IHSG rebound ke 7.174, peluang bullish terbuka jika konflik global mereda

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa impresif dengan melanjutkan tren penguatan yang signifikan dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Kebangkitan optimisme di kalangan pelaku pasar menjadi pendorong utama, terutama seiring dengan meredanya ketegangan geopolitik global dan membaiknya sentimen di tingkat regional.

Advertisements

Berdasarkan laporan terbaru, IHSG berhasil ditutup menguat sebesar 81,85 poin atau setara dengan 1,15%, mencapai level 7.174,32 pada akhir sesi perdagangan Kamis (7/5/2026). Penguatan ini memicu harapan besar bahwa pasar saham domestik berpeluang kembali memasuki fase tren bullish yang kokoh. Kondisi positif ini sebagian besar disokong oleh persepsi risiko global yang membaik, khususnya terkait dinamika konflik di Timur Tengah.

Hans Kwee, seorang Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana, mengidentifikasi bahwa sentimen positif pasar saat ini bersumber dari ekspektasi deeskalasi konflik geopolitik. Ia menilai bahwa pasar mulai melihat indikasi bahwa Amerika Serikat tidak lagi melanjutkan tekanan agresif terhadap Iran, yang secara tidak langsung turut meredakan ketegangan di kawasan strategis tersebut. Sebagai respons atas sinyal deeskalasi di Timur Tengah, nilai tukar Rupiah bahkan turut menguat hingga Rp 17.333 per Dolar AS pada Kamis (7/5).

“Indonesia, sebagai salah satu emerging market, memang sempat mengalami koreksi yang cukup dalam dibandingkan bursa-bursa lain sebelumnya. Oleh karena itu, jika deeskalasi konflik ini benar-benar terwujud, pasar kita akan segera bangkit dan memulihkan kerugian yang terjadi,” jelas Hans Kwee saat dihubungi Kontan pada Kamis (7/5/2026).

Advertisements

Selain faktor eksternal, Hans Kwee juga menekankan bahwa fundamental pasar domestik tetap menunjukkan kekuatan yang solid. Hal ini tercermin dari kinerja sejumlah emiten di sektor energi dan perbankan yang masih sangat tangguh, menjadi tulang punggung yang menopang pemulihan IHSG di tengah gejolak global.

Meskipun demikian, investor tetap dihimbau untuk selalu mencermati berbagai risiko yang masih berpotensi membayangi pasar. Risiko utama yang paling menonjol dinilai masih berasal dari perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama yang berkaitan dengan jalur perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz. Jika jalur vital tersebut tidak dapat kembali normal dalam jangka waktu yang panjang, Hans memperingatkan adanya potensi gangguan serius pada pasokan minyak global, yang pada akhirnya dapat memicu krisis energi berskala dunia.

“Karena rata-rata negara hanya memiliki cadangan minyak strategis untuk tiga bulan. Jika situasi ini berlanjut lebih dari tiga bulan, itu akan menjadi masalah besar,” tegas Hans Kwee, menyoroti urgensi situasi tersebut.

Di samping itu, Hans juga mengingatkan para investor mengenai pola musiman perdagangan pada bulan Mei yang secara historis cenderung negatif, sering disebut sebagai efek “Sell in May”. Selain itu, pasar juga masih menanti kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah tingginya kebutuhan subsidi energi. Ia menyarankan pemerintah untuk melakukan efisiensi pada sejumlah program prioritas, seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), demi menjaga ruang fiskal agar tetap sehat dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

Dalam kondisi pasar saat ini, Hans Kwee menilai bahwa sektor perbankan masih sangat menarik untuk diperhatikan. Menurutnya, valuasi saham-saham bank besar sudah relatif murah sehingga masih sangat layak untuk dikoleksi oleh investor. Beberapa saham perbankan berkapitalisasi jumbo yang direkomendasikan antara lain BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI.

Sementara itu, prospek saham-saham di sektor energi diperkirakan berpotensi mengalami tekanan jika konflik di Timur Tengah benar-benar mereda dan harga komoditas energi menunjukkan penurunan. Namun, di tengah ketidakpastian global yang masih ada, Hans juga menyoroti saham-saham di sektor emas yang masih menawarkan prospek jangka panjang menarik sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Sejumlah saham yang direkomendasikan di antaranya ANTM, BRMS, dan ARCI.

Untuk proyeksi IHSG ke depan, Hans Kwee optimis bahwa peluang tren bullish masih terbuka lebar, asalkan eskalasi konflik global terus mereda. Ia bahkan memperkirakan IHSG berpotensi kembali menyentuh level psikologis 8.000 pada akhir semester I-2026, menandakan potensi pemulihan yang kuat bagi pasar modal Indonesia.

Advertisements

Also Read

Tags