
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia menunjukkan tren pelemahan signifikan, tercatat anjlok sebesar 16,91 persen secara year to date (ytd) hingga tanggal 1 April 2026. Situasi ini mengindikasikan adanya tekanan yang cukup besar di pasar modal Indonesia.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan bahwa pasar modal Indonesia masih bergerak sangat dinamis, namun diwarnai oleh tingkat volatilitas tinggi. Fluktuasi IHSG yang tidak menentu ini, menurut Hasan, merupakan imbas dari tekanan sentimen yang bersumber dari tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas.
Demikian disampaikan Hasan saat memberikan keterangan dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, pada Kamis (2/4). Ia menegaskan, tekanan ini tidak hanya terkait dengan situasi geopolitik, tetapi juga merupakan cerminan dari eskalasi kondisi domestik dan global secara keseluruhan. “Ini tentu terkait juga dan seiring dengan tekanan geopolitik dan kondisi domestik dan global yang memang masih terus mengalami eskalasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hasan merinci bahwa per 1 April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan berada di level 7.184,44. Angka ini secara tegas menunjukkan adanya koreksi saham sebesar 16,91 persen secara year to date. Penting untuk dicatat, tekanan yang dirasakan oleh pasar saham bukan fenomena tunggal di Indonesia, melainkan tren global yang turut melanda hampir seluruh bursa saham, baik di kawasan regional maupun internasional. Hasan menekankan, “Tentu ini juga menunjukkan dan mencerminkan dinamika eksternal dibanding apa yang merupakan respons atas kondisi fundamental di domestik semata.” Ini berarti faktor-faktor eksternal jauh lebih dominan memengaruhi pergerakan pasar saham saat ini dibandingkan kondisi fundamental domestik.
Pasar Domestik Tetap Terjaga
Meski demikian, di tengah gejolak dan tekanan eksternal yang kian memanas, termasuk perang Iran-Israel dengan AS, Hasan Fawzi menyatakan optimisme terhadap daya tahan pasar domestik. Ia menegaskan bahwa resiliensi pasar domestik Indonesia sejauh ini masih dapat dipertahankan dan tetap terjaga. “Dan kami mengkonfirmasi bahwa sejauh ini resiliensi atau daya tahan dari pasar domestik kita masih dapat dan tetap terjaga,” pungkas Hasan, memberikan keyakinan akan fondasi ekonomi dalam negeri.
Optimisme ini didukung oleh data konkret. Hasan memaparkan bahwa aktivitas transaksi saham menunjukkan angka yang solid. Sepanjang Maret 2026, rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp 20,66 triliun, sebuah indikator kuat akan kepercayaan investor. Selain itu, likuiditas pasar juga tetap stabil, terlihat dari rentang spread bid dan ask yang berada di level 1,55 kali, menunjukkan efisiensi pasar yang terjaga.
Fungsi vital pasar modal sebagai penghimpun dana pun tetap berjalan optimal. Hingga akhir Maret 2026, total penghimpunan dana korporasi telah mencapai Rp 51,96 triliun, membuktikan peran strategisnya dalam mendukung pembiayaan dunia usaha. Tidak hanya itu, industri reksa dana juga menorehkan kinerja positif. Dalam kondisi pasar yang dinamis, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat mencapai Rp 695,71 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 3,02 persen secara year to date.
Hasan kembali menekankan pertumbuhan ini sebagai bukti ketahanan. “Dan kalau dilihat industri reksa dana misalnya di tengah-tengah kondisi ini pun masih tercatat tumbuh dengan NAB yang mencapai angka 695,71 triliun rupiah atau masih tercatat naik sebesar 3,02 persen secara year to date,” pungkasnya, menggarisbawahi kekuatan pasar domestik meskipun menghadapi tantangan global.




