BANYU POS – , JAKARTA — Sejumlah emiten di pasar modal berancang-ancang melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai jumbo. Meski menarik, pelaksanaan buyback juga memiliki risiko yang patut dicermati investor.
Rencana buyback terbaru diumumkan oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI). AADI menyiapkan dana jumbo hingga Rp5 triliun untuk melakukan buyback.
AADI akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 22 Mei 2026. Jika disetujui, pelaksanaan buyback dapat dimulai sehari setelahnya dan berlangsung hingga 12 bulan ke depan.
: Adaro Andalan (AADI) Mau Buyback Saham, Siap Guyur Rp5 Triliun
Langkah ini muncul di tengah belum terealisasinya program pembelian kembali saham periode 2025 yang saat itu sebesar Rp4 triliun. Perseroan mencatat tidak ada pelaksanaan buyback sejak 23 Mei 2025 hingga 31 Maret 2026, meskipun telah mengantongi restu pemegang saham sebelumnya.
Manajemen AADI menyebutkan, aksi korporasi ini bertujuan menjaga likuiditas perdagangan saham sekaligus mendorong harga saham agar mencerminkan nilai fundamental perseroan. Selain itu, buyback diharapkan meningkatkan kepercayaan investor dan memberikan tingkat pengembalian yang optimal bagi pemegang saham.
: : Indocement (INTP) Siap Guyur Rp750 Miliar Buat Aksi Buyback Saham
Perseroan memastikan pelaksanaan buyback tidak akan mengganggu kondisi keuangan. Dana yang digunakan seluruhnya berasal dari kas internal, dengan dukungan saldo laba dan arus kas yang dinilai memadai.
Secara proforma, aksi ini diperkirakan akan meningkatkan laba per saham. Dengan asumsi penggunaan dana maksimal Rp5 triliun, laba per saham dasar naik dari 0,09762 menjadi 0,10401, meski total aset dan ekuitas akan tergerus masing-masing sekitar US$292 juta.
: : Saham ASLC Masih Undervalued, Autopedia Lestari Akan Buyback Saham
Perseroan juga menegaskan jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melampaui 10% dari modal ditempatkan dan tidak mengurangi kekayaan bersih di bawah batas minimum yang dipersyaratkan regulasi.
Di sisi lain, emiten Grup Astra PT United Tractors Tbk. (UNTR) juga berencana melakukan buyback, dengan menyiapkan dana sebesar Rp2 triliun. Buyback ini dilakukan UNTR dalam periode 1 April hingga 30 Juni 2026.
Sekretaris Perusahaan UNTR Ari Setiyawan menjelaskan saat ini posisi free float UNTR masih berada pada kisaran 30,05%, yang menurutnya masih cukup aman untuk melakukan buyback.
“Free float tentunya kami pertimbangkan ya, sejauh ini free float di market masih cukup besar,” tutur Ari, Kamis (16/4/2026).
Adapun UNTR sebelumnya telah melakukan pembelian kembali saham sebesar Rp1,05 triliun pada periode buyback sebelumnya. UNTR telah membeli sebanyak 36.406.300 saham selama periode buyback tersebut.
United Tractors Tbk. – TradingView
Di sisi lain, emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) juga berencana melakukan buyback dengan nilai Rp500 miliar. Buyback ini dilakukan pada 2 April hingga 2 Juli 2026.
Corporate Secretary KLBF, Maria Teresa Fabiola mengatakan biaya pelaksanaan buyback diperkirakan mencapai 0,1% dari total nilai transaksi. Seluruh pembelian akan dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan jasa perantara pedagang efek. Dari sisi pendanaan, Kalbe Farma akan menggunakan dana internal.
KLBF menuturkan harga pelaksanaan buyback akan mempertimbangkan kondisi pasar dan ketentuan regulator. Perseroan juga membuka ruang untuk mengakhiri periode lebih cepat dengan memperhatikan dinamika pasar dan peraturan yang berlaku.

Katalis Sementara
Aksi pembelian kembali saham ini diperkirakan akan memberikan katalis positif bagi emiten-emiten terkait yang melakukan buyback.
Analis sekaligus Ketua Perhimpunan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto melihat buyback bisa membantu sentimen saham, karena memberi pesan bahwa manajemen melihat valuasi saham sudah menarik.
“Di tengah pasar yang fluktuatif, ini bisa jadi semacam penopang harga,” ucap David, Jumat (17/4/2026).
Akan tetapi, lanjutnya, investor perlu tetap mengingat jika buyback bukan solusi utama. Menurutnya, apabila fundamental perusahaan kuat, efeknya bisa cukup positif.
Akan tetapi, jika fundamental emiten tersebut tidak terlalu kuat, maka buyback hanya akan memberi dorongan jangka pendek saja.
“Untuk emiten seperti United Tractors, Indocement, dan Kalbe, buyback-nya relatif lebih menarik karena didukung kondisi kas yang sehat. Jadi pasar biasanya melihatnya lebih kredibel,” ujar David.
David juga melihat buyback bisa berpengaruh untuk mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi dengan dampak yang terbatas. Hal ini karena IHSG tetap lebih dipengaruhi faktor besar seperti sentimen global, aliran dana asing, dan sektor perbankan.
Dari sisi risiko, David mengungkapkan investor perlu hati-hati melihat tujuan buyback itu sendiri.
“Apakah memang karena valuasi murah, atau sekadar menjaga harga. Selain itu, penggunaan kas untuk buyback juga bisa berdampak ke ruang ekspansi atau dividen ke depan,” kata dia.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan buyback yang dilakukan sejumlah emiten bukan untuk menaikkan harga secara permanen, tetapi merupakan downside protection untuk menahan koreksi harga. Sama seperti David, Wafi juga menyebut buyback dilakukan untuk memberi sinyal dari manajemen bahwa saham sedang undervalued.
“Paling menarik dicermati buyback AADI karena didukung dana jumbo pasca-divestasi Kestrel, dan UNTR dengan arus kas operasional sangat kuat,” ucap Wafi, Jumat (17/4/2026).
Wafi juga melihat dampak buyback terhadap IHSG cukup terbatas. Menurutnya, sejumlah buyback jumbo masih tidak cukup untuk mengangkat arah IHSG.
“Tren IHSG tetap didominasi oleh pergerakan saham big caps dan sentimen makro,” ucapnya.
Adapun untuk buyback ini, Wafi menilai terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, seperti risiko eksekusi dengan nilai realisasi buyback sering jauh lebih kecil dari target maksimal yang diumumkan.
Lalu opportunity cost karena penggunaan kas untuk buyback berarti mengurangi dana yang bisa digunakan untuk ekspansi bisnis atau pembagian dividen, serta risiko koreksi pasca-buyback.
Kalbe Farma Tbk. – TradingView
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




