
BANYU POS – JAKARTA. Prospek saham XLSmart Telecom Sejahtera (EXCL) kini menjadi sorotan utama, memicu perbedaan pandangan di kalangan analis setelah rampungnya proses integrasi pasca-merger antara PT XL Axiata Tbk dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).
Di satu sisi, bayang-bayang risiko penurunan pangsa pasar dan ketatnya persaingan masih menghantui kinerja EXCL. Namun, di sisi lain, potensi efisiensi operasional dan realisasi sinergi dari merger ini dinilai dapat menjadi katalis kuat untuk memulihkan kinerja perusahaan pada tahun 2026.
Saat ini, EXCL menghadapi tantangan signifikan terkait pangsa pasar. Jumlah pelanggan seluler EXCL telah menurun sekitar 15 juta sejak rencana merger dengan FREN diumumkan, meskipun sebagian penurunan ini juga diakibatkan oleh proses pembersihan data pelanggan yang rutin dilakukan.
Simak Prospek SGRO Usai Berganti Nama Jadi Prime Agri Resources Pasca Akuisisi
Ranjan Sharma, Head of ASEAN TMT Equity Research JP Morgan, dalam risetnya pada 12 Desember 2025, turut menyoroti penurunan pelanggan fixed broadband EXCL yang mencapai 7% sepanjang periode kuartal I hingga kuartal III 2025. “Sebelumnya, kami telah menyoroti bahwa EXCL kurang berinvestasi di wilayah Jawa, yang berisiko menekan pangsa pasar dan pendapatan,” terang Ranjan.
Lebih lanjut, sama seperti perusahaan telekomunikasi lainnya, EXCL dihadapkan pada risiko eksekusi yang kompleks dalam proses penggabungan bisnis dan jaringan dengan FREN. Ranjan juga menilai bahwa bisnis broadband EXCL akan menghadapi tingkat persaingan yang lebih tinggi setelah berakhirnya periode eksklusivitas akses wholesale antara PT Link Net Tbk (LINK) dan EXCL.
Kendati demikian, Gani, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, justru memiliki pandangan yang lebih optimistis. Meskipun EXCL mengalami penurunan jumlah pelanggan, ia meyakini bahwa prospek EXCL pada tahun 2026 tetap menarik pasca-merger. “Ke depan, dengan struktur operasional yang lebih efisien dan optimalisasi jaringan, jumlah pelanggan seluler diperkirakan akan mulai stabil pada 2026, bukan melanjutkan tren penurunan,” jelas Gani kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).
Dari sisi katalis, Gani menekankan bahwa efisiensi operasional pasca-merger dan potensi perbaikan kinerja keuangan merupakan faktor pendukung utama bagi EXCL.
IHSG Berpotensi Menguat Usai Cetak Rekor, Cek Saham Pilihan Analis, Kamis (15/1)
Sejalan dengan itu, Christopher Rusli, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, menyatakan bahwa EXCL berada di jalur yang tepat untuk merealisasikan sinergi sebesar US$ 150 – US$ 200 juta pada tahun 2025. Sinergi ini akan dicapai melalui integrasi jaringan yang sukses, kolaborasi mitra, dan optimalisasi situs pasca-merger.
Perusahaan telah mengambil langkah-langkah strategis dengan mengonsolidasikan aset jaringan yang tumpang tindih serta meluncurkan Customer Experience & Service Operation Center (CESOC) terpadu pada Juli 2025, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan. Hingga kuartal III-2025, total jumlah BTS EXCL meningkat 27% secara tahunan menjadi 209.382 unit, dengan 192 kota dan sekitar 15.000 situs yang telah terintegrasi dalam program Network Rationalization (NR).
“XLSmart juga tetap sesuai jadwal untuk menyelesaikan integrasi MOCN pada paruh pertama 2026, yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi serta pengalaman pelanggan secara nasional,” terang Christopher dalam risetnya 17 November 2026.
Namun, Christopher tidak menampik adanya sejumlah risiko yang masih membayangi prospek kinerja EXCL ke depan. Risiko tersebut meliputi potensi stagnansi pertumbuhan Average Revenue per User (ARPU), pelemahan daya beli konsumen yang berkepanjangan, serta kegagalan dalam memaksimalkan sinergi pasca-merger.
Gani juga mengingatkan investor untuk tetap mencermati ketatnya persaingan di industri telekomunikasi serta faktor makroekonomi seperti pergerakan suku bunga, yang dapat mempengaruhi daya beli konsumen dan biaya pendanaan perusahaan sepanjang tahun 2026.
Jika menilik laporan keuangan per 30 September 2025, EXCL memang berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 30,54 triliun atau melonjak 20,44% secara tahunan. Namun, beban yang ditanggung EXCL juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 44,44% secara tahunan menjadi Rp 30,51 triliun. Akibatnya, EXCL mencatatkan rugi periode berjalan sebesar Rp 2,58 triliun.
Astra (ASII) Hentikan Buyback Saham Lebih Cepat Dari Jadwal, Ini Alasannya
Gani menilai kerugian yang dicatatkan EXCL pada tahun 2025 utamanya disebabkan oleh biaya satu kali (one-off costs) yang terkait dengan proses integrasi pasca-merger. Beban tersebut menekan laba, meskipun pendapatan perusahaan tumbuh kuat. Memasuki tahun 2026, ketika biaya integrasi mulai berkurang, kinerja EXCL diperkirakan akan kembali positif, seiring dengan peningkatan efisiensi dan kontribusi optimal dari sinergi merger.
Dengan berbagai sentimen dan faktor tersebut, Ranjan dari JP Morgan memberikan rekomendasi underweight untuk saham EXCL dengan target harga Rp 1.600 per saham. Di sisi lain, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memberikan rekomendasi Trading Buy untuk saham EXCL dengan target harga Rp 4.220 per saham.
Sementara itu, Gani berpendapat bahwa secara fundamental, saham EXCL masih layak untuk dicermati oleh investor. Namun, mengingat masih adanya proses konsolidasi dan dinamika pasca-merger, target harga saham EXCL untuk tahun 2026 saat ini masih dalam tahap peninjauan (under review).




