
Sinyal Rebound IHSG, Musim Dividen dan Valuasi Murah Jadi Katalis
BANYU POS, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menguji area 7.150–7.200 pada pekan 6–10 April 2026. Namun, potensi ini dibayangi oleh tekanan jual yang masih kuat, dipicu dominasi sentimen global dan berlanjutnya arus keluar dana asing.
Para analis dari BRI Danareksa Sekuritas, yakni Reza Diofanda, Chory Agung, dan Abida Massi Armand, mencatat bahwa pada periode 30 Maret–2 April 2026, IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 1,59% ke level 7.026. Pelemahan ini turut disertai dengan aksi jual bersih oleh investor asing (net foreign sell) yang mencapai Rp4,77 triliun. Tekanan terhadap pasar saham tersebut sebagian besar dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran, yang mendorong investor untuk bersikap hati-hati atau risk off. Selain itu, isu domestik terkait saham dengan kepemilikan terkonsentrasi juga menjadi perhatian utama para investor belakangan ini.
Meskipun demikian, dalam proyeksi teknikal, tim riset BRI Danareksa Sekuritas tetap optimistis melihat peluang rebound IHSG masih terbuka. Kondisi ini bisa terwujud selama indeks mampu bertahan di atas level support krusial 6.950. Mereka menjelaskan, “IHSG berpotensi mengalami rebound selama masih mampu bertahan di area support 6.950, dengan kondisi saat ini yang menunjukkan konsolidasi dan pelemahan momentum bearish, sehingga membuka peluang kenaikan menuju 7.150–7.200.” Ini mengindikasikan adanya celah bagi IHSG untuk kembali menguat setelah fase tekanan.
Di sisi lain, kewaspadaan terhadap risiko penurunan lanjutan tetap menjadi prioritas bagi para investor. Analisis teknikal menunjukkan bahwa IHSG masih berada dalam pola descending triangle, yang secara gamblang mencerminkan dominasi tekanan jual di pasar saham. Menurut analis, “IHSG saat ini menunjukkan potensi bearish continuation dengan pola descending triangle, di mana tekanan jual masih dominan terlihat dari lower high dan MACD yang kembali melemah.” Skenario negatif ini akan semakin terkonfirmasi apabila IHSG kembali melemah di bawah level 6.950, membuka ruang bagi pelemahan yang lebih dalam dan signifikan.
Selain faktor teknikal, tekanan eksternal turut memberikan andil besar dalam dinamika IHSG. Penguatan dolar AS akibat eskalasi konflik global terus menekan nilai tukar rupiah, yang pada gilirannya dapat mendorong IHSG bergerak di bawah level 7.000, terutama jika disertai aksi jual asing (net foreign sell) yang masif. Analis memperingatkan bahwa pelemahan rupiah ini berpotensi berlanjut hingga menyentuh Rp17.500 pada tahun 2026, jika konflik global tidak kunjung mereda. Kondisi makroekonomi ini tentu akan berdampak serius pada pasar saham, di mana IHSG terancam bergerak di bawah level 7.000 dengan tekanan jual bersih asing yang signifikan.
Beralih ke ranah domestik, pasar akan mencermati implementasi delapan kebijakan penghematan nasional yang dicanangkan pemerintah sebagai respons strategis terhadap tekanan global. Kebijakan ini diproyeksikan mampu menghasilkan penghematan yang substansial, dengan perkiraan Rp6,2 triliun dari kebijakan Work From Home (WFH) Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Rp130 triliun dari efisiensi anggaran. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memberikan stabilitas di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi regulasi, langkah-langkah yang diambil oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam menuntaskan empat agenda penguatan transparansi pasar modal dinilai akan memberikan sentimen positif dalam jangka panjang. Namun, untuk jangka pendek, sentimen pasar cenderung mixed karena fokus investor masih tertuju pada eskalasi konflik di Iran. Empat agenda transparansi pasar modal yang telah diimplementasikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) meliputi penyediaan data kepemilikan saham di atas 1%, implementasi pengumuman High Shareholding Concentration (HSC), penguatan klasifikasi investor dalam data kepemilikan saham KSEI menjadi 39 kategori, serta kenaikan batas minimum free float menjadi 15%. Para analis menilai, “Dalam jangka panjang, langkah ini merupakan transformasi positif karena meningkatkan standar, transparansi, dan investability pasar Indonesia, sehingga membuka peluang peningkatan aliran dana asing dan deadline yang sudah diberikan oleh indeks global Mei 2026 ini.”
Meskipun demikian, terdapat kekhawatiran pasar terhadap saham–saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi atau free float yang terbatas, yang berisiko tidak memenuhi kriteria indeks global seperti MSCI. Pada pengumuman Kamis (2/4/2026), BEI telah merilis daftar sembilan saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan dominan sesuai metodologi mereka. Di antara saham–saham ternama yang masuk daftar ini adalah BREN, DSSA, AGII, dan RLCO, yang baru melantai di Bursa akhir tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan bahwa “IHSG berpotensi bergerak konsolidatif dengan bias terbatas, sambil menunggu perkembangan lebih lanjut,” ujar analis, menyiratkan bahwa pasar akan terus memantau dampak dari kebijakan transparansi dan respons terhadap saham–saham tersebut.
Menutup analisisnya, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi strategis bagi para investor. Mereka merekomendasikan saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) dengan target harga antara Rp2.500—Rp2.600. Selain itu, saham PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) direkomendasikan dengan target harga Rp1.910—Rp1.985, serta saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) dengan target harga Rp755—Rp805 per saham. Rekomendasi ini dapat menjadi panduan bagi investor yang mencari peluang di tengah volatilitas pasar.




