Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen pada tahun 2026. Angka ini, meskipun sedikit lebih rendah dari proyeksi sebelumnya dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi Januari 2026 yang sebesar 5,1 persen, tetap menunjukkan prospek yang kuat. Di tengah ketidakpastian global yang melanda, ekonomi Indonesia dinilai masih relatif tangguh dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, seperti Filipina yang diproyeksikan tumbuh 4,1 persen, sementara India tetap menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 6,5 persen.
Laporan WEO edisi April 2026 dari IMF juga menyoroti bahwa kondisi ekonomi global sedang menghadapi tekanan signifikan. Hal ini terutama disebabkan oleh konflik geopolitik yang memicu gangguan krusial pada rantai pasok energi. Insiden seperti penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas produksi energi menjadi faktor pendorong utama yang memperburuk prospek jangka pendek ekonomi dunia.
IMF menggarisbawahi bahwa tanpa adanya perang, aktivitas ekonomi global sebenarnya berpotensi tetap berada di jalur stabil pada tahun 2026, ditopang oleh ketahanan ekonomi di berbagai negara. Namun, seperti yang tertulis dalam laporan World Economic Outlook April 2026, “konflik yang berlangsung saat ini menambah ketidakpastian dan menekan prospek pertumbuhan,” dikutip Rabu (15/4). Pernyataan ini menegaskan dampak langsung konflik terhadap dinamika ekonomi global.
Dalam skenario dasar (baseline) yang disusun, IMF berasumsi bahwa konflik hanya akan berlangsung singkat, yakni beberapa minggu ke depan, sebelum pemulihan bertahap terjadi hingga pertengahan tahun 2026. Meskipun demikian, lembaga tersebut juga memberikan peringatan tegas mengenai adanya risiko skenario yang lebih buruk. Risiko ini akan terwujud apabila konflik berlangsung lebih lama dan intensitasnya semakin meningkat, yang berpotensi menimbulkan dampak yang lebih parah terhadap stabilitas global.
Lebih lanjut, dari sisi ekonomi global secara keseluruhan, IMF memperkirakan terjadi perlambatan. Pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan melambat menjadi 3,1 persen pada tahun 2026, turun dari 3,4 persen pada tahun 2025. Perlambatan ini terjadi di tengah kenaikan harga komoditas energi yang diperkirakan melonjak hingga 19 persen pada tahun 2026. Harga minyak bahkan diproyeksikan naik 21,4 persen akibat gangguan produksi dan distribusi di kawasan Timur Tengah, dengan rata-rata harga mencapai USD 82 per barel.
Lonjakan harga energi ini turut mendorong kenaikan harga pangan global, seiring dengan meningkatnya biaya energi, pupuk, serta terganggunya jalur logistik global. IMF juga mencatat adanya ketimpangan dampak antarnegara; negara berpendapatan rendah yang sangat bergantung pada impor energi diperkirakan akan terdampak lebih berat akibat lonjakan harga dan pelemahan nilai tukar mata uang. Sebaliknya, negara-negara pengekspor energi cenderung lebih diuntungkan dari situasi ekonomi global saat ini.




