
BANYU POS JAKARTA. Maybank Sekuritas Indonesia kembali menegaskan rekomendasi beli untuk saham PT Indosat Tbk (ISAT), menetapkan target harga optimis di Rp 2.500. Proyeksi ini didasarkan pada valuasi menarik, yakni 15,6 kali rasio harga terhadap laba (P/E) dan 2,1 kali rasio harga terhadap nilai buku (P/BV) untuk tahun fiskal 2026.
Menurut Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Etta Rusdiana Putra, Indosat menunjukkan kinerja finansial yang cemerlang. Laba bersih Indosat pada tahun 2025 secara signifikan melampaui ekspektasi, mencapai Rp 5,5 triliun. Angka ini jauh di atas proyeksi awal Maybank yang sebesar Rp 4,9 triliun, menandakan performa yang lebih kuat dari perkiraan.
Peningkatan laba bersih tersebut didorong oleh lonjakan pendapatan Indosat yang mencapai Rp 56,5 triliun, melampaui 102% dari estimasi sebesar Rp 55,5 triliun. Selain itu, Indosat menunjukkan efisiensi biaya yang luar biasa, dengan kenaikan beban operasional hanya 0,4% secara tahunan menjadi Rp 45,2 triliun. Kinerja operasional yang kuat ini juga tercermin dari EBITDA yang sesuai target, sebesar Rp 26,6 triliun dengan margin mencapai 47,1%.
Pemangkasan Kuota Nikel, Ini Emiten Nikel yang Paling Diuntungkan
Pada kuartal IV 2025, Indosat berhasil mempertahankan basis pelanggan solid sebanyak 93,7 juta, meskipun sedikit terkoreksi dari 94,6 juta di kuartal sebelumnya. Yang menarik, Average Revenue Per User (ARPU) menunjukkan tren positif, meningkat menjadi Rp 44.000 per bulan. Sementara itu, pendapatan dari data seluler tercatat Rp 43,3 triliun, sedikit menurun 1,9% secara tahunan.
Fenomena menarik terlihat dari lonjakan trafik data yang signifikan selama musim liburan, mencapai 4.874 PB atau tumbuh 18% secara tahunan. Hal ini berkontribusi pada total trafik data sepanjang 2025 yang menyentuh 17.655 PB, meningkat 9% dari tahun sebelumnya. Meskipun demikian, imbal hasil data (yield data) mengalami penurunan 11% secara tahunan menjadi Rp 2.425 per GB.
Indosat menunjukkan ambisi kuat dalam pengembangan layanan 5G, dengan ekspansi masif. Jumlah Base Transceiver Station (BTS) 5G yang beroperasi melonjak drastis menjadi 6.875 unit pada kuartal IV 2025, meningkat signifikan dari 1.404 unit di kuartal III 2025, kini menjangkau 24 kota. Selain itu, untuk memperkuat posisinya di tengah ketatnya persaingan, Indosat juga merambah pasar Fixed Wireless Access (FWA) melalui layanan Indosat HiFi. Menariknya, di tengah ekspansi ini, manajemen tetap mempertahankan disiplin belanja modal (capex), menyadari bahwa teknologi 5G sudah memasuki paruh siklus hidupnya, sekaligus mempersiapkan diri menyambut era 6G pada tahun 2030.
Untuk masa depan, manajemen Indosat menargetkan pertumbuhan pendapatan di kisaran menengah hingga tinggi satu digit, berpotensi mencapai Rp 59 triliun hingga Rp 62 triliun, dengan mempertimbangkan daya beli konsumen. Target ini dilihat oleh Maybank Sekuritas sebagai potensi peningkatan (upside) yang menarik, mengingat konsensus pasar hanya memproyeksikan pendapatan sebesar Rp 57 triliun hingga Rp 59 triliun untuk tahun 2026. Prediksi laba bersih juga diperkirakan tetap kuat di kisaran Rp 5,2 triliun hingga Rp 5,4 triliun untuk periode 2026-2027, angka ini bahkan belum memperhitungkan potensi keuntungan signifikan dari penjualan aset fiber optik.
IHSG Menguat 1,96% ke 8.290 pada Rabu (11/2/2026), BRPT, MAPI, BUMI Top Gainers LQ45
Etta Rusdiana Putra menyimpulkan bahwa Indosat tetap menjadi pilihan investasi yang sangat menarik. Hal ini didukung oleh strategi ekspansi yang stabil, efisiensi biaya yang konsisten, dan pencapaian skala ekonomi yang solid, semua faktor ini berpadu untuk menciptakan ruang pertumbuhan laba bersih Indosat yang berkelanjutan di masa mendatang.




