Dunia medis kembali berduka dengan berpulangnya seorang dokter muda di Cianjur, Jawa Barat, pada Kamis (26/3). Kematian tersebut diduga kuat akibat campak, sebuah penyakit menular yang risikonya terhadap orang dewasa kini menjadi sorotan tajam. Menanggapi insiden memilukan ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, mengeluarkan peringatan serius mengenai bahaya penyakit menular ini.
Tjandra menyampaikan rasa duka mendalam atas kepergian dokter muda di Cipanas tersebut, yang dikonfirmasi mengalami suspek campak dengan komplikasi pneumonia. Menurutnya, kombinasi campak yang diperparah dengan komplikasi pneumonia pada orang dewasa bukan sekadar kondisi serius, melainkan sebuah situasi kritis yang berpotensi fatal, bahkan bisa berujung pada kematian.
“Memang, kejadian pneumonia berat merupakan penyebab kematian utama pada infeksi virus campak,” tegas Tjandra dalam keterangan resminya pada Sabtu (28/3), menggarisbawahi urgensi perhatian terhadap penyakit ini.
Lebih lanjut, Tjandra menguraikan bahwa gejala berat dari penyakit ini meliputi demam tinggi, radang paru, dan bahkan dapat berkembang hingga gagal napas. Dalam konteks penanganan, upaya yang diberikan umumnya bersifat suportif, mencakup pemberian oksigen dan suplementasi vitamin A dosis tinggi untuk membantu pemulihan pasien.
Meskipun demikian, ia juga menyebutkan adanya praktik penggunaan obat antivirus Ribavirin di beberapa negara lain. Namun, Tjandra mengingatkan bahwa efektivitasnya dalam menangani campak masih belum didukung oleh dasar ilmiah yang kuat.
Mengingat seriusnya ancaman ini, Tjandra Yoga Aditama turut menyarankan agar vaksinasi campak juga dipertimbangkan bagi orang dewasa. Pedoman dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, yang diterbitkan pada 3 Maret 2026, secara eksplisit menyatakan bahwa imunisasi campak bagi orang dewasa perlu menjadi prioritas, khususnya bagi tenaga kesehatan, pelancong ke wilayah wabah, serta individu dari kelompok berisiko lainnya.
CDC lebih lanjut menjelaskan bahwa pada umumnya, vaksin campak untuk orang dewasa diberikan dalam satu dosis. Namun, jumlah dosis ini dapat disesuaikan menjadi dua dosis, bergantung pada evaluasi faktor risiko individual.
Peringatan ini menjadi semakin relevan mengingat fakta bahwa Indonesia saat ini menduduki peringkat kedua kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di dunia. “Ini menuntut kerja sangat keras dari kita semua untuk melindungi masyarakat dari ancaman campak dan berbagai penyakit menular lainnya,” pungkas Tjandra, menekankan pentingnya respons kolektif.
Baca Juga:
- Kemenkes Investigasi Kasus Dokter di Cianjur Meninggal Akibat Suspek Campak
- Ciri-Ciri Anak Kena Campak dan Cara Mencegahnya




