Menyelami makna filosofi Legiun Mangkunegaran dalam jamuan royal dinner 2026

Hikma Lia

Perayaan Ulang Tahun Pura Mangkunegaran ke-269 di Solo, yang dikenal sebagai Adeging Mangkunegaran, selalu diwarnai dengan gelaran istimewa berupa Royal Dinner. Jamuan berkelas ini bukan sekadar santapan mewah, melainkan sebuah perjalanan filosofis yang terangkum dalam setiap hidangan warisan yang disajikan.

Advertisements

Gusti Raden Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo, atau akrab disapa Gusti Sura, mengungkapkan bahwa Adeging Mangkunegaran tahun ini jatuh pada Tahun Dal dalam siklus penanggalan Jawa, sebuah periode yang melambangkan tantangan. “Ini kita wujudkan dalam tema keprajuritan. Mangkunegaran melambangkan semangat ini dengan ikon kuda,” jelas Gusti Sura di Pamedan Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, pada Jumat (1/5).

Royal Dinner Mangkunegaran kali ini diselenggarakan pada Sabtu (2/5) malam, menjadi salah satu puncak perayaan ulang tahun Pura Mangkunegaran. Acara prestisius ini merupakan buah kolaborasi antara Katadata dan Yayasan CNC, dengan dukungan utama dari Permata Bank sebagai mitra strategis.

Dalam filosofi Windu Jawa, Tahun Dal bukan hanya deretan angka dalam penanggalan, melainkan sebuah fase krusial untuk penempaan diri. Diibaratkan seekor kuda pilihan, ketangkasan dan kekuatan sejati tidaklah datang begitu saja, melainkan lahir dari disiplin dan latihan yang teguh. Melalui tujuh rangkaian hidangan yang disuguhkan, sekitar 150 tamu undangan khusus diajak mendalami filosofi Legiun Mangkunegaran, sebuah simbol manusia yang memahami kapan saatnya melesat cepat dan kapan harus tenang mengamati tujuan.

Advertisements

Pembuka: Ketangkasan dan Ketekunan

Perjalanan kuliner filosofis ini diawali dengan canape savory bernama Sosis Solo Deconstructed. Hidangan ini hadir dengan lugas, menyerupai kavaleri yang melesat cepat, dibungkus crispy crepe hasil teknik dehidrasi yang membungkus ayam rempah santan kental, melambangkan langkah awal yang terarah dan penuh perhitungan. Sebagai penyeimbang rasa, Pura Mangkunegaran juga menyajikan canape sweet Madumongso Sphere. Dengan sentuhan teknik spherification modern, bahan dasar tape ketan hitam ini mengingatkan bahwa kemenangan sejati tak pernah instan. Diperlukan kesabaran dalam proses fermentasi, selayaknya waktu yang mematangkan jiwa manusia.

Appetizer: Api Penempaan

Memasuki menu pembuka selanjutnya, Dendeng Age Buntel hadir dengan tampilan menyerupai tapal kuda besi yang sedang dipanaskan. Daging cincang berempah yang dibungkus lemak jala ini adalah simbol disiplin dan batasan ketat yang harus dimiliki seorang prajurit Legiun. Proses pembakaran di atas arang menjadi api penempaan yang meneguhkan arah perjuangan mereka. Dendeng age dimasak perlahan dengan divakum untuk melunakkan daging, dipadukan dengan saus glaze dari karamelisasi gula jawa dan ketumbar sangrai yang kental. Untuk menyempurnakan cita rasa, sambal rujak nanas terasi turut dihadirkan.

Bersamaan dengan itu, disajikan pula Herbal Salad Urap Udang, cerminan ketangguhan fisik prajurit. Udang, sebagai simbol kelincahan, dipadukan dengan granita bumbu urap serta ramuan herbal kencur dan daun pepaya, merupakan penghormatan bagi bahan lokal sederhana yang diangkat menjadi sajian agung. Jamuan berlanjut pada Pindang Ayam Bening, dengan kuah kuning keemasan yang diklarifikasi hingga jernih, melambangkan kemurnian niat dan semangat Legiun yang tak pernah padam di tengah dinginnya malam perjuangan.

Inti Perjamuan: Konsistensi Langkah

Puncak narasi kuliner malam itu tertuang dalam hidangan utama Slow Cooked Beef Sauce Kluwek. Beef Short Ribs yang dimasak sous-vide selama 48 jam ini adalah metafora penempaan yang sempurna. Daging yang semula keras, menjadi sangat lembut karena konsistensi waktu dan suhu yang tepat, layaknya langkah kuda yang terarah menuju tujuan bermakna. Saus kluwek yang hitam dan pekat melambangkan fase penempaan diri yang keras, namun kaya akan makna mendalam.

Penutup: Refleksi dan Kerendahan Hati

Sebagai penutup siklus, hadir Mousse Tape Singkong. Dengan menggunakan bahan dasar yang berasal dari rakyat jelata namun diangkat kelasnya, hidangan ini melambangkan kerendahan hati seorang ksatria sejati. Tekstur mousse yang ringan, dipadukan dengan meringue jahe dan coulis nangka, memberikan ruang tenang untuk refleksi atas segala ketekunan dan perjuangan yang telah dijalani.

Royal Dinner Mangkunegaran kali ini bukan sekadar perjamuan kuliner yang memanjakan lidah, melainkan sebuah penghormatan mendalam terhadap sejarah, disiplin, dan langkah tak tergoyahkan yang menjadi jiwa Pura Mangkunegaran.

Advertisements

Also Read

Tags