Dana asing mengalir deras di awal 2026, intip saham yang masih potensial dikoleksi

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Walaupun di tutup melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menyentuh level 9.000 pada intraday perdagangan Kamis (8/1/2026). Investor asing juga mencatatkan net buy sebesar Rp 950,23 miliar di seluruh pasar. 

Advertisements

Sejak awal tahun 2026 ini, aliran dana investor asing sudah mengalir dengan kencang. Adapun secara year to date, investor asing sudah mencatatkan net buy sebesar Rp 1,97 triliun di seluruh pasar. 

Berdasarkan data RTI, investor asing terpantau mengakumulasi saham-saham tambang mineral. Sejak awal tahun hingga Kamis (8/1), asing mencatatkan net buy jumbo pada saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp 936,8 miliar. 

IHSG Tembus 8.000, Dana Asing Malah Cabut dari Pasar Saham

Advertisements

Disusul saham PT Astra International Tbk (ASII) yang mencatatkan net buy sebesar Rp 359,3 miliar. Investor asing juga mencatatkan net buy pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 348,2 miliar. 

Lalu di sektor tambang mineral, investor asing juga mengakumulasi saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dengan masing-masing net buy sebesar Rp 302,7 miliar dan Rp 242,7 miliar. 

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengatakan walaupun eskalasi geopolitik yang tengah memanas, investor asing mencari bursa saham yang relatif stabil. 

  ANTM Chart by TradingView  

“Stabilnya ekonomi khususnya di pasar saham Asia, selain itu valuasi IHSG masih tergolong wajar dan menawarkan kenaikan yang menarik bagi investor global,” katanya kepada Kontan, Kamis (8/1/2026). 

Dana Asing Masih Keluar dari Pasar Saham, Cermati Rekomendasi Analis

Ditambah lagi, lanjut Miftahul, potensi kebijakan moneter yang semakin longgar alias penurunan suku bunga pada 2026 menjadi katalis tambahan bagi emerging market, terutama Indonesia. 

Memang kalau dicermati, indeks IDX sektor bahan baku menjadi indeks sektoral dengan kenaikan paling tinggi di 2026. Indeks IDX sektor bahan baku sudah melonjak 10,16% secara year to date. 

Miftahul menilai sektor pertambangan khususnya mineral ini merupakan salah satu sektor yang diuntungkan dengan sentimen geopolitik awal tahun. Namun trennya berpotensi berubah sampai akhir tahun ini. 

Aliran Dana Asing Masih Menguap di Pasar Saham, Ini Biang Keroknya

“Sektor mineral diuntungkan dengan sentimen geopolitik, tetapi tren ini akan sangat bergantung dengan harga komoditas yang juga dipengaruhi oleh eskalasi dan juga supply and demand,” ucapnya. 

Chory Agung Ramdhani, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan pada 2026 aliran modal asing atau foreign inflow akan terkonsentrasi pada tiga tema besar.

Pertama, perbankan big cap tetap menjadi pintu utama asing masuk ke Indonesia. Kedua, adanya pemulihan konsumsi dan suku bunga akan mendorong saham-saham yang mendapat angin segar dari sentimen ini. 

“Dengan pemulihan Konsumsi dan suku bunga, saham ASII dan TLKM diprediksi akan bertransisi dari saham yang ditinggalkan pada 2025 menjadi incaran utama di 2026,” jelas Chory. 

Duit Asing Kembali Parkir di Bursa Saham

Ketiga, perusahaan di sektor mineral strategis. Menurut, Chory saham ANTM dan AMMN tetap menarik selama isu transisi energi dan penguatan harga emas global berlanjut sampai akhir tahun.

Sementara itu, Kiwoom Sekuritas menilai sektor mineral dengan exposure EMAS seperti saham ANTM dan HRTA cukup menarik di awal 2026. Selain itu, saham di sektor properti dan perbankan juga punya potensi untuk jadi incaran asing. 

  BBRI Chart by TradingView  

Miftahul menjabarkan saham seperti GPRA, BSDE, SMRA, BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI punya peluang yang lebih baik di tahun ini dengan sentimen tren suku bunga yang semakin suportif atau mendukung untuk sektor properti dan perbankan. 

Advertisements

Also Read

Tags