Pada perdagangan Kamis (19/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu mempertahankan momentumnya, ditutup melemah 0,43% ke level 8.274,08. Pelemahan ini didorong oleh tekanan jual yang kian meningkat, seiring dengan depresiasi nilai tukar rupiah dan respons pasar terhadap dinamika sentimen suku bunga global.
Herditya Wicaksana, Head of Research MNC Sekuritas, menyoroti bahwa pergerakan IHSG yang terkoreksi ini selaras dengan kuatnya tekanan eksternal maupun domestik. Faktor-faktor utama yang membebani antara lain pelemahan signifikan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta sikap hati-hati investor dalam menyikapi risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dan keputusan Bank Indonesia yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya.
Sinar Mas Agro (SMAR) Siapkan Rp 220 Miliar untuk Pelunasan Obligasi Jatuh Tempo
Sentimen negatif ini turut diperparah oleh kinerja rupiah yang terus tertekan. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mencatat bahwa meski IHSG sempat menguat hingga 8.376 pada sesi pertama, momentum positif tersebut tak bertahan lama dan berbalik arah. Rupiah sendiri ditutup melemah ke level Rp16.894 per dolar AS, semakin membebani pergerakan indeks.
Secara sektoral, saham-saham teknologi merasakan koreksi terdalam, menjadi pendorong utama pelemahan. Di sisi lain, sektor material dasar (basic materials) tampil sebagai penopang, memberikan sedikit kekuatan di tengah tekanan. Dari perspektif teknikal, indikator MACD masih menunjukkan pelebaran histogram positif, dan Stochastic RSI mengarah ke area overbought. Namun, peningkatan volume jual mengindikasikan bahwa potensi pergerakan IHSG akan cenderung terbatas.
Dari arena domestik, keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75% dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas rupiah dan memastikan inflasi tetap berada dalam target 1,5%-3,5%. Para investor juga tak luput mencermati data inflasi Januari 2026 yang mencapai 3,55% secara tahunan (yoy) serta pertumbuhan kredit sebesar 9,96% yoy, yang menjadi barometer kesehatan ekonomi.
Selain itu, pasar menantikan rilis data transaksi berjalan kuartal IV-2025 yang diproyeksikan mencatat surplus sekitar US$2 miliar. Sentimen global juga turut mewarnai lanskap investasi, terutama terkait rencana kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang mencakup pengaturan tarif ekspor serta kolaborasi di sektor digital.
Menatap perdagangan Jumat (20/2/2026), prospek IHSG masih diselimuti ketidakpastian. Herditya Wicaksana memperkirakan indeks berpotensi kembali terkoreksi, dengan area support di 8.227 dan resistance di 8.333. Sentimen pasar diperkirakan masih diwarnai oleh potensi pelemahan rupiah serta perhatian terhadap data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Senada, Alrich Paskalis Tambolang memproyeksikan IHSG akan bergerak mixed pada kisaran 8.200-8.300.
Dalam menghadapi volatilitas pasar, Herditya merekomendasikan beberapa saham pilihan untuk perdagangan Jumat, yakni AMMN pada area Rp7.875-Rp8.050, TINS di kisaran Rp4.440-Rp4.670, serta TKIM pada Rp7.625-Rp7.825. Sementara itu, Alrich juga menyodorkan sejumlah saham sebagai top picks jangka pendek, meliputi AMMN, TKIM, PSAB, ANTM, dan ADMR.
Rupiah Melemah ke Rp 16.894, Pasar Cermati Sikap Pemerintah dan Sentimen Global




