
BANYU POS JAKARTA. PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) sukses mencatatkan kinerja operasional yang positif sepanjang tahun 2025. Emiten pertambangan batubara ini kini berada di posisi strategis untuk menggeber akselerasi produksi secara signifikan pada tahun 2026, didukung oleh optimalisasi menyeluruh atas seluruh wilayah Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) yang berada di bawah pengelolaannya.
Sepanjang 2025, IATA berhasil memproduksi 3,56 juta ton batubara. Angka penjualan juga impresif, mencapai 3,38 juta ton atau setara dengan sekitar 80% dari target Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2025 yang telah ditetapkan. Capaian positif ini menjadi indikator kuat potensi pertumbuhan perseroan.
“Capaian ini didukung oleh dimulainya produksi IUP-OP PT Arthaco Prima Energy sejak kuartal III-2025, yang terus memperkuat basis operasional IATA,” demikian pernyataan Manajemen IATA dalam siaran pers yang diterima Kontan, Sabtu (10/1).
Memasuki tahun 2026, IATA membidik target produksi yang jauh lebih ambisius, yakni hingga 7,85 juta ton. Angka ini menandakan lonjakan fantastis sebesar 179% dibandingkan target RKAB 2025. Produksi batubara yang meroket ini akan ditopang oleh kontribusi signifikan dari beberapa perusahaan entitas anak, antara lain PT Arthaco Prima Energy (APE) dengan target 3 juta ton, PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE) sebesar 1,10 juta ton, dan PT Putra Muba Coal (PMC) sebesar 3,75 juta ton.
Dorong Hilirisasi Batubara, Mind Id Menggandeng Pertamina, Simak Dampaknya ke PTBA
Manajemen IATA menambahkan bahwa target produksi tahun 2026 ini bersifat indikatif, mengingat pengajuan RKAB ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia masih dalam proses persetujuan. Optimisme perseroan dalam mencapai target tersebut ditopang oleh fundamental operasional IATA yang sangat solid, meliputi cadangan batubara yang melimpah, infrastruktur pertambangan yang terintegrasi, serta kesiapan logistik dan fasilitas pendukung yang memadai di seluruh area operasional.
Secara lebih rinci, IATA melalui IUP-OP Arthaco Prima Energy memiliki cadangan batubara sebesar 222 juta ton dengan kadar GAR 3.100-3.300. Lokasi ini dilengkapi dengan jalan hauling pit-to-port sepanjang kurang lebih 10 km yang tidak bersinggungan dengan jalan umum, serta telah diperkuat dengan pemasangan geotekstil dan perkerasan batu split secara menyeluruh, menjamin kelancaran operasional.
Fasilitas di Arthaco Prima Energy mencakup 2 jetty manual berkapasitas 10.000 ton per hari, dan dalam waktu dekat akan memulai konstruksi Barge Loading Conveyor (BLC) dengan 4 feeder berkapasitas jumbo 40.000 ton per hari. Kapasitas pelabuhan eksisting yang saat ini 250.000 ton per bulan juga akan ditingkatkan menjadi 1,2 juta ton per bulan, memperlihatkan komitmen IATA terhadap peningkatan kapasitas yang masif. Kegiatan operasional di sana juga semakin diperkuat dengan dukungan armada tongkang milik PT Karya Pacific Investama, yang merupakan salah satu pemegang saham IATA.
Untuk menopang target ambisius ini, IATA telah menjalin kerja sama strategis dengan kontraktor terkemuka, PT Kalimantan Prima Persada (KPP MINING), dengan nilai kontrak mencapai Rp 5 triliun. Proses first digging atau penggalian perdana telah dimulai pada awal Januari 2026, menandai dimulainya fase produksi yang lebih intensif.
Sementara itu, IUP-OP Indonesia Batu Prima Energi tercatat memiliki cadangan batubara sebesar 25 juta ton (GAR 3.151-3.344). Area ini dilengkapi jalan hauling pit-to-port sepanjang kurang lebih 3,5 km yang juga tidak bersinggungan dengan jalan umum. Menariknya, IUP-OP ini akan memanfaatkan fasilitas pelabuhan yang sama dengan IUP-OP Putra Muba Coal, mengoptimalkan sinergi operasional.
Lebih lanjut, IUP-OP Putra Muba Coal menyimpan cadangan batubara sebesar 54,8 juta ton (GAR 2.700-3.547). Area ini didukung oleh jalan hauling pit-to-port sepanjang kurang lebih 17 km yang sepenuhnya berada di luar jalan umum dan 100% dalam kondisi all weather roads, memastikan akses dan transportasi tidak terganggu oleh kondisi cuaca.
Fasilitas pemuatan di Putra Muba Coal terdiri dari 1 jetty BLC berkapasitas 10.000 ton per hari dan 3 jetty manual dengan kapasitas gabungan 15.000 ton per hari. Selain itu, fasilitas ini memiliki kapasitas stockpile yang besar, mencapai 350.000 ton. Operasional di IUP-OP ini juga diperkuat dengan dukungan armada tug boat atau tongkang dari grup sendiri, yakni PT Karya Pacific Shipping, yang juga merupakan bagian dari pemegang saham IATA, memastikan rantai pasok yang efisien dan terintegrasi.
“Dengan fondasi operasional yang semakin kokoh, infrastruktur yang memadai dan terus dikembangkan, serta kolaborasi strategis dengan kontraktor terkemuka, IATA sangat optimistis dapat mencapai target produksi 2026. Hal ini sekaligus akan memperkuat posisinya sebagai pemain pertambangan batubara nasional yang terus tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan nilai tambah yang optimal,” pungkas Manajemen IATA.
Perluas Basis Konsumen, Indodax Jalin Kerjasama dengan KFC Indonesia




