
BANYU POS – JAKARTA. Rupiah spot mencatat rekor baru yang kurang menguntungkan setelah ditutup pada level Rp 17.127 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (14/4/2026). Nilai tukar ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,13% dibandingkan dengan penutupan sehari sebelumnya yang berada di level Rp 17.105 per dolar AS. Posisi ini menandai penutupan kurs rupiah yang terlemah sepanjang masa, menggambarkan tekanan signifikan yang dihadapi mata uang domestik.
Dalam konteks pergerakan mata uang di kawasan Asia, kinerja rupiah terlihat menonjol. Pada sesi perdagangan sore yang sama, hanya rupiah dan dolar Hong Kong yang tercatat melemah terhadap dolar AS, dengan pelemahan masing-masing sebesar 0,13% dan 0,04%. Ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah mungkin lebih spesifik dibandingkan tren umum di wilayah tersebut.
Sebaliknya, mayoritas mata uang Asia lainnya justru menunjukkan penguatan yang solid melawan dolar AS pada sesi sore ini. Dolar Taiwan memimpin penguatan dengan melonjak 0,54%. Disusul oleh ringgit Malaysia yang terapresiasi 0,49%, peso Filipina menguat 0,47%, won Korea naik 0,30%, dan yen Jepang yang meningkat 0,25%. Tren positif juga terlihat pada yuan China dengan penguatan 0,19%, baht Thailand naik 0,09%, serta dolar Singapura yang menguat tipis 0,06% terhadap dolar AS, menunjukkan sentimen positif terhadap mata uang regional secara luas.
Pertamina Geothermal (PGEO) Kunci Tarif Listrik Proyek Lahendong, Siap Tahap Lanjut
Sementara itu, di pasar global, indeks dolar yang menjadi indikator nilai tukar dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, juga menunjukkan penurunan. Indeks dolar tercatat berada di level 98,22, menurun dari posisi sehari sebelumnya yang mencapai 98,36. Penurunan indeks dolar ini mencerminkan adanya sedikit pelemahan pada dolar AS secara keseluruhan di pasar internasional, meskipun tidak cukup untuk menopang kinerja rupiah yang masih tertekan.




