Profil M Qodari, pakar politik yang tiga kali dilantik Prabowo di pemerintahan

Hikma Lia

Presiden Prabowo Subianto melantik Muhammad Qodari menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) di Istana Merdeka Jakarta pada Senin (27/4). Ia dilantik bersamaan dengan lima pejabat baru lainnya.

Advertisements

Jabatan Qodari sebelumnya yakni Kepala Staf Kepresidenan (KSP) kini diduduki oleh Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman. Dudung juga masih tetap menjabat sebagai penasihat khusus presiden bidang pertahanan nasional.

Pelantikan Qodari kali ini merupakan yang ketiga baginya selama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut jabatannya saat ini menjadi tantangan tersendiri karena harus merumuskan pola komunikasi pemerintah ke depan. Qodari menilai hal tersebut tidak lepas dari perubahan lanskap media dalam satu hingga dua dekade terakhir, di mana kehadiran media sosial kini juga berperan layaknya pers.

Ia berpendapat pekerjaan rumah terbesar di bidang komunikasi pemerintah terletak pada banyaknya program prioritas presiden yang dinilai masif dan fundamental. “Media sosial pada hari ini juga sebagian berperilaku seperti pers, tetapi dengan regulasi yang mungkin berbeda dengan teman-teman yang ada di pers. Dan pada titik itu, tentu ini suatu tantangan tersendiri. Apa dan bagaimananya, tentu nanti kami akan pikirkan ke depan,” kata Qodari dalam konferensi pers setelah pelantikan.

Advertisements

Baca juga:

  • Abdul Kadir Kading Sempat Dicopot Prabowo, Kini Janji Perketat Karantina
  • Jadi Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat Janji Benahi Penanganan Sampah
  • Profil Dudung Abdurachman, Mantan KSAD Kini Pimpin KSP

Qodari sebelumnya menduduki kursi KSP pada 17 September 2025 menggantikan Anto Mukti Putranto. Qadari lebih dulu merupakan Wakil KSP sejak 21 Oktober tahun lalu.

Sebelum masuk di lingkup pemerintah, Qodari dikenal sebagai seorang pengamat politik sekaligus peneliti di Lembaga Survei Indonesia (LSI), Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Center for Strategic dan International Studies (CSIS) hingga mendirikan lembaga survei dan menjabat sebagai Direktur Eksekutif Indo Barometer.

Dengan keahliannya di bidang politik, ia kerap menjadi narasumber dan pemateri di berbagai media nasional di Indonesia. Qodari pernah menjadi pimpinan relawan Ketua Umum Gerakan Sekali Putaran yang menjagokan pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada pemilihan presiden (Pilpres) 2024 lalu.

Qodari juga pernah aktif di dalam Komunitas Jokowi-Prabowo (JakPro) 2024. JakPro merupakan relawan yang menggaungkan narasi Jokowi tiga periode.

Total Kekayaan Rp 261,9 Miliar

Qodari memiliki total kekayaan senilai Rp 261,9 miliar dalam laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) yang disampaikan pada 19 Januari 2025  saat masih menjabat sebagai Wakil KSP.

Ia memiliki 176 tanah dan bangunan dengan nilai Rp 182,7 miliar yang tersebar di sejumlah daerah seperti Jakarta, Bogor, Palangkaraya, Depok, Lombok Utara, Sukabumi, Bandar Lampung, Balikpapan. 

Qodari juga tercatat memiliki dua bidang tanah di Pulau Pisang, Lampung, masing-masing seluas 15.100 m2 dan 1.278 m2. Adapun dengan nilai tertinggi yakni tanah dan bangunan hasil sendiri seluas 97 m2/302 m2 di Jakarta Selatan seharga Rp 12,1 miliar.

Selain itu, Qodari juga tercatat memiliki alat transportasi dan mesin senilai Rp 933 juta.  Antara lain terdiri dari Mobil Toyota Kijang Innova tahun 2018 senilai Rp 284 juta, Mobil Neta V-II tahun 2024 senilai Rp 299 juta, Motor Honda CMX500 Rebel tahun 2020 seharga Rp 150 juta dan Mobil Wuling Air EV Long Range tahun 2022 senilai Rp 200 juta.

Lebih jauh, Qodari juga tercatat memiliki harga bergerak lainnya senilai Rp 9,8 miliar, surat berharga Rp 475 juta, serta kas dan setara kas Rp 70,7 miliar hingga harta lainnya sejumlah Rp 11,1 juta. Selain itu, ia juga melaporkan kepemilikan hutang senilai Rp 2,8 miliar.

Riwayat Pendidikan

Qodari menyelesaikan pendidikan S-3 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politk Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 2016. Sebelumnya, ia menempuh studi S-1 program studi Psokologi Sosial Universitas Indonesia (UI) pada 1992-1997. Kemudian ia melanjutkan S-2 Bidang Political Behaviour di University of Essex, Inggris pada Oktober 2001 – September 2002.

Advertisements

Also Read

Tags