BANYU POS – JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan tekanan signifikan, menutup perdagangan Jumat (27/3/2026) di level Rp 16.980 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini mencerminkan pelemahan 0,45% dibandingkan hari sebelumnya, dan para analis memprediksi bahwa tren pelemahan rupiah ini masih akan berlanjut pada pekan mendatang.
Menurut pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, dinamika pergerakan rupiah merupakan hasil interaksi kompleks antara sentimen domestik dan global. Keduanya secara bersama-sama membentuk arah fluktuasi mata uang Garuda.
Dari lanskap domestik, momen Hari Raya Lebaran 2026 seharusnya menjadi pendorong utama aktivitas ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026, terutama melalui lonjakan konsumsi rumah tangga dan mobilitas masyarakat dalam arus mudik. Faktor-faktor ini secara tradisional memberikan stimulus signifikan.
Namun, Ibrahim menggarisbawahi bahwa dampak positif dari perayaan Lebaran tahun ini diperkirakan tidak akan sekuat tahun-tahun sebelumnya. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 hanya akan mencapai sekitar 5,4%, sedikit di bawah target pemerintah yang berada di kisaran 5,5%.
“Hal ini membuat dorongan pelaksanaan Hari Raya terhadap pertumbuhan ekonomi jadi lebih terbatas,” ujar Ibrahim, Jumat (27/3/2026).
IHSG Melemah 0,56% Dalam Sepekan, Simak Proyeksinya untuk Senin (30/3/2026)
Di sisi eksternal, sentimen pasar saat ini didominasi oleh ekspektasi inflasi tinggi di Amerika Serikat. Pada awal tahun, sebagian besar pelaku pasar masih optimistis akan adanya setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Namun, seiring perkembangan konflik global yang memanas dan hasil pertemuan bank sentral AS pada pertengahan Maret, ekspektasi tersebut bergeser drastis. Pasar mulai merekalibrasi pandangan mereka terhadap arah kebijakan moneter AS.
Pada Maret 2026, The Federal Reserve (The Fed) mengambil keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan mereka di kisaran 3,5% – 3,75%, sebuah langkah yang mengejutkan sebagian pihak yang berharap adanya sinyal pelonggaran.
Seluruh Sektor BEI Terkoreksi, Cermati Saham-Saham Pilihan Analis Berikut
Akibatnya, pelaku pasar mulai mengurangi “taruhan dovish” mereka, yakni pandangan terhadap kebijakan moneter longgar, dan beralih pada potensi kebijakan yang lebih ketat atau hawkish. “Sebaliknya, mereka memperkirakan pengetatan sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS, menurut Prime Market Terminal,” jelas Ibrahim, mencerminkan pergeseran fundamental dalam sentimen pasar.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun global yang saling bertaut, Ibrahim memprediksi bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut pada pekan depan. Terutama jika ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS tetap mengarah pada sikap yang hawkish atau ketat.
Untuk proyeksi jangka pendek dalam sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang yang lebih lebar, yakni antara Rp 16.880 hingga Rp 17.100 per dolar AS. Ini mengindikasikan volatilitas yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar.




