BANYU POS JAKARTA. PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE), emiten penyedia perlengkapan kamar tidur, telah mengumumkan kemitraan strategisnya dengan RedDoorz. Kerja sama ini dirancang khusus untuk memperluas jangkauan pasar perusahaan secara signifikan serta memperkokoh kinerja bisnisnya di kancah nasional.
Emiten dengan kode saham SPRE tersebut menjelaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk mendukung kebutuhan operasional dan pengembangan jaringan RedDoorz melalui penyediaan produk dan layanan berkualitas secara berkelanjutan. Rizet Ramawi, Direktur Utama Soraya Berjaya, menyatakan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 Februari 2026, “Kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi kedua belah pihak, sekaligus memperluas akses pasar bagi perusahaan.”
Melalui kemitraan strategis ini, PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk menyatakan optimismenya untuk mencapai peningkatan volume penjualan yang substansial, memperluas cakupan wilayah pemasaran, serta memperkuat stabilitas fundamental usaha. Lebih lanjut, kerja sama ini juga diproyeksikan membuka berbagai peluang pengembangan bisnis di sektor-sektor pendukung lainnya. Rizet menegaskan, “Kerja sama dengan RedDoorz merupakan bagian integral dari komitmen kami dalam memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan daya saing, dan mengukuhkan posisi perusahaan di industri nasional.”
Sebagai produsen perlengkapan kamar tidur terkemuka, SPRE menawarkan beragam produk berkualitas tinggi di bawah merek dagang Soraya Bedsheet. Portofolio produknya mencakup sprei, bed cover, bantal, guling, serta berbagai aksesoris rumah tangga yang tersedia dalam berbagai varian dan tingkatan harga. Saat ini, SPRE mengoperasikan dua pabrik produksi dan delapan gerai ritel strategis yang tersebar di kota-kota besar seperti Padang, Pekanbaru, dan Jambi.
Beralih ke perkembangan korporasi lainnya, dalam keterbukaan informasi sebelumnya pada 28 Januari 2026, PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk mengklarifikasi pembatalan rencana pengambilalihan perusahaan oleh Saiko Consultancy Pte Ltd. Keputusan ini merupakan respons atas pertanyaan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait perkembangan rencana akuisisi saham yang telah diumumkan pada 19 Januari 2026.
Sebelumnya, Saiko Consultancy berencana untuk mengakuisisi saham SPRE yang dimiliki oleh Rizet Ramawi selaku pemegang saham pengendali, dengan target sebanyak-banyaknya 222,6 juta saham, atau setara dengan 27,83% dari total saham beredar.
Sebagai konsekuensi dari pembatalan tersebut, Rizet Ramawi dipastikan tetap menjabat sebagai pengendali dan pemilik manfaat utama perusahaan, serta akan terus menduduki posisi pengurus selama lima tahun sejak emiten ini tercatat di BEI pada 3 Juli 2024.
Menanggapi hal tersebut, Mark Leong Kei Wei, Direktur Saiko Consultancy, menjelaskan dalam keterbukaan informasi tanggal 28 Januari 2026, “Mengingat beberapa perkembangan yang telah terjadi, Saiko Consultancy Pte. Ltd., sebagai calon Pengendali Baru, saat ini sedang dalam proses diskusi terkait struktur alternatif lain.”
Mark kembali menegaskan bahwa, hingga adanya pemberitahuan lebih lanjut, rencana pengambilalihan SPRE oleh Saiko Consultancy Pte. Ltd. secara resmi dinyatakan batal. “Kami akan segera menginformasikan kepada publik jika terdapat perkembangan lebih lanjut terkait rencana akuisisi SPRE ini,” tambahnya.
Di sisi pergerakan pasar, saham SPRE pada penutupan perdagangan Jumat (13/2/2026) tercatat mengalami penurunan signifikan sebesar 9,86% ke level Rp 128 per saham. Dalam kurun waktu lima hari perdagangan terakhir, saham PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk telah merosot tajam hingga 33,68%.




