
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan menunjukkan pergerakan yang volatil menjelang periode libur panjang Lebaran. Kondisi ini dipicu oleh peningkatan aksi ambil untung atau profit taking yang lazim dilakukan investor untuk mengurangi eksposur risiko sebelum pasar ditutup dalam waktu yang cukup lama.
Harry Su, Managing Director Research and Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, mengemukakan bahwa potensi profit taking menjelang Lebaran memang cenderung meningkat. Fenomena ini muncul karena para investor secara tradisional cenderung mengurangi posisi investasi mereka sebelum dimulainya periode libur panjang.
Namun, Harry Su menambahkan bahwa tekanan jual yang terjadi kali ini berpotensi sedikit lebih besar dibandingkan periode-periode sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh sentimen global yang masih terbilang rapuh dan penuh ketidakpastian. “Menjelang Lebaran, potensi profit taking memang cenderung naik karena investor biasanya mengurangi posisi sebelum libur panjang. Kali ini tekanannya bisa sedikit lebih besar karena sentimen global masih rapuh, tetapi lebih bersifat jangka pendek daripada perubahan tren fundamental,” jelas Harry kepada Kontan, Senin (9/3/2026).
IHSG Berpeluang Technical Rebound pada Selasa (10/3), Ini Rekomendasi Analis
Meskipun demikian, Harry Su juga menilai bahwa sebagian tekanan jual sebenarnya telah terjadi lebih awal. Hal ini mengingat pasar saham domestik baru saja mengalami koreksi yang cukup dalam, sehingga banyak investor mungkin sudah melakukan penyesuaian posisi. Oleh karena itu, peluang tekanan tambahan menjelang Lebaran diperkirakan relatif lebih terbatas dibandingkan fase pelemahan yang terjadi sebelumnya.
“Karena pasar baru saja terkoreksi besar, sebagian tekanan jual sebenarnya sudah terjadi lebih dulu. Jadi menjelang Lebaran tekanan masih ada, tetapi peluang koreksi tambahan kemungkinan lebih terbatas dibanding fase jual sebelumnya,” paparnya.
Di tengah ketidakpastian global yang meningkat akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, psikologi investor saat ini cenderung defensif dan lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset-aset berisiko. Harry Su mengakui adanya potensi aksi jual untuk menjaga likuiditas sebelum periode cuti bersama. Namun demikian, ia menekankan bahwa kemungkinan terjadinya panic selling yang luas masih sangat bergantung pada eskalasi konflik yang sedang berlangsung serta pergerakan harga minyak dunia.
“Psikologi investor saat ini cenderung defensif. Ada potensi aksi jual untuk menjaga likuiditas sebelum cuti bersama, tetapi panic selling penuh masih bergantung pada eskalasi konflik dan pergerakan harga minyak,” ujarnya.
Hingga akhir Maret, Harry memperkirakan pergerakan IHSG masih akan cenderung sideways, diwarnai dengan tingkat volatilitas yang cukup tinggi. Menjelang Lebaran, pergerakan pasar diperkirakan akan relatif terbatas akibat adanya tekanan jangka pendek dari profit taking. Namun, koreksi ini juga ditopang oleh valuasi sejumlah saham yang mulai terlihat lebih menarik setelah mengalami penurunan sebelumnya.
Dalam kondisi pasar yang fluktuatif seperti saat ini, Harry Su menyarankan investor untuk bersikap lebih selektif dalam memilih saham. Fokus utama harus diberikan pada emiten yang memiliki likuiditas tinggi, bersifat defensif, serta ditopang oleh fundamental yang kuat. Beberapa sektor yang dinilai masih menarik untuk dicermati antara lain perbankan besar, consumer non-cyclical, serta komoditas.
Adapun sejumlah saham yang direkomendasikan Harry Su meliputi: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp8.600 per saham, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan target harga Rp5.700 per saham, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan target harga Rp11.000 per saham, PT Indosat Tbk (ISAT) dengan target harga Rp2.800 per saham, serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target harga Rp4.900 per saham.
Momentum THR Lebaran, BBCA Optimistis Minat Investasi di SR024 Meningkat




