Iran tolak proposal perdamaian AS untuk akhiri perang

Hikma Lia

Ketegangan di Timur Tengah terus memanas setelah Iran secara tegas menolak usulan gencatan senjata dari Amerika Serikat. Teheran, alih-alih meredakan situasi, justru memperintensifkan serangannya terhadap Israel dan sejumlah negara di Teluk Arab. Media Iran sendiri menganggap langkah Presiden AS Donald Trump untuk menginisiasi pembicaraan tidak langsung demi mengakhiri konflik sebagai sesuatu yang tidak logis dan tidak layak untuk dipertimbangkan.

Advertisements

Berdasarkan laporan dari Bloomberg dan Kantor Berita Frans, sejumlah pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya menegaskan bahwa Teheran bertekad penuh untuk mencapai tujuannya dalam konflik ini. Mereka menyatakan dengan jelas bahwa perang hanya akan berakhir setelah tujuan Iran tercapai sepenuhnya, dan bukan melalui jalan gencatan senjata semata.

Di tengah ketegangan ini, Amerika Serikat diketahui telah menyusun proposal perdamaian 15 poin, yang kemudian disampaikan oleh Pakistan kepada Republik Islam Iran. Inisiatif ini secara gamblang menyoroti betapa mendesaknya bagi pemerintahan Trump untuk segera mengakhiri konflik yang berkepanjangan tersebut.

Namun, respons Iran jauh dari kata damai. Pada hari Rabu (25/3), Teheran terus melancarkan serangan rudal dan drone, menunjukkan sedikit pun tanda akan mengalah meskipun menghadapi bombardir tanpa henti dari Israel dan AS. Media Iran melaporkan penembakan rudal tambahan ke Israel, sementara Arab Saudi berhasil mencegat sebuah drone di wilayah timur negaranya, mengindikasikan jangkauan serangan Iran yang meluas.

Advertisements

Dampak eskalasi ini bahkan merambah ke Kuwait, di mana sebuah serangan berhasil membakar tangki bahan bakar di bandara utama negara tersebut, menambah daftar panjang insiden yang memperburuk situasi keamanan regional.

Rincian lebih lanjut mengenai proposal AS yang dilaporkan oleh Associated Press mengungkapkan beberapa tuntutan kunci. Amerika Serikat menginginkan pengurangan program nuklir Iran, termasuk dimulainya kembali pemantauan ketat oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Selain itu, Washington juga menuntut adanya pembatasan rudal dan jaminan akses aman bagi pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia.

Sebagai imbalannya, jika Iran menyetujui persyaratan tersebut, Washington menawarkan keringanan signifikan dari sanksi ekonomi ketat yang selama ini membelenggu Republik Islam tersebut.

Presiden Trump sendiri secara terbuka mengisyaratkan bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup larangan keras bagi Iran untuk mengakuisisi senjata nuklir atau memperkaya bahan radioaktif, bahkan untuk tujuan sipil. Ia juga berulang kali menyatakan keyakinannya bahwa Iran sebenarnya berkeinginan kuat untuk mencapai kesepakatan.

Dengan tenggat waktu yang ketat, pemimpin AS itu berharap dapat mencapai kesepakatan pada hari Jumat (27/3). Namun, target ini tampaknya sulit terealisasi mengingat kesenjangan yang masih sangat lebar antara posisi kedua belah pihak, bahkan jika perundingan resmi bisa dimulai.

Salah satu kendala terbesar dalam mencapai kesepakatan adalah ketidakjelasan siapa yang akan menjadi juru bicara Iran. Struktur kekuasaan di Teheran menjadi kabur setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada hari pertama konflik, bersama dengan beberapa pejabat pemerintah dan militer terkemuka lainnya. Kondisi ini menyulitkan AS untuk mengidentifikasi mitra negosiasi yang sah dan berwenang.

Meskipun demikian, pada hari Senin (23/3), Axios mengidentifikasi Mohammad-Bagher Ghalibaf, ketua parlemen Iran, sebagai tokoh sentral yang berpotensi memimpin perundingan. Namun, Ghalibaf sendiri telah membantah adanya negosiasi yang sedang berlangsung.

Melalui unggahannya di platform X pada hari Rabu, Ghalibaf memberikan peringatan keras: “Kami memantau dengan cermat semua pergerakan AS di kawasan ini, terutama penempatan pasukan. Jangan menguji tekad kami untuk mempertahankan tanah kami.” Pernyataan ini menegaskan sikap defensif sekaligus menantang Iran.

Selain itu, masa depan keamanan pelayaran di Selat Hormuz masih diselimuti ketidakpastian. Belum ada kejelasan apakah Iran akan segera mengizinkan kapal-kapal komersial melintas dengan aman, dan bagaimana respons Israel terhadap potensi kesepakatan damai juga menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab.

Keberadaan dokumen 15 poin ini pertama kali dilaporkan oleh New York Times, namun Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait rincian proposal tersebut.

Keterlibatan Israel juga menjadi faktor kunci. Belum jelas apakah Israel, yang bersama AS melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari dan secara tidak langsung memicu konflik, telah menyetujui tawaran Trump ini. Sebaliknya, para pejabat Israel telah menyatakan akan terus melancarkan serangan terhadap Iran untuk sementara waktu.

Menyadari potensi dampak dari setiap kesepakatan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah menugaskan orang kepercayaannya, Ron Dermer, untuk mengawasi ketat negosiasi antara AS dan Iran. Penunjukan ini menekankan keseriusan Netanyahu dalam memastikan bahwa kepentingan strategis dan keamanan negara Yahudi tersebut tetap terjaga, serta menunjukkan kekhawatiran pemerintahnya terhadap kemungkinan AS menyepakati perjanjian yang berpotensi membahayakan keamanan Israel.

Sebelumnya, Iran sendiri telah mengajukan tuntutan yang signifikan sebagai syarat untuk mengakhiri konflik: pembayaran ganti rugi dan janji tegas dari Amerika Serikat serta Israel untuk tidak lagi melancarkan serangan terhadap Republik Islam di masa mendatang.

Di tengah dinamika ini, sejumlah sumber yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk terlibat langsung dalam perang melawan Teheran. Namun, keterlibatan mereka hanya akan terjadi jika Republik Islam Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur listrik dan air yang vital di negara-negara tersebut.

Bertolak belakang dengan potensi eskalasi tersebut, Turki dilaporkan tengah melakukan upaya diplomasi intensif untuk mencegah keterlibatan langsung negara-negara Arab Teluk dalam konflik, menunjukkan adanya upaya penyeimbangan kekuatan di kawasan.

Dalam kerangka negosiasi yang rumit ini, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dua utusan khusus Trump, bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio, telah terlibat dalam perundingan dengan pihak Iran. Namun, di balik meja diplomasi, Trump juga telah memerintahkan pengerahan ribuan pasukan ke Timur Tengah. Langkah ini menggarisbawahi tekadnya untuk mempertimbangkan semua opsi guna mengakhiri dominasi Iran di Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial bagi perdagangan minyak, gas alam, logam, dan berbagai komoditas penting lainnya.

Pada hari Selasa (24/3), Presiden Trump dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa AS berada dalam “posisi tawar yang baik”, menyusul serangkaian serangan selama beberapa minggu yang menurutnya telah berhasil melumpuhkan rudal, peluncur, dan kapal-kapal Iran secara signifikan.

Dampak dari konflik yang berkepanjangan ini telah terasa secara global. Di Amerika Serikat, Asia, dan seluruh dunia, terjadi lonjakan harga bahan bakar dan pupuk yang signifikan. Kapal-kapal tanker komersial semakin enggan melintasi Selat Hormuz, dan serangan Iran telah merusak infrastruktur energi vital, memperburuk krisis pasokan.

Dominasi Iran atas Selat Hormuz semakin nyata dengan diberlakukannya biaya transit dadakan bagi sejumlah kapal komersial. Pungutan informal ini, yang bisa mencapai hingga US$2 juta per perjalanan, secara efektif telah menciptakan beban finansial tambahan dan menjadi tanda kontrol Teheran yang semakin besar atas jalur air internasional tersebut.

Di balik kompleksitas politik dan militer, konflik ini telah menelan korban jiwa yang tragis. Lebih dari 4.300 orang telah meninggal dunia, menurut data pemerintah dan lembaga non-pemerintah. Sekitar tiga perempat dari korban jiwa ini berasal dari Iran. Sementara itu, di Lebanon, lebih dari 1.000 orang tewas dalam konflik paralel Israel melawan militan Hizbullah yang didukung Iran. Puluhan korban juga tercatat di Israel dan negara-negara Teluk Arab, menggarisbawahi betapa meluasnya dampak kemanusiaan dari krisis ini.

Advertisements

Also Read

Tags