IHSG berpotensi lanjutkan koreksi, simak saham rekomendasi analis untuk Jumat (9/1)

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Pergerakan pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik. Setelah serangkaian penguatan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berbalik arah dan mengakhiri perdagangan Kamis (8/1/2026) di zona merah. Koreksi ini menandai berakhirnya reli yang telah dinantikan banyak investor.

Advertisements

Pada penutupan sesi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG tercatat terkoreksi sebesar 0,22% atau setara dengan penurunan 19,34 poin, sehingga parkir di level 8.925,47. Aktivitas perdagangan saham pada hari tersebut mencatatkan total volume mencapai 54,78 miliar saham dengan nilai transaksi yang substansial sebesar Rp 28,45 triliun. Meskipun demikian, sentimen negatif lebih mendominasi, terlihat dari 370 saham yang melemah, berbanding 302 saham yang menguat, sementara 138 saham lainnya stagnan.

Reza Diofanda, Analis teknikal dari BRI Danareksa Sekuritas, menjelaskan bahwa meskipun IHSG sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (All-Time High/ATH) di level 9.002 secara intraday, momentum penguatan tersebut gagal dipertahankan hingga penutupan. Hal ini disebabkan oleh tekanan jual yang kuat dan aksi profit taking yang melanda, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar. Saham-saham seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi sasaran utama aksi jual ini. Reza menegaskan kepada Kontan pada Kamis (8/1) bahwa kondisi tersebut adalah “respons wajar pasar setelah reli signifikan dalam beberapa hari terakhir.”

IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Rabu (7/1)

Advertisements

Senada dengan pandangan tersebut, Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, mengamati bahwa sektor material dasar mengalami koreksi paling signifikan. Koreksi ini juga dipicu oleh aksi profit taking setelah sektor tersebut mencatat reli impresif dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, sektor transportasi menunjukkan pembalikan arah positif atau rebound, sehingga berhasil membukukan penguatan terbesar.

Tidak hanya pasar saham, nilai tukar rupiah juga turut merasakan tekanan. Pada perdagangan hari ini, rupiah kembali melemah hingga mencapai level Rp 16.785 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Menurut Alrich kepada Kontan pada Kamis (8/1/2026), pelemahan rupiah ini “didukung oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik global serta defisit APBN 2025 yang lebih besar dari target.”

Menjelang perdagangan Jumat (9/1/2026), Reza memproyeksikan IHSG masih berpotensi bergerak volatil, meski dengan kecenderungan tekanan jual yang terbatas. Hal ini diperkirakan akan terjadi seiring dengan berlanjutnya aksi profit taking dalam jangka pendek, ditambah lagi dengan kondisi teknikal IHSG yang sudah memasuki area overbought, menunjukkan bahwa indeks telah mengalami kenaikan signifikan dan mungkin akan mengalami koreksi.

Investor juga akan memusatkan perhatian pada sejumlah sentimen penting yang dapat memengaruhi pergerakan pasar. Reza menyebutkan, “Yaitu, Data Consumer Confidence Indonesia, serta rilis data global seperti Non-Farm Payroll (NFP) AS dan Unemployment Rate AS.” Berdasarkan analisisnya, Reza memproyeksikan IHSG akan bergerak dengan level resistance di 8.960 – 9.000 dan level support di 8.895 – 8.910 pada perdagangan Jumat (9/1/2026).

IHSG Berpeluang Tembus 9.000, Cermati Saham Rekomendasi Analis

Dari perspektif analisis teknikal, Alrich menyoroti bahwa indikator Stochastic RSI IHSG di akhir perdagangan hari ini berada di area overbought, yang mengindikasikan tekanan jual akan meningkat dan berpotensi membentuk Death Cross. Pola ini, ditambah dengan pembentukan pola Shooting Star, semakin memperkuat sinyal potensi pembalikan arah tren setelah IHSG mencatatkan reli dalam beberapa hari terakhir dan mencapai level tertinggi baru. Oleh karena itu, Alrich memproyeksikan bahwa IHSG berpotensi melanjutkan koreksinya untuk menguji level 8.850-8.900 pada perdagangan esok hari.

Sentimen domestik turut menjadi faktor penentu. Alrich mencatat bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Desember 2025 mencapai Rp 695,1 triliun, atau setara dengan 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dari defisit tahun 2024 yang sebesar 2,3% dari PDB, bahkan melampaui target defisit APBN 2025 yang dipatok 2,53% dari PDB. Keseimbangan primer APBN juga mencatatkan defisit sebesar Rp 180,7 triliun. Adapun realisasi penerimaan negara tercatat Rp 2.756,3 triliun, atau 91,7% dari target, sementara “realisasi belanja negara sebesar Rp 2.602,3 triliun atau 96,3% dari anggaran,” tambah Alrich.

Di sisi lain, terdapat kabar baik dari cadangan devisa Indonesia yang menunjukkan peningkatan signifikan. Pada Desember 2025, cadangan devisa naik menjadi US$156,5 miliar dari US$150,1 miliar pada November 2025. Kenaikan ini didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global oleh pemerintah, serta penarikan pinjaman luar negeri. Level cadangan devisa ini merupakan yang tertinggi sejak Maret 2025, dan dinilai setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Untuk sentimen selanjutnya, Alrich menyebutkan bahwa “investor esok hari akan menantikan data consumer confidence dan penjualan otomotif” yang berpotensi memberikan arah baru bagi pasar.

Emiten Jasa Pendukung Bisnis Dinilai Cerah pada 2026, Cek Saham Rekomendasi Analis

Mengingat proyeksi dan sentimen yang ada, Alrich Paskalis Tambolang memberikan rekomendasi saham menarik bagi investor untuk perdagangan esok. Saham-saham yang patut dicermati adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), PT Sentul City Tbk (BKSL), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).

Di sisi lain, Reza Diofanda juga mengeluarkan daftar saham pilihan yang dapat menjadi fokus investor pada perdagangan esok hari:

  1. PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA)
    Buy on Breakout : Rp 520 per saham
    Resistance : Rp 535 – Rp 560 per saham
    Stop Loss jika di bawah Rp 500 per saham
  2. PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD)
    Buy Area : Rp 214 – Rp 224 per saham
    Resistance : Rp 242 – Rp 252 per saham
    Stop Loss jika di bawah Rp 204 per saham
  3. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
    Buy on Weakness : Rp 428 – Rp 440 per saham
    Resistance : Rp 476 – Rp 480 per saham
    Stop Loss jika di bawah Rp 410 per saham

IHSG Diprediksi Menguat di Perdagangan Hari Pertama 2026, Cek Saham Pilihan Analis

Advertisements

Also Read

Tags