Dorong hilirisasi batubara, MIND ID menggandeng Pertamina, simak dampaknya ke PTBA

Hikma Lia


BANYU POS JAKARTA. Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmen kuat dalam mendorong hilirisasi batubara, sebuah langkah strategis untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional. Upaya terbaru yang signifikan datang dari holding industri pertambangan, Mind Id, yang secara resmi menjalin kerja sama dengan Pertamina, raksasa energi milik negara.

Advertisements

Kolaborasi vital ini dirancang untuk mengakselerasi transformasi batubara menjadi berbagai produk energi alternatif bernilai tinggi. Fokus utamanya adalah pengembangan synthetic natural gas (SNG), dimethyl ether (DME), dan metanol. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari penguatan rantai nilai mineral, batubara, dan energi nasional secara menyeluruh.

Menurut Chief Technology Officer Danantara Indonesia, Sigit P. Santosa, kemitraan antara Mind Id dan Pertamina merefleksikan pendekatan terintegrasi yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan sistem energi nasional. Indonesia, sebagai negara berkembang, memerlukan diversifikasi energi yang kokoh untuk menopang laju pembangunannya secara berkelanjutan.

Sigit menegaskan, “Kolaborasi dan sinergi antar-BUMN strategis dapat memperkuat fondasi energi nasional. Hilirisasi berbasis teknologi menjadi instrumen penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik sekaligus membangun sistem energi yang lebih tangguh, efisien, dan berorientasi jangka panjang.” Pernyataan ini disampaikan Sigit dalam keterangan resminya pada Sabtu (10/1).

Advertisements

Senada dengan pandangan tersebut, Direktur Utama Mind Id, Maroef Sjamsoeddin, menekankan bahwa kerja sama ini adalah manifestasi dari komitmen untuk memperkuat struktur industri dalam negeri. Pengembangan rantai nilai mineral, batubara, dan energi di tanah air adalah kunci menuju kemandirian ekonomi.

Melalui sinergi dengan Pertamina, Mind Id bertekad mendorong hilirisasi yang tidak hanya menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi juga signifikan dalam mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan daya saing industri, membuka lapangan kerja baru, serta yang terpenting, memperkuat ketahanan energi nasional untuk jangka panjang.

Maroef menambahkan, “Mind Id, melalui Bukit Asam (PTBA) yang akan berperan sebagai pemasok utama, bersama-sama dengan Pertamina, akan mengawasi setiap tahap kerja sama ini hingga nantinya dapat direalisasikan dan dirasakan manfaatnya.” Hal ini menegaskan peran sentral PTBA dalam penyediaan bahan baku.

Dalam kerangka kolaborasi ini, Pertamina mengambil peran krusial sebagai offtaker dan agregator infrastruktur distribusi. Dengan keunggulan jaringan distribusi yang luas dan terintegrasi, Pertamina memastikan bahwa hasil hilirisasi batubara dapat terserap dan tersalurkan secara efektif kepada masyarakat maupun sektor industri, berfungsi sebagai substitusi strategis untuk energi impor.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyatakan kesiapannya untuk mengoptimalkan infrastruktur distribusi Pertamina dalam mendukung program hilirisasi melalui kerja sama dengan Mind Id ini. “Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan memastikan energi yang lebih terjangkau tersedia bagi rakyat,” ujar Simon, menggarisbawahi dampak positif langsung bagi masyarakat.

Sementara itu, PH Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, memastikan kesiapan perusahaan dengan menyatakan bahwa PTBA telah menyiapkan cadangan batubara yang lebih dari cukup untuk mendukung program hilirisasi secara jangka panjang. “Kami sangat terbuka terhadap peluang kolaborasi dengan mitra global yang memiliki keunggulan teknologi,” ungkap Eko pada Jumat (9/1), mengindikasikan prospek kemitraan strategis.

Namun, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, memberikan perspektif analitis terkait tantangan proyek ini. Menurut Wafi, jika proyek DME mulai direalisasikan pada awal 2026, hal ini berpotensi membebani arus kas jangka pendek PTBA. Alasannya, kebutuhan belanja modal (capex) proyek di fase konstruksi cukup besar, tanpa adanya potensi pendapatan instan.

Lebih lanjut, Wafi menyoroti risiko proyek DME yang tergolong tinggi, terutama dari sisi keekonomian harga jual DME dibandingkan dengan LPG. Oleh karena itu, ia merekomendasikan agar PTBA menggandeng mitra strategis yang membawa teknologi gasifikasi batubara teruji dan menerapkan struktur pendanaan berbasis project financing yang terpisah dari induk usahanya.

Terakhir, Wafi menekankan bahwa kepastian offtake agreement antara pemerintah dan PT Pertamina dengan skema harga yang menguntungkan merupakan syarat mutlak untuk menjamin kelayakan bisnis dan mitigasi risiko kerugian atas proyek DME di masa depan. Hal ini krusial untuk memastikan keberlanjutan dan profitabilitas investasi jangka panjang.

Advertisements

Also Read

Tags