
BANYU POS – JAKARTA. Prospek kinerja PT Barito Pacific Tbk (BRPT) hingga tahun 2026 diproyeksikan tetap kokoh, terutama didorong oleh kontribusi strategis dari dua pilar utama bisnisnya. Pilar tersebut adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang bergerak di sektor energi terbarukan dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mendominasi industri petrokimia.
Hingga akhir tahun buku 2024, BREN telah mengukuhkan posisinya sebagai pengembang energi terbarukan terbesar di Indonesia, dengan kapasitas terpasang mencapai sekitar 965 megawatt (MW). Ambisi Grup Barito tak berhenti di situ; mereka menargetkan peningkatan kapasitas ini secara signifikan menjadi 2,3 gigawatt (GW) pada tahun 2032. Target ini akan terdiri dari sekitar 1,9 GW pembangkit panas bumi dan 0,4 GW pembangkit listrik tenaga angin.
Guna mencapai target ambisius tersebut, perusahaan tengah aktif mengembangkan proyek panas bumi berskala besar di lokasi-lokasi greenfield potensial. Beberapa di antaranya berlokasi di Hamiding, Maluku Utara, dan South Sekincau, Sumatra, menunjukkan komitmen kuat terhadap ekspansi di sektor energi hijau.
Di sisi lain, TPIA berdiri sebagai produsen petrokimia terbesar di Indonesia. Dengan kapasitas produksi tahunan sekitar 4,2 juta ton pada tahun 2024, perusahaan ini menguasai sekitar 40% dari total kapasitas nasional. Langkah ekspansi TPIA semakin agresif setelah pada semester I 2025, perusahaan bersama Glencore berhasil menyelesaikan akuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura. Entitas yang kini bernama Aster Chemicals and Energy (ACE) ini secara drastis meningkatkan kapasitas produksi tahunan grup menjadi sekitar 20 juta ton, efektif mulai tahun 2025.
Tak hanya itu, TPIA juga tengah gencar membangun pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, yang diharapkan rampung pada tahun 2026. Ketika mulai beroperasi penuh pada tahun 2027, kapasitas produksi petrokimia perusahaan diproyeksikan akan melonjak lebih lanjut hingga mencapai sekitar 21 juta ton per tahun, semakin mengukuhkan dominasi di pasar.
Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, dua entitas bisnis ini — BREN di sektor energi terbarukan dan TPIA di petrokimia — memang menjadi motor utama yang akan mendorong pertumbuhan kinerja BRPT dalam beberapa tahun ke depan. “BRPT memang didukung kinerja BREN di energi terbarukan dan TPIA di petrokimia. Ekspansi dan akuisisi TPIA juga mendukung peningkatan kapasitas produksinya,” jelas Nafan kepada Kontan.co.id, Kamis (12/3/2026).
Sinergi strategis antara lini bisnis energi dan petrokimia di bawah Grup Barito dinilai menjadi katalis positif tambahan. Pengembangan proyek-proyek strategis di kedua sektor ini juga sangat selaras dengan arah transformasi bisnis perusahaan secara keseluruhan. Selain itu, tren investasi berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) diperkirakan akan semakin mendukung kinerja BRPT di mata investor global. Meskipun terdapat penyesuaian bobot di indeks global, likuiditas saham BRPT tetap terjaga, yang turut menjaga minat investor terhadap saham grup Barito.
Secara finansial, BRPT mencatatkan performa gemilang pada sembilan bulan pertama 2025. Pendapatan perusahaan melonjak 232% year on year (YoY) menjadi US$ 5,56 miliar, jauh melampaui US$ 1,68 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja laba bersih juga menunjukkan peningkatan luar biasa, melonjak 2.055% YoY menjadi US$ 582 juta, dari posisi sebelumnya US$ 27 juta.
Meskipun ditopang oleh berbagai katalis positif yang kuat, Nafan Aji Gusta mengingatkan bahwa tren pergerakan saham BRPT saat ini masih berada dalam fase downtrend. Oleh karena itu, investor disarankan untuk mencermati pergerakan harga terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan investasi. “Rekomendasi saya adalah wait and see sambil menunggu sinyal pembalikan tren harga di pasar,” pungkas Nafan, menekankan pentingnya kehati-hatian.




