Presiden Prabowo Subianto secara tegas menyatakan komitmen Indonesia untuk senantiasa berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif, atau yang dikenal juga sebagai nonblok. Penegasan ini menggarisbawahi posisi Indonesia yang tidak akan terlibat dalam konflik militer mana pun, termasuk dinamika eskalasi yang kini melibatkan Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Sikap fundamental ini disampaikan Prabowo dalam sebuah diskusi mendalam dengan sejumlah pakar dan jurnalis senior. Pertemuan yang berlangsung di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (17/3) malam hingga Rabu (18/3) dini hari tersebut menjadi forum penting untuk memperjelas arah kebijakan luar negeri Indonesia di tengah gejolak global.
“Saya berpendapat bahwa kita dalam hal ini sudah dalam jalur yang benar, mengutamakan ujungnya adalah kepentingan nasional,” kata Prabowo. Ia menekankan relevansi prinsip tersebut. “Ke depan pun kita harus tetap non-align, tetap non-blok,” tambahnya, menegaskan bahwa pendekatan ini tetap menjadi landasan kuat bagi navigasi Indonesia di kancah internasional.
Menurut Prabowo, keunggulan utama dari sikap bebas aktif ini adalah kemampuannya untuk menjalin hubungan baik dengan semua kekuatan dunia. Indonesia, melalui prinsip ini, dapat menjaga komunikasi dan kerja sama tanpa terjebak dalam rivalitas atau polarisasi antarnegara. Kondisi ini memungkinkan Indonesia untuk mempertahankan independensinya dalam menentukan arah kebijakan.
“Kita tidak mau harus memilih yang satu melawan yang satu, tidak,” ujar Prabowo, menjelaskan filosofi di baliknya. “Kita akan setara. Kita akan memperlakukan mereka sebagai pihak yang setara dan kita akan memperlakukan mereka secara setara. Dan kita ingin memiliki hubungan baik yang sama dengan mereka semua.” Pernyataan ini menegaskan tekad Indonesia untuk menjadi mitra yang adil dan dapat dipercaya oleh setiap negara.
Prinsip ‘non-align‘ yang diusung ini, lanjut Prabowo, sangat relevan sebagai panduan strategis Indonesia hingga saat ini. Dalam menghadapi kompleksitas seperti perang Iran dan AS-Israel, Indonesia tidak merasa perlu untuk mencari siapa yang benar atau salah, sebab setiap pihak memiliki sejarah dan latar belakangnya masing-masing yang unik.
Sikap menghormati semua kekuatan ini diharapkan dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan konstruktif di tingkat global. Prabowo melihat potensi Indonesia sebagai jembatan dialog. “Kalau kita baik sama semua, kita mungkin bermanfaat,” ucapnya, menggambarkan skenario ideal. “Kalau kita masih bisa diterima oleh Iran, tapi kita masih dipercaya oleh negara-negara Teluk, mungkin itu baik. Mungkin kita bisa jadi penengah. Seberapa efektif, saya tidak tahu.” Meskipun efektivitasnya belum dapat dipastikan, potensi peran mediator ini menjadi salah satu tujuan dari kebijakan bebas aktif.
Di sisi lain, Prabowo juga menetapkan garis batas yang jelas mengenai kedaulatan Indonesia. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan terlibat dalam pakta militer apa pun yang dapat mengikatnya pada salah satu blok kekuatan. Meskipun Indonesia sangat terbuka terhadap investasi asing dari mana pun, prinsip ini tidak lantas berarti mengizinkan berdirinya pangkalan pasukan asing di wilayah Nusantara.
“Kita tidak berpihak. Itu sangat jelas,” pungkas Prabowo. “Tapi kita tidak mau mengganggu negara lain. Kita jaga investasi siapa pun asal mereka patuhi undang-undang kita.” Penegasan ini mencerminkan komitmen ganda Indonesia: menjaga netralitas politik dan keamanan sembari mempromosikan kerja sama ekonomi yang menguntungkan, dengan tetap menghormati hukum dan kedaulatan nasional.




