
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Literasi keuangan, khususnya di sektor pasar modal, kini semakin menjamur di kalangan anak muda Kalimantan Tengah (Kalteng).
Fenomena ini terlihat dari pergeseran topik obrolan di kedai kopi atau tongkrongan yang kini mulai didominasi oleh diskusi seputar portofolio saham dan analisis pasar.
Seorang investor saham muda di Palangkaraya, Beni Parulian Siregar. Mengungkapkan bahwa lonjakan partisipasi anak muda di bursa saham saat ini tidak lepas dari masifnya informasi di media sosial. Meski tak dipungkiri, faktor Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu pemicu awal.
“Kenaikan partisipasi anak muda di pasar modal pasti karena informasi, terutama dari media sosial. Memang ada faktor FOMO, awalnya ikut-ikutan, tapi kemudian belajar menjadi serius,” ujar beni dalam keterangan wawancara, Senin (16/2/26).
Beni menggambarkan perubahan budaya nongkrong anak muda di Kalteng yang cukup signifikan. Jika dulu pembicaraan tentang saham sangat minim, kini hal tersebut menjadi konsumsi harian. Diskusi mencakup evaluasi portofolio saat pasar buka (Senin-Jumat) hingga tinjauan pasar (market review) pada akhir pekan.
“Perkembangannya cukup baik. Kita biasanya saling sharing keilmuan, ada yang teknikal, fundamental, hingga bandarmologi. Kita kombinasikan ilmunya,” tambahnya.
Terkait sektor yang menjadi primadona di Kalteng, Beni menyoroti emiten perkebunan kelapa sawit (CPO). Menurutnya, sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai pro-sawit.
Kebijakan ini memberikan keyakinan kepada investor bahwa industri perkebunan akan bertumbuh positif. Beberapa emiten yang beroperasi di Kalteng, seperti Citra Borneo Utama (CBUT) dan Sawit Sumbermas Sarana (SSMS), dinilai mendapatkan angin segar dari situasi ini.
“Kebijakan pemerintah sangat berpengaruh. Ketika ada dukungan terhadap industri sawit dan ketegasan terhadap penyelewengan, trennya menjadi positif,” jelas Beni.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa pasar modal sangat dinamis dan dipengaruhi faktor eksternal. Seperti kebijakan global (The Fed) atau indeks (perusahaan penyedia indeks pasar saham, data, dan analisis investasi terkemuka di dunia, yang berbasis di AS, MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang bisa memicu penjualan saham atau aset investasi secara besar-besaran (panic selling) jika tidak diantisipasi dengan baik.
Bagi anak muda yang baru terjun dengan modal terbatas, Beni menyarankan untuk lebih fokus mengejar pertumbuhan aset (capital gain) daripada mengharapkan dividen.
“Kalau modal masih kecil, misal Rp10 juta, mengharapkan dividen 8 persen setahun tentu tidak cukup. Strategi compounding lewat capital gain lebih tepat untuk anak muda yang minim tanggungan,” sarannya.
Menutup pembicaraan, Beni menyebutkan preferensi pribadinya saat ini yang condong pada saham-saham yang berafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu. Seperti Petrosea dan Barito Pacific (BRPT), serta sektor teknologi dan perkebunan yang dinilai memiliki prospek jangka panjang.
“Kalau saya, dengan keyakinan hari ini memegang saham-saham Pak Prayogo Pangestu, yang sekarang ku pegang itu ada Petrosea dan ada BRPT, ” pungkasnya (her)




