Rupiah melemah tekan margin, seleksi saham kesehatan jadi kunci

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut hingga menyentuh kisaran Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat kini memunculkan bayangan tantangan serius bagi sektor kesehatan. Meskipun permintaan layanan medis tetap kokoh dan relatif stabil, tekanan signifikan justru datang dari sisi biaya operasional.

Advertisements

Menurut Hendra Wardana, seorang pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, karakter defensif sektor kesehatan dari sisi permintaan memang tidak dapat disangkal. Namun, beliau menekankan bahwa hantaman terberat saat ini justru berasal dari lonjakan biaya. “Secara struktur sektor ini defensif dari sisi demand, tetapi pelemahan rupiah menjadi tantangan besar dari sisi biaya, sehingga margin laba berisiko tergerus,” ujarnya kepada Kontan pada Selasa (21/4/2026).

Implikasi dari tekanan biaya ini, menurut Hendra, terlihat pada pergerakan indeks sektoral kesehatan (IDXHEALTH) yang cenderung stagnan. Fenomena ini bukan karena merosotnya pendapatan, melainkan akibat tekanan yang signifikan terhadap profitabilitas perusahaan-perusahaan di dalamnya.

Sektor farmasi menjadi salah satu segmen yang paling rentan terhadap guncangan ini. Ketergantungan yang masif terhadap impor bahan baku aktif, atau active pharmaceutical ingredients (API), menjadi penyebab utamanya. Dengan proporsi mencapai 80% hingga 90% bahan baku farmasi yang masih didatangkan dari luar negeri, pelemahan rupiah secara langsung memicu kenaikan cost of goods sold (COGS) dan berujung pada erosi margin laba.

Advertisements

Ironisnya, kenaikan biaya produksi ini tidak serta merta dapat diteruskan sepenuhnya kepada konsumen melalui penyesuaian harga jual. Terutama, produk obat generik yang harga jualnya diatur ketat oleh pemerintah, membuat emiten farmasi memiliki ruang gerak yang sangat terbatas untuk menjaga margin.

Tidak hanya farmasi, operasional rumah sakit juga ikut merasakan dampaknya. Mereka dihadapkan pada lonjakan biaya pengadaan alat kesehatan, obat-obatan, serta biaya perawatan peralatan medis yang mayoritas masih mengandalkan impor.

Profitabilitas rumah sakit berpotensi tergerus signifikan, terutama bagi fasilitas kesehatan dengan porsi pasien BPJS yang besar. Hal ini disebabkan terbatasnya ruang untuk penyesuaian tarif layanan yang telah diatur. Berbeda dengan itu, rumah sakit yang melayani segmen menengah ke atas justru menunjukkan resiliensi yang lebih tinggi, berkat fleksibilitas mereka dalam menaikkan tarif layanan.

Guna meredam dampak pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas margin, emiten sektor kesehatan umumnya menerapkan berbagai strategi mitigasi. Ini mencakup efisiensi operasional yang ketat, optimalisasi rantai pasok, dan praktik lindung nilai atau natural hedging. Tak hanya itu, perusahaan juga mulai mengambil langkah penyesuaian harga jual secara bertahap, khususnya untuk produk non-subsidi dan layanan di luar skema BPJS, serta berupaya meningkatkan porsi layanan dengan margin yang lebih tinggi.

Melihat kompleksitas situasi ini, Hendra Wardana menekankan urgensi untuk melakukan seleksi saham yang cermat di sektor kesehatan. Ia merekomendasikan fokus pada emiten yang memiliki pricing power kuat, tingkat efisiensi operasional yang tinggi, serta eksposur impor yang berhasil dikelola dengan baik. “Emiten dengan pricing power kuat, efisiensi tinggi, dan eksposur impor yang terkelola akan lebih defensif di tengah pelemahan rupiah,” pungkasnya.

Secara spesifik, Hendra menyoroti saham-saham rumah sakit seperti SILO dan HEAL yang dinilai tetap menarik. Keduanya didukung oleh segmen premium dan efisiensi operasional yang solid. Lebih lanjut, SAME dipandang memiliki potensi turnaround, meskipun disertai profil risiko yang lebih tinggi, sementara PRDA menawarkan model bisnis laboratorium dengan margin keuntungan yang relatif stabil.

Dengan analisis teknikal, Hendra juga mengamati bahwa peluang trading masih terbuka lebar pada sejumlah saham tersebut, asalkan investor menerapkan pendekatan yang selektif dan hati-hati dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah yang bergejolak.

Advertisements

Also Read

Tags