingot per tahun. Untuk fase pertama, smelter ini diproyeksikan akan memiliki kapasitas produksi hingga 500.000 ton aluminium ingot per tahun. Fase awal smelter ini, yang saat ini dalam tahap pembangunan, akan menggunakan pembangkit berbasis batubara. Sementara itu, tahap kedua yang mengandalkan tenaga air (hydropower) dijadwalkan mencapai tanggal operasi komersial (COD) pada awal 2031. Produksi dari smelter tahap pertama nantinya akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Meskipun prospek jangka panjangnya cerah, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, berpandangan bahwa ekspansi smelter aluminium ini akan menjadi katalis positif bagi kinerja ADMR, namun dampaknya belum akan terasa dalam waktu dekat. “Di tahun 2026 dampaknya terbatas karena produksi optimal baru tercapai di akhir tahun, kontribusi signifikan ke laba diperkirakan baru terasa pada 2027,” ungkap Sukarno kepada Kontan, Kamis (8/1/2026). Ia menambahkan, pada tahun 2026, kinerja ADMR diperkirakan masih akan ditopang kuat oleh segmen batubara metalurgi, seiring dengan terbukanya peluang pemulihan kinerja di tengah stabilisasi harga dan basis kinerja 2025 yang relatif rendah.
Senada, Equity Research Analyst Ajaib Sekuritas, Rizal Rafly, mengamini proyeksi bahwa harga batubara metalurgi global akan tetap tinggi dalam jangka pendek, dengan rata-rata sekitar US$200 per ton pada tahun 2026. Hal ini didukung oleh permintaan yang kuat dari India dan Asia Tenggara di tengah pengetatan pasokan global. Ia menjelaskan bahwa Australia, yang menyumbang lebih dari 50% perdagangan batubara metalurgi seaborne global, sedang menghadapi penutupan tambang serta gangguan cuaca. Di sisi lain, ekspor Rusia masih tertekan oleh sanksi dan kendala logistik. “Dengan minimnya proyek baru dan produksi baja Asia yang tetap resilien, pasar diperkirakan tetap ketat hingga 2027, ini menjaga harga jauh di atas rata-rata pra-pandemi sebesar US$150 per ton,” jelas Rizal dalam riset 20 Oktober 2026.
Lebih lanjut, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Thomas Radityo, memperingatkan bahwa meskipun prospek ADMR cenderung positif, sejumlah risiko penting masih perlu dicermati oleh para investor. Pertama, risiko penurunan kinerja dapat berasal dari volatilitas harga batubara dan aluminium yang berpotensi memengaruhi pendapatan dan margin perseroan secara signifikan. Selain itu, potensi hambatan operasional yang mengganggu percepatan volume produksi batubara juga berisiko menekan kinerja. Dari sisi ekspansi, keterlambatan realisasi proyek aluminium dapat menunda kontribusi pendapatan baru yang diharapkan. “Di luar itu, perubahan kebijakan dan regulasi pemerintah turut menjadi faktor risiko yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan usaha dan kinerja perseroan ke depan,” ujar Thomas dalam riset 3 November 2026.
Sepanjang periode Januari hingga September 2025, ADMR membukukan pendapatan sebesar US$675,1 juta, mengalami penurunan 19,7% secara tahunan (yoy). Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar US$204,2 juta, turun 38,7% secara yoy. Namun, Sukarno menilai bahwa penurunan pendapatan pada sembilan bulan 2025 yang dipicu oleh koreksi average selling price (ASP) tersebut bersifat sementara. Dengan demikian, ia optimis bahwa pendapatan dan laba perusahaan berpeluang kembali mencatatkan pertumbuhan moderat pada tahun 2026.
Dengan berbagai pertimbangan di atas, Sukarno dari Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham ADMR dengan target harga Rp 2.000 per saham. Di sisi lain, Thomas dari Ciptadana Sekuritas Asia merekomendasikan hold saham ADMR dengan target harga Rp 1.400 per saham. Sementara itu, Analis J.P. Morgan Sekuritas Indonesia, Arnanto Januri, merekomendasikan overweight untuk saham ADMR dengan target harga yang lebih tinggi, yakni Rp 2.170 per saham.




