Pasar saham Indonesia diproyeksi menguat pada 2026, tantangan IPO masih membayangi

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham Indonesia diproyeksikan menjadi primadona di kawasan Asia pada tahun 2026. Prospek menarik ini didukung oleh kombinasi fundamental yang kuat, termasuk valuasi yang masih rendah, pemulihan pendapatan emiten yang signifikan, serta potensi kuat masuknya aliran dana asing.

Advertisements

Herald van der Linde, Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, meyakini bahwa pasar modal Indonesia memiliki potensi kenaikan indeks yang solid. Pandangan optimis ini sangat bergantung pada keberhasilan momentum penurunan suku bunga global yang berjalan sesuai ekspektasi.

HSBC sendiri menargetkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mencapai level 9.450 pada tahun 2026. Angka ini menyiratkan potensi kenaikan sebesar 12,9%, jauh melampaui proyeksi pasar lain di Asia seperti Singapura (3,8%), Malaysia (7,2%), dan Taiwan (3,2%). “Indonesia menawarkan pemulihan dalam siklus pertumbuhan dan pendapatan, dengan valuasi yang sangat rendah,” terang Herald dalam paparan HSBC Outlook 2026 yang digelar Senin (12/1/2026).

Lebih lanjut, Herald menjelaskan daya tarik Indonesia bersumber dari eksposur portofolio investor asing yang masih relatif rendah. Banyak saham perbankan dan konsumsi dengan kapitalisasi besar dinilai undervalued. Di samping itu, pemulihan laba emiten diperkirakan akan semakin kuat dalam dua tahun mendatang, menjadi magnet bagi investor global.

Advertisements

Dalam kancah investasi global, Herald melihat adanya pergeseran fokus investor. Jika selama dua tahun terakhir tema kecerdasan buatan (AI) mendominasi portofolio di Taiwan dan Korea, kini investor mulai mencari narasi baru. Mereka beralih mencari pasar yang menawarkan valuasi lebih menarik serta siklus pendapatan yang membaik. “Investor akan mulai melihat apakah ada cerita lain yang muncul di kawasan. Untuk itu, Indonesia cukup menonjol,” tambahnya.

Meski demikian, Herald mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan struktural yang signifikan, terutama terkait minimnya arus penawaran umum perdana (IPO). Dibandingkan dengan gelombang IPO di China, India, dan Korea, pipeline IPO di Indonesia dinilai stagnan. Kondisi ini membatasi perkembangan kapitalisasi pasar, yang pada akhirnya dapat membuat pasar domestik tertinggal.

“Jika tidak ada pipeline IPO yang kuat, pasar akan relatif mengecil dibanding pasar lain di kawasan,” tegas Herald. Ia menyoroti stagnasi jumlah emiten sejak tahun 1990-an, yang menyebabkan struktur pasar Indonesia cenderung tidak berubah. Perusahaan berkapitalisasi besar masih didominasi oleh kelompok yang sama, sementara perusahaan pertumbuhan belum banyak masuk ke bursa. Oleh karena itu, percepatan kemudahan pencatatan tanpa mengorbankan kualitas dinilai esensial agar investor memiliki lebih banyak pilihan.

Selain Indonesia, HSBC juga memberikan rekomendasi overweight untuk China dan India, yang masing-masing diproyeksikan mencatat kenaikan 19,6% dan 11,3% pada 2026. Sementara itu, Singapura, Taiwan, dan Korea masuk dalam kelompok underweight karena ekspektasi pertumbuhan yang lebih moderat dan valuasi yang sudah relatif tinggi.

Dari sisi prospek sektoral, Herald menilai penurunan suku bunga global akan menjadi angin segar bagi sektor properti dan konsumsi di Indonesia. Likuiditas yang lebih longgar juga berpotensi meningkatkan minat investasi dari generasi muda, yang menurutnya semakin aktif berpartisipasi di pasar saham domestik. “Ada generasi muda yang mulai berinvestasi di ekuitas. Itu hal yang positif dan saya harap terus berlanjut,” ujarnya optimis.

Sejalan dengan pandangan HSBC, analis OCBC Sekuritas, Farrell Nathanael, menilai sektor komoditas berpotensi tetap solid tahun ini. Dukungan datang dari ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan stimulus ekonomi China. Sementara itu, sektor properti diperkirakan mendapat dukungan kuat dari insentif PPN dan pelonggaran kebijakan moneter. “Properti berpeluang membaik karena insentif dan valuasi yang masih atraktif,” kata Farrell.

Namun, Farrell mengingatkan bahwa risiko global masih dapat menciptakan volatilitas pada nilai tukar rupiah. Penguatan dolar AS, eskalasi geopolitik, serta volatilitas harga minyak dunia berpotensi memengaruhi arus modal asing dan neraca perdagangan. “Risiko kebijakan moneter global tetap perlu dicermati karena bisa menekan rupiah,” pungkasnya.

Dengan kombinasi valuasi yang rendah, potensi pemulihan pendapatan, dan peluang arus masuk modal asing, pasar saham Indonesia diperkirakan akan tetap menjadi salah satu yang paling menarik di Asia. Meskipun demikian, percepatan proses IPO dan perluasan basis emiten menjadi krusial agar pasar domestik dapat terus berkembang dan tidak tertinggal dalam lanskap pasar modal regional.

Advertisements

Also Read

Tags